Kisah Ulama Terdahulu Dalam Memahami Al-Qur’an dan Sunnah

Tsaqafah.id Imam as-Syafi’i adalah seorang ahlul qur’an, seolah Alquran adalah satu baris di hadapannya. Suatu ketika, beliau berkunjung ke kediaman Imam Ahmad Ibn Hanbal. Imam Ahmad sangat menghormati Imam Syafi’i. Putri Imam Ahmad pun terperangah sebab rasa hormat itu. Putri Imam Ahmad mengamati ibadah Imam Syafi’i di malam harinya, lalu ia tahu ternyata setelah Imam Syafi’i melakukan ibadah shalat Isya’, beliau tidak melanjutkan dengan shalat malam. Lalu putri Imam Ahmad berkata pada ayahnya, bahwa kenapa orang yang ayahnya puji-puji tidak melakukan shalat malam. Pada zaman ulama terdahulu shalat malam bagi mereka adalah sesuatu yang harus dilakukan. 

Imam Syafi’i  mendengar penuturan putri Imam Ahmad, lalu berkata, “Putriku, semalam aku tidak tidur, aku membaca Alquran, mencari solusi problem dan permasalahan umat islam.”

Maksudnya bahwa Imam Syafi’i tidak tidur semalaman, Alquran seolah satu baris di hadapan beliau, beliau membaca dengan hatinya. Mengkhatamkan di siang harinya dan sekali di malam hari. Ketika membaca kisah ini mungkin kita tidak percaya, bagaimana bisa manusia mencapai derajat demikian?

Baca juga: Kisah Imam Malik dan Sengatan Kalajengking

Syekh Ali Jum’ah, Guru Besar Ushul Fikih Universitas Al-Azhar dan Mufti Besar Mesir (2003-2013), menceritakan sebuah kisah dirinya ketika bersama dengan gurunya Syekh Ismail al-Hamdani, seorang ulama besar dan pakar Ilmu Qiraah.   Syekh Ismail al-Hamdani rahimahullahu ta’ala, orang-orang membaca Alquran di sekelilingnya. Sebanyak 4 murid, ada yang membaca surah al-Furqan, ada yang membaca surah Ali Imran, ada yang membaca Juz ‘Amma, ada yang membaca surah Thaha. Lalu beliau mengoreksi semuanya. Beliau Syekh Ismail al-Hamadani duduk dengan keadaannya yang tidak akan dipercaya kecuali oleh orang yang melihatnya langsung.

Syekh Ismail al-Hamdani tidak hanya mengoreksi sekali saja. Lalu beliau memandang Syekh Ali, seolah tahu apa yang Syekh Ali katakan dalam hati, lalu beliau berkata. “Syekh Ali, demi Allah, semenjak 40 tahun yang lalu aku tidak memandang mushaf,” lalu Syekh Ali Jum’ah berkata, “junjunganku, memandang mushaf adalah ibadah,” “Alquran tidak pergi dariku, Alquran seolah satu baris di depanku, silakan uji aku,” ungkap Syekh Ismail. “Tanyakan padaku, dalam Alquran ada berapa kata Aziz Rahim?, akan kujawab pertanyaan itu,” lanjut Syekh Ismail.

Akhirnya Syekh Ali Jum’ah berkata bahwa apa yang akan diujikan padanya, beliau mempercayai Syekh Ismail. Lalu Syekh Ali Jum’ah melanjutkan, suatu ketika . . . . . . Syekh Ali masuk Al-Azhar Syarif, Syekh Ismail menyandarkan punggung mulianya ke Riwaq (serambi) al-Atrak. Jarak Syekh Ali dan Syekh ismail sekitar 100 meter. Lalu syekh Ali berpikir dan berkata, “ya Tuhan, beliau ini punya koreksi Syekh Muhammad Mutawalli al-Kabir. Ini adalah puncak pencapaian spesialisasi keilmuan. Lantas kenapa keadaannya Engkau jadikan sulit? sebab ekonomi beliau susah, dan Allah Swt jadikan beliau disini, sebagai ganti dari istana indah, para pembantu dan harta dunia yang banyak. 

Syekh Ismail berkata, “wahai Syekh Ali, demi Allah, andai Dia (Allah) memberiku rizki 300 pound (saja) dalam sebulan, aku pasti tidak duduk begini (dalam keilmuan).”

“Memang mau kemana?” tanya Syekh Ali,

“Menuju beragam kenikmatan hidup,” jawab Syekh Ismail.

“Baik, tetaplah disini, Tuhan kita Pemurah, engkau akan mendapatkan surga, kata Syekh Ali.

“Iya, Allah tidak menghisabku, ujar Syekh Ismail.

sebab kerasnya yang engkau lihat di dunia ini. Ini dengan sanad yang menyambung pada para imam yang mulia. 

Baca juga; Kisah Mbah Hamid dan Pemuda yang Menjaga Air dalam Gelas

Ibu Imam Syafi’i mengirimnya ke pelosok untuk mempelajari tutur kata orang arab. al-Ashma’i mengoreksi syair-syair buku Huzail kepada Imam Syafi’i. 

“Bacakan syair Suku Huzail, kemari dan jelaskan kepadaku jika engkau memahami sesuatu darinya,” kata al-Ashma’i.

Al-Ashma’i adalah pemimpin besar dalam bidang bahasa, namun imam Syafi’i lebih tinggi darinya. pengetahuan atas Alqur’an, hadis, sanad, bahasa arab, dan atas ungkapan ulama sebelum para imam ini. Atas ijma dan hal-hal yang menjadi ijma ulama. dan atas kemampuan fikih, yang membuat Imam Syafi’i mampu menuliskan kitab Ar-Risalah tentang ushul fiqih. semua itu mengantarkan mereka menjadi salaf salih (pendahulu yang baik) bagi kita. 

Ketika kita merenungi ungkapan Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm, kita akan heran bagaimana bisa sedalam ini. Dan apakah ilmu mendalam ini ada dalam pikiran Imam Syafi’i, bagaimana bisa?  yang demikian itu hanya terjadi sebab pertolongan Allah Swt, oleh karena itu akan engkau ketahui bahwa para pencetus mazhab syariat yang masih terjaga sampai sekarang, mereka mempunyai sanad. Ada sanad Imam Syafi’i, sanad Imam Malik, sanad Imam Abu Hanifah, sanad Imam Ahmad, sanad Imam Ja’far Shadiq, sanad Imam Zaid ibn Ali dan seterusnya. 

*Kisah ini disarikan dari kajian Syekh Ali Jum’ah 

Baca juga: Mukjizat dalam al-Qur’an (1): Kemenangan Kerajaan Romawi atas Persia

Total
0
Shares
Previous Article

Kisah Perjalanan Abu Bakar As Syibli Bersama Pemuda Nasrani Ke Tanah Suci

Next Article

Rutinitas dan Kebermaknaan di Titimangsa Pandemi

Related Posts