Macapat dan Pesan Religiusitas


Tsaqafah.id – Tembang macapat merupakan tembang yang konon berasal dari kata “macane papat-papat” (membacanya empat-empat). Kata tembang sebagai “nyanyian” bersinonim dengan kidung, kakawin dan gita. Ketiga kata itu sudah dikenal sejak terciptanya karya sastra Jawa kuno, sedangkan tembang macapat berasal dari Jawa madya atau Jawa baru.  Tembang macapat adalah puisi tradisional yang cara pengungkapannya berbentuk tembang/lagu disusun dengan kaidah-kaidah tertentu meliputi guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan. (Sahlan dan Mulyono 2012: 5)

Tembang macapat dengan segala isi kandungannya memiliki berbagai fungsi sebagai pembawa amanat, penuturan, pengungkapan rasa, media penggambaran suasana, media dakwah, alat pendidikan dan penyuluhan, nasihat kepada warga dan lainnya. Semuanya terwadahi oleh tembang macapat, baik suatu hal yang nyata dalam bentuk tersurat maupun kandungan kata yang tersimpan (tersirat). Uraian ini menunjukkan betapa tingginya nilai-nilai yang terkandung dalam tembang macapat sebagai upaya menembus cakrawala kebudayaan Indonesia masa lalu, kini, maupun mendatang.   

Mempelajari sastra melalui tembang macapat erat hubungannya dengan pembangunan manusia di Indonesia yang kompleks. Masyarakat Jawa mengidentifikasikan macapat layaknya mental spiritual untuk mendapatkan suatu makna hidup.    

Macapat dalam Dakwah Islam

Menurut Mbobong Manah, tembang macapat diciptakan oleh Prabu Dewawasesa/Prabu Banjaran Sari. Tetapi menurut pendapat lain, macapat tidak diciptakan oleh satu orang saja melainkan beberapa orang wali dan bangsawan. Para pencipta itu yakni Sunan Giri Kedaton, Sunan Giri Prapen, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Muryapada, Sunan Kali Jaga, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Geseng, Sunan Majagung, Sultan Pajang, Sultan Adi Eru Cakra dan Adipati Nata Praja.

Pernyataan di atas apabila kita kaitkan dengan zaman kerajaan sekitar abad ke XVI, maka tepat dengan kekuasaan Kerajaan Islam Demak di Bintaro dan Mataram Islam yang didukung oleh Wali Songo. Mereka menyebarkan Islam melalui cabang-cabang seni dan budaya seperti pertunjukan wayang, gamelan dan seni ukir. Para Wali Songo dan mubaligh memasukkan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat seelegan mungkin dan bijaksana.

Jika dilihat dari sisi dakwah maka tembang macapat ini lebih mengutamakan kedamaian setiap kalimatnya dan bersifat lahiriyah serta merdu untuk didengarkan dengan watak lima belas cengkok yang berbeda-beda. Cara ini digunakan untuk menarik perhatian rakyat dan ajaran Islam mudah disampaikan dan diterima.

Sebagai contoh, ketika Wali Songo menggunakan media dakwah berupa . . . . . . wayang, para wali mengubah isi tembangnya. Syairnya diubah sedemikian rupa dengan muatan keagamaan, pendidikan, budaya dan falsafah kehidupan. Hal itu tentu tidak ada penolakan dari rakyat karena penyampaiannya yang begitu apik dan tetap mempertahan kearifan lokal manusia Jawa.

Dalam khidmat dakwahnya, Sunan Giri mengubah tembang Asmaradhana yang berwatak sedih, rindu, mesra, Pucung dan Lir-Ilir. Sunan Kudus mengubah tembang Makumambang (susah, terharu, merana, penuh derita) dan Mijil (terharu dan terpesona). Sunan Drajat mengubah tembang Pangkur yang berwatak gagah, bergairah dan bersemangat, kegunaannya: memberi nasihat dan melukiskan cinta yang berapi-api.   

Kekayaan seni tembang macapat begitu digandrungi rakyat hingga banyak yang memeluk agama Islam dan meninggalkan penyembahan batu, pohon, dan alam. Saat ini macapat tampil pada perayaan-perayaan besar di tanah Jawa. Ia juga mampu menyesuaikan segala situasi dan kondisi sehingga sejalan dengan suasana rakyatnya.

Baca juga: Tari Gandrung Banyuwangi dalam Pusaran Sejarah

Seperti acara rutinan per bulan di Kampung Mendungan, RT 31 RW 11 Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta.  Dalam Pepanggihan Warga RT 31 dan arisan, ada yang selalu ditunggu-tunggu yakni macapat, menjelang pukul 21.00 WIB.

Bagi yang belum pernah mendengar alunannya yang meliuk-liuk,syairnya seperti suasana yang membius malam ditambah udara dingin layaknya semedi di tempat yang begitu tenang. Bagi para warga sekitar, macapat adalah bentuk kesenian yang bernilai tinggi dan menentramkan jiwa.   

Para mubaligh yang melantunkan macapat selalu menyisipkan nilai religius di setiap baitnya. Ini beberapa bait tembang Serat Wulang Reh Sinuwun Paku Buwana IV, Pupuh Mijil:

Trapsilaning manembah ing Gusti// Takwa mring Hyang Manon// Rina wengi anyebut asmane// Nindakake prentahing Hyang Widhi// Ngedohi pakarti// Ambegangkara dur.

Artinya:
Tata cara menyembah Tuhan// Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Tahu// Siang malam menyebut asma-Nya// Melakukan perintah Tuhan// Menjauhi pekerti//yang bersifat angkara murka.

Tentunya banyak lagi bait-bait tembang macapat lainnya yang penuh dengan makna religius yang tinggi, pendidikan moral, keadilan sosial, budi pekerti, dan cara untuk menyikapi perubahan zaman. Semoga putra-putri bangsa ke depan lebih mahir dan tetap melestarikan keagungan budaya tembang macapat.  

Baca juga: Makna “Ajining Rogo Soko Busono” dan “Ajining Diri Soko Lathi” dalam Prinsip Kepemimpinan

Total
1
Shares
Previous Article

Dari Kisah Malik bin Dinar Kita Bisa Belajar, Kenapa Kita Diperintahkan untuk Berpuasa

Next Article

Memahami Perilaku Konsumtif Muslim Milenial dan Bagaimana Menyikapinya

Related Posts