Makna “Ajining Rogo Soko Busono, Ajining Diri Soko Lathi” dalam Prinsip Kepemimpinan

Emang sih seseorang gak bisa dinilai cuma dari cara bicara dan pakaiannya, tapi gak ada salahnya untuk tetap menjaga lidah dan kerapian kita kan?

Tsaqafah.id – Pepatah merupakan jenis peribahasa yang berisi nasihat atau ajaran dari orang tua. Secara umum dalam prinsip kepemimpinan, “ajining rogo soko busono, ajining diri soko lathi, yakni lakon kang sejati” bisa diartikan bahwa kemampuan menempatkan diri sesuai dengan busananya (situasinya) dan harga diri seseorang tergantung ucapannya.

Bisa dijelaskan bahwa seorang pemimpin yang baik tidak berusaha mengintervensi dan memasuki dunia yang bukan dunianya. Seorang pemimpin juga harus dapat menempatkan ucapan dan kepandaiannya, karena hal ini dapat mendatangkan penghargaan bagi dirinya. Sikap seperti ini dapat dikatakan sebagai sikap profesional.

Lebih eksplisit lagi, bisa diartikan bahwa pepatah ajining diri soko lathi berarti harga diri (bisa diartikan sifat, kelakuan) seseorang bisa dilihat dari cara bicaranya. Lathi di  sini diartikan sebagai lidah. Seringkali seseorang mendapat masalah besar karena lidahnya, bisa dari cara bicaranya yang ngawur atau sembrono. Tapi tidak jarang pula kita mendapat suatu kemudahan karena menjaga lidah kita.

Jika kita sering bicara kasar atau kotor maka dengan sendirinya orang lain akan menganggap kita adalah orang yang cenderung negatif, karena ucapan tidak jauh dari isi kepalanya. Sebaliknya jika lidah kita dijaga dengan berbicara yang positif dan sopan tentu akan membuat citra kita positif juga, tapi bukan berarti pencitraan.

Dalam hal ini, lidah atau ucapan akan sangat berpengaruh terlebih lagi saat hidup bermasyarakat, sering kali cekcok antar tetangga terjadi karena lidah yang tak bisa dijaga. Fitnah sana-sini, mengumpat tidak tentu arah atau menggosip. Kenapa bisa sampai segitu parahnya? Memang sih panjang terowongan bisa diukur, tapi kalau panjang tenggorokan siapa yang tau, terlebih lagi  bagi yang pandai bersilat lidah.

Baca Juga: Tari Gandrung Banyuwangi dalam Pusaran Sejarah

Kemudian  ada sesama teman berantem yang diakibatkan karena saling mengejek padahal hanya bercanda, dan banyak sekali kejadiannya, yang mula ketawa saling ejek tetapi berujung saling pukul karena merasa tersinggung. Karena lidah bisa membawa masalah yang sangat besar apabila tidak dijaga dengan baik.

Ajining diri soko lathi dalam perkembangan Jawa, lidah akan sangat menjadi tolak ukur seseorang dalam menilai orang lain. Unggah-ungguh atau sopan santun dalam berbicara agaknya adalah suatu hal wajar yang harus ditaati, baik tua maupun muda. Maka, berpikirlah sebelum berucap, kalau kaki kita kesandung mungkin sakitnya akan hilang satu atau dua hari, tapi kalau lidah kita yang “kesleo” mungkin akan lebih panjang dan fatal akibatnya.

Ajining rogo soko busono, secara kasar penampilan itu mewakili diri kita. . . . . . . Semisal kita melihat gelandangan atau pengemis dengan pakaian kumalnya, apa yang pertama kali kita fikirkan? Atau lebih gampangnya, di sekolah, kantor atau di mana saja kalau kita melihat orang dengan pakaian yang tidak disetrika atau lusuh pasti hal pertama yang terlintas adalah malas “dih ngurus pakaian sendiri aja malas apalagi ngurus yang lain”.

Nah, itulah contoh hal pertama yang ada di pikiran orang saat melihat pakaian yang kurang rapi. Atau gini, pernahkah kita memakai pakaian yang kurang sopan? Sejatinya pakaian yang kita kenakan turut mewakili diri kita sendiri, kalau kita berpakaian rapi, sopan, dan wangi tentu akan menciptakan sebuah energi positif bagi kita dan sekitar. Pun sebaliknya jika apa yang kita kenakan tidak rapi atau bahkan belum dicuci. “Emang sih seseorang gak bisa dinilai cuma dari cara bicara dan pakaiannya, tapi gak ada salahnya untuk tetap menjaga lidah dan kerapian kita kan?”.

Sebuah inner beauty akan terpancar dari apa yang kita ucapkan dan kita kenakan. Mulailah menghargai diri kita sendiri dimulai dengan menjaga lisan dan kerapian kita. Tak perlu mewah untuk terlihat cantik dan gagah, hanya perlu rapi untuk menjadikan kita seseorang yang elegan dan tak perlu pengawal untuk menjaga kita, selagi kita masih bisa menjaga lisan kita.

Baca Juga: Obati Dahaga Ngaji Ramadan di Pesantren, Alumni Krapyak Buka Kelas “#NyantriKilat”

Tidak dapat kita abaikan bahwa sikap hidup orang Jawa yang menjunjung tinggi nilai-nilai positif dalam kehidupan. Dalam interaksi antar personal di masyarakat, mereka selalu saling menjaga segala kata dan perbuatan untuk tidak menyakiti hati orang lain.

Mereka begitu menghargai persahabatan sehingga eksistensi orang lain sangat dijunjung sebagai sesuatu yang sangat penting. Mereka tidak ingin orang lain atau dirinya mengalami sakit hati atau tersinggung oleh perkataan dan perbuatan yang dilakukan. Sebab bagi orang Jawa, ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono yang berarti, harga diri seseorang dari lidahnya (omongannya), harga badan dari pakaiannya.

Istilah tersebut diterapkan juga bagi seorang pemimpin, yang mana pemimpin tersebut harus tetap menjaga wibawanya dengan selalu menjaga harga dirinya, berperilaku dan berkata jujur, amanah, dan adil sama rata.

Tidak ketinggalan pula dengan yang disebut busono dalam kepemimpinan, yakni pemimpin harus sesuai dengan kapasitas yang dimiliki pada diri pemimpin tersebut sesuai dengan ahli yang dimilikinya, sehingga untuk meminimalisir munculnya kata dzolim dalam kepemimpinan. Dari kedua poin di atas, pemimpin bisa dikatakan sebagai pemimpin yang profesional.

Total
2
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Obati Dahaga Ngaji Ramadan di Pesantren, Alumni Krapyak Buka Kelas “#NyantriKilat”

Next Article

Keistimewaan Puasa di Bulan Ramadan

Related Posts