“Mbah Mariah” – Sebuah Cerpen Fas Rori

Tapi dengan apa ia berqurban. Uangnya sama sekali tak cukup untuk membeli hewan qurban. Hari raya qurban pun sudah dekat. Tinggal menghitung hari. Kejar-mengejar dengan waktu. Ia tak mungkin mendapatkan uang untuk menutupi kekurangan membeli hewan qurban dalam waktu sesingkat itu. Mungkin uangnya cukup untuk beli ayam. Tapi apakah ayam bisa digunakan untuk berqurban?

Tsaqafah.id – Mbah Mariah kembali memandang kalender. Ia mulai menghitung-hitung hari. Kemudian ia lingkari salah satu tanggal. Ia hitung lagi. Takut kalau hitungannya ada yang salah. Memastikan hitungannya sudah tepat. Lima belas hari lagi tanggal 10 bulan Dzulhijjah tahun Hijriah. Ya, 10 Dzulhijjah; tanggal yang sudah ia lingkari dengan spidol merah. Hari raya Idul Adha atau hari raya Qurban. Setelah itu ia mengambil toples lusuh miliknya, didekapnya hangat toples lusuh itu sebelum dibuka. Di dalam toples penuh sesak lembaran-lembaran uang seribuan, dua ribuan, lima ribuan, dan paling besar lima puluh ribuan. Ia hitung-hitung lembar-perlembar uang tersebut dengan rasa haru. Sudah beberapa tahun ini setiap mendekati hari raya Qurban Mbah Mariah selalu merasakan kesedihan. Ia ingin sekali ikut berqurban seperti orang-orang yang punya kambing itu. Dan hampir semua warga di RT-nya sudah pernah ikut berqurban. Ada yang kambing. Ada pula yang sapi. Namun untuk kesekian-kalinya Mbah Mariah harus menggugurkan niatnya untuk ikut berqurban. Uangnya belum cukup buat beli kambing qurban, bahkan kambing yang paling terjangkau sekalipun.

Uang yang ada di toples itu adalah uang tabungan yang ia sisihkan dari hasil jual gorengan. Setiap bakda subuh ia sudah beradu dengan dapur. Menyiapkan bermacam-macam gorengan yang akan dijual. Biasanya jam tujuh pagi ia sudah berkeliling menjajakan gorengannya. Dari kampung ke kampung. Dalam sehari, jika semua gorengannya ludes terjual, Mbah Mariah bisa mendulang untung lima belas sampai dua puluh ribu. Satu gorengan ia jual seharga lima ratus rupiah. Biasanya Mbah Mariah menggoreng antara tiga puluh sampai empat puluh buah gorengan. Namun sering juga gorengannya tidak habis. Dari penghasilannya setiap hari itu ia menyisihkan uangnya untuk ditabung. Mbah Mariah berharap suatu saat nanti apabila tabungannya sudah mencukupi akan ia pergunakan untuk membeli kambing untuk berqurban di hari Idul Adha. Namun, kembali keinginannya harus kandas. Uangnya masih terlalu sedikit.

Mbah Mariah berpikir umurnya sudah tua dan mungkin masa hidupnya tidak lama. Jika masih harus menunggu hingga tabungannya mencukupi ia takut tahun-tahun setelahnya tidak sempat ikut berqurban tapi sudah dipanggil oleh Yang Kuasa. Namun jikalau mau berqurban tahun ini, mau pakai uangnya siapa? Uang dari mana?

Otaknya diputar. Mencoba menemukan celah. Mencari solusi yang tepat.

“Apa aku pinjam uang saja yaa. Atau mungkin surat-surat rumahku bisa kugadaikan,” pikirnya. “Tapi bagaimana nanti kalau hutangku ditagih, aku bayar dengan apa?” sanggah pikirannya yang lain.

Setiap selesai sholat Mbah Mariah pasti berdoa agar cita-citanya dapat tercapai suatu saat nanti. Mbah mariah ingin punya kendaraan di akhirat nanti. Seperti kata Pak Kiai ketika pengajian di masjid dulu: “Orang yang di dunia ikut berqurban dengan ikhlas dan diterima oleh Allah, nanti ketika di akhirat hewan yang ia qurbankan akan menjadi kendaraan baginya untuk mengantarkannya ke surga.” Mbah Mariah sangat percaya dengan Pak kiai. Wong dulu Pak Kiai ngangsu-kaweruh di pesantren.

Tapi dengan apa ia berqurban. Uangnya sama sekali tak cukup untuk membeli hewan qurban. Hari raya qurban pun sudah dekat. Tinggal menghitung hari. Kejar-mengejar dengan waktu. Ia tak mungkin mendapatkan uang untuk menutupi kekurangan membeli hewan qurban dalam waktu sesingkat itu. Mungkin uangnya cukup untuk beli ayam. Tapi apakah ayam bisa digunakan untuk berqurban? Mbah Mariah tak tahu kalau ada ulama yang namanya Abdullah bin Abbas, putra paman Nabi Muhammad Saw yang bernama Abbas, membolehkan berquban dengan ayam jika memang tak mampu. Sayangnya ia tak tahu, juga belum pernah melihat ada orang yang berqurban dengan . . . . . . ayam.

Baca Juga: Mendebat Ayat Di Lantai Dua Masjid – Sebuah Cerpen Ahmad Segaf

*

Seorang tamu datang kepada Mbah Mariah. Lelaki tua yang mungkin seumuran dengan almarhum suaminya yang sudah meninggal tiga tahun lalu. Ia berbaju batik, bercelana panjang. Rambutnya disisir rapi dan berkaca mata. Orang itu datang mengendarai mobil kijang hitam yang diparkir di depan rumahnya. Tampak dari apa yang dikenakannya pasti dia orang kaya.

Setelah mengucapkan salam dan dipersilakan masuk, orang itu memulai pembicaraannya, “apa benar ini rumah Bapak Solihin?”

“Benar, Pak. Saya istrinya. Tapi Bapak sudah meninggal tiga tahun yang lalu,” jawab Mbah Mariah. “Panjenengan siapa? Dan ada perlu apa?”

“Begini, Bu,” ia memulai mengungkapkan alasan kedatangannya, “saya itu dulu teman Bapak Solihin sewaktu masih sekolah. Dulu kami berteman akrab. Suatu saat saya pernah meminjam uang kepada beliau karena kebutuhan mendesak. Dan sekarang saya kemari untuk membayar hutang saya, meski saya tahu suami anda sudah mengikhlaskannya.”

Lantas tanpa segan ia memberikan segepok amplop kepada Mbah Mariah. Setelah keperluannya dirasa cukup, tamu Mbah Mariah itu pamit.

“Terima kasih banyak, Pak,” kata Mbah Mariah girang.

Mbah Mariah membuka amplop dan tertegun ketika mendapati di dalam amplop tersebut uang tertata rapi dan banyak sekali. Berisi beberapa lembar uang lima puluh ribuan dan seratus ribuan. Sangat cukup jika sekedar dipakai membeli hewan qurban, pikir Mbah Mariah.

Mbah Mariah merasa senang bukan main. Ia sekarang sudah mengantongi cukup uang untuk membeli hewan qurban. Dengan begitu, ia bisa membeli kendaraan di akhirat kelak.

Kemudian Mbah Mariah mendatangi Pak RT sebagai penyedia hewan qurban. Orang-orang desa yang ingin berqurban biasannya memesan kambing atau sapi dari beliau. Pun dengan Mbah Mariah. Ini pertama kalinya ia bisa ikut berqurban. Ia sangat bersyukur akhirnya rapalan doanya dikabulkan oleh Tuhan. Allah memang selalu mendengar doa hamba-Nya, batinnya. Hatinya sekarang dipenuhi kelegaan, kebahagiaan yang sangat mendalam. Keinginan dan cita-citanya akhirnya akan terwujud.

Baca Juga: Sepilihan Puisi Fas Rori: Duka Kopi

*

Selesai sholat Ied di masjid, Mbah Mariah langsung pulang ke rumah. Melepas mukenanya, berganti setelan baju untuk siap-siap pergi ke lapangan yang berada di seberang jalan, tempat penyembilan hewan qurban dilakukan. Ia sudah tak sabar lagi melihat kambingnya disembelih. Kebahagiaannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata; matanya menangis haru.

Saking senangnya, Mbah Mariah berjalan terburu-terburu. Ia seret langkah kakinya dengan cepat. Tampak di wajahnya raut kebahagiaan yang besar tak terbendung. Sedang senyum mengiringi langkah kakinya itu. Seakan malaikat ikut mengiringi kebahagiaannya.

Namun ketika sampai di tengah jalan raya, tiba-tiba…

Braaakk!!

Seorang wanita tua tertabrak sebuah truk yang melintas. Ya, truk itu menabrak Mbah Mariah yang sedang menyebrang tanpa cermat melihat kiri-kanan.

Mbah Mariah terlalu tergesa-gesa karena terlalu bahagia hingga ia tak memperhatikan kendaraan yang lalu-lalang. Spontan orang-orang datang mendekatinya. Mencoba memberi pertolongan kepadanya.

Darah segar keluar dari kepalanya yang bocor seperti mengalirnya darah dari leher hewan yang disembelih. Sebagian besar tulang tubuhnya mungkin patah. Pandangannya kabur, tak jelas. Kesadarannya tak cukup untuk melihat orang-orang mengerubunginya. Justru yang nampak jelas ia lihat jauh di sana ada seseorang berpakaian serba putih membawa seekor kambing besar dan gemuk. Seperti kala Jibril membawa kambing dari surga mendatangi Nabi Ibrahim as. sewaktu menyembelih putranya, sementara sosok Nabi Ismail as. tampak jelas dalam pandangan Mbah Mariah, orang itu berwajah terang dan cerah. Tersenyum indah. Orang itu melambaikan tangan seperti memanggilnya.

Matanya perlahan terpejam bersamaan dengan selesai disembelihnya kambing yang ditubuhnya ditempelkan kertas bertuliskan: Mbah Mariah. Matanya tertutup diiringi senyum penuh kelegaan.

Total
34
Shares
1 comment
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Ajaran Spirit Berbagi KH. Ahmad Dahlan

Next Article

Dimensi Sosial Ibadah Kurban

Related Posts