Tsaqafah.id – Suatu kali, ibu berpesan pada saya dan adik agar memberi tahu apabila kami hendak buka bersama di luar. Sebabnya, ibu akan menyesuaikan porsi makanan yang dibuat untuk berbuka. Apabila kebetulan kami sedang berbuka di luar, ibu hanya akan membuat makanan sederhana untuk berbuka dengan bapak.
Pernah saya melihat ibu dan bapak hanya berbuka dengan pecel buatan sendiri dan teh manis. Menu ini tentu berbeda tatkala kami, anak-anaknya, berbuka di rumah.
“Masaknya tidak usah banyak-banyak ya, adikmu mau buka di luar,” ucap ibu apabila adik saya pamit untuk berbuka di luar.
Suatu kali saya menangkap wajah sedih ibu karena saya, adik, dan bapak harus berbuka di luar. “Ya sudah sana, biar aku yang jaga rumah,” ucap Ibu singkat.
Bagi keluarga kecil berisi 4 orang dengan kebiasaan buka bersama selama puluhan tahun, satu orang absen tatkala jam berbuka akan sangat terasa. Ketika saya dan adik harus berbuka di luar, masakan ibu akan menjelma menjadi masakan biasa, sekadar masakan untuk membatalkan puasa.
“Aku sama bapakmu gampang, buka dengan air putih juga cukup,” ungkap ibu suatu waktu.
Baca juga Mencari Makna (3): Sebuah Masa Neo Jahiliyah
Saya tidak tahu pasti sejak kapan kurang menyukai kegiatan bernama buka bersama. Pertama, saya suka mengobrol dan kegiatan buka bersama menjelma menjadi makan bersama di waktu yang relatif singkat. Jam efektif untuk mengobrol saat buka bersama tidak lebih dari 2 jam rasanya. Kedua, saya tidak suka tertinggal salat Tarawih berjamaah.
Di balik alasan tersebut, ada hal lebih personal yang membuat saya sangat selektif pada ajakan buka bersama. Semuanya berasal dari ruangan paling ujung di rumah, tempat makanan-makanan sederhana dimasak, tempat kami bercengkerama di momen-momen tertentu. Ya, dapur.
Masakan Ibu bagi saya bukan sekadar makanan, bukan sekadar enak atau tidak. Ini adalah suatu wujud cinta yang paripurna, wujud kasih sayang ibu pada anak-anaknya sekalipun kami sudah dewasa. Ibu tidak begitu peduli bahwa kami bisa saja membeli makanan di luar karena mau bagaimanapun rumah adalah tempat semuanya dimulai.
“Sebelum pergi, sarapan dulu, makanan sudah siap,” doktrin itu Ibu tanamkan sejak dulu. Lalu, entah mengapa, di bulan Ramadan, masakan-masakan ibu – yang sebenarnya itu-itu saja – rasanya kian bertambah nikmat.
Baca juga Aktivitas-Aktivitas Sunnah Ketika Berpuasa
Makanan dan suasana berbuka di dapur sederhana nyatanya tidak bisa digantikan dengan menu dan suasana apapun di luar sana, bersama siapapun. Jika berbuka di resto-resto hotel, saya bisa menemukan menu all you can eat dengan berbagai variasi makanan namun tetap tidak seenak takjil-takjil sederhana buatan ibu. Jika berbuka di kafe-kafe kekinian, saya bisa berbuka dengan pemandangan syahdu, indah, dan instagramable namun tetap tidak lebih indah dari merayakan kebersamaan dan kesehatan keluarga dengan berbuka bersama.
Kadang, saya mengamati beberapa kawan di media sosial yang sangat sering berbuka di luar, dengan berbagai lingkar perkawanan, dengan berbagai latar belakang tempat. Saya membayangkan, apabila saya begitu, bagaimana nasib masakan Ibu? Apakah dapur akan terasa lebih sepi karena saya berbuka di luar?
Lebih jauh lagi, sejak kecil saya diajarkan betapa besar pengorbanan orang tua untuk anaknya. Di masa saya kecil dulu, Ibu sedemikian rupa mengupayakan agar ada takjil-takjil agar anaknya berbuka dengan nikmat. Lagi pula, untuk seorang petani kecil, tidak setiap hari kami bisa menikmati takjil nan lengkap beraneka rupa.
Pandangan dan pengalaman itu lantas membawa cara pandang personal terkait masakan Ibu. Bagi saya, menikmati makanan Ibu adalah salah satu wujud bakti paling sederhana yang bisa saya lakukan. Kebiasaan ini pula yang membuat saya sulit untuk menikmati menu berbuka di luar.
Saat harus berbuka di luar, saat detik-detik menunggu azan, ada suatu perasaan yang hilang dalam diri saya. Tempat yang ramai, orang yang seakan berlomba-lomba menikmati makanan, dan kadang salat Magrib yang harus terkalahkan hanya demi makan.
Rasanya, sampai kapanpun saya akan selalu jatuh cinta dengan berbuka bersama keluarga. Menonton televisi bersama sembari menunggu azan, lalu bersama-sama menuju dapur untuk berbuka dan menikmati takjil-takjil di meja. Tidak dengan tergesa dan saya masih bisa melihat Ibu Bapak memanjatkan doa personal sesaat selepas membatalkan puasa. Suasana itu hangat dan menentramkan secara paripurna, tanpa harus mengenakan dresscode.
Apabila saya harus berbuka di luar, rasanya takjil-takjil di meja makan itu akan kesepian karena salah satu penikmatnya absen. Atau malah sebaliknya.
Baca juga 6 Adab Berpuasa Menurut Imam Izzuddin bin Abdissalam
Seiring beranjak dewasa, lingkar perkawanan saya kian meningkat. Rekor paling banyak, ada 13 ajakan buka bersama alias hampir separuh bulan Ramadan. Tentu saja gila apabila harus menuruti semuanya, sudahlah boros, harus mengganti jam Tarawih sendirian pula. Umumnya, ada 5-10 kali ajakan buka bersama per tahun dan seringnya hanya 1 atau 2 undangan yang saya penuhi.
Saya tidak bisa membayangkan betapa rindunya saya dengan makanan-makanan masakan ibu apabila harus berbuka di luar sebanyak belasan kali. Saya jelas akan merindukan aneka kudapan sederhana buatan ibu yang akan kami nikmati sekeluarga di dapur sederhana beralas tanah.
Di balik semua itu, ada satu ketakutan apabila terjebak dengan kebiasaan berbuka puasa bersama di luar. Saya takut dari tahun ke tahun lebih asyik dengan meluangkan waktu berbuka di luar hingga tidak sadar bahwa ada perubahan besar di dalam rumah yaitu Ibu dan Bapak yang kian menua. Saya khawatir tidak bisa menyadari bahwa masakan Ibu masih sama namun dimasak oleh jemari yang kian keriput dan lengan yang melemah.
Saya lebih tidak mau lagi jika harus berbuka puasa hanya dengan cerita tentang Bapak Ibu, tanpa bisa bercerita langsung ke mereka. Doa itulah yang selalu saya panjatkan selepas membatalkan puasa dan sebelum menikmati makanan penuh cinta dari Ibu.
Baca juga 6 Kiat Menggapai Kesempurnaan Puasa dari Imam al-Ghazali

