Tsaqafah.id – Kesepian barangkali suatu perasaan paling purba di peradaban. Darinya perabadan manusia mengenal seni dan budaya. Karenanya, para manusia purba Sulawesi menggambar di dinding gua. Dari seni dan budaya pula muncul majas-majas. Manusia mulai berumpama. Manusia mulai meletakkan sifatnya di benda-benda mati atau di hewan dan tumbuhan.
Seumpama semua benda punya nyawa, kesepian bukan lagi perkara rindu dan cinta umat manusia. Bukan pula perkara singa yang terkungkung di kebun binatang. Bukan pula milik pepohonan yang menunggu ditebang di belantara hutan.
Tatkala menyusun catatan ini, ingatan saya berlabuh pada masjid di dusun kecil tempat saya tinggal. Iya, dusun kecil, hingga jamaah salat Tarawih tidak akan memenuhi satu bangunan masjid seumpama semuanya berangkat. Masalahnya, sejak kapan semua orang Islam berangkat Tarawih?
Baca juga Mencari Makna (2): Masjid dan Peran-Peran Terlupakan
Untuk catatan ini, saya akan menyebut masjid dusun saya tadi sebagai Sang Kesepian.
Saya tidak yakin pasti, apakah masjid-masjid lain juga mengalami rasa kesepian akut sepertinya. Paling tidak untuk masjid di dusun kecil dengan jumlah penduduk sedikit.
Betapa kesepiannya, ia sering diprotes beberapa kawan. “Itu mushala, bukan masjid,” kata mereka. Dulu, beberapa warga juga enggan salat Jumat di sini karena jamaahnya terlalu sedikit. Mungkin enggan menghindari kemungkinan salatnya tidak memenuhi syarat dan gagal dicatat malaikat.
Saya sering membayangkan betapa ia sangat kesepian. Azan tidak genap berkumandang 5 kali sehari. Saat azan dikumandangkan, jamaahnya bisa dihitung dengan jari tangan saja. Saya kasihan ketika membayangkan ia beradu nasib dengan masjid-masjid lain di sekitarnya. Ramai, sering dikunjungi, punya majelis TPQ, dan punya forum remaja masjid.
Kadang, saya ingin mengajaknya bercerita. Saya ingin katakan padanya agar tidak usah berkecil hati karena konon menuju akhir zaman masjid akan banyak dibangun. Lagi pula, kata banyak pengkhotbah, lebih mudah membangun masjid daripada memakmurkannya. Satu milyar untuk membangun masjid sangat cukup. Namun satu milyar untuk membangun kebiasaan salat berjamaah 5 waktu apakah bisa?
Betapa ia kesepian, saya yakin andai punya kaki ia akan pindah ke dusun lain yang lebih ramai atau pindah ke pinggir jalan yang lebih strategis. Kini, ia berada di sudut dusun kecil nan sepi seperti seorang begawan pertapa.
Baca juga Bukan Kesepian yang Kita Rasakan, tapi Ketergantungan
Di tengah rasa kesepian, ia pasti heran bagaimana jaminan surga dan berbagai janji imbalan luar biasa gagal menggerakkan kaki orang-orang untuk mendatanginya. Padahal, ia telah berubah banyak dari pertama kelahirannya. Ada kipas, karpet empuk, dan gentengnya tidak lagi bocor seperti dulu.
Masjid yang kesepian rasanya terdengar seperti 3 kata lucu. Namun, sering pula saya menemukan masjid-masjid lain yang juga kesepian. Misalnya langgar tua yang hanya dipakai segelintir orang tua. Anak-anak muda di sekitarnya konon takut karena terkesan angker. Hingga akhirnya satu per satu jamaah berpulang dan langgar itu tamat riwayatnya, menjadi bagian dari cerita lama daerah itu.
Apabila dicerna dengan sungguh, tidak ada alasan masjid kesepian. Setidaknya selama manusia masih mendamba surga untuk kehidupan yang nanti. Sayangnya, laku zaman kadang menyimpan kejutan. Manusia adalah makhluk sempurna dan canggih dalam urusan mencipta alasan-alasan.
Lagi pula, ada banyak alasan untuk melipur kesepian dalam dirinya tadi. Salat bisa dimana saja, Tuhan ada di mana saja, begitu katanya.
Saya tahu belaka, Sang Kesepian ada di tengah masyarakat yang tidak sepenuhnya buta ilmu agama. Ada beberapa haji dan ahli agama di sini dan lucunya ia tetaplah kesepian.
Masjid yang kesepian akhirnya bukan hanya menjadi kata lucu tapi juga ironis. Ia divonis kesepian oleh seorang manusia, makhluk paling sempurna di alam raya.
Betapa sempurnanya hingga saya bisa menciptakan puluhan alasan untuk tidak melipur Sang Kesepian. Lelah bekerja, jauh, hujan, sepi, tidak ada teman, tidak cocok dengan imam masjid, atau sekadar alasan klasik seperti lupa dan malas.
Untuk catatan ini, saya tetap akan menyebutnya Sang Kesepian. Untuk catatan ini, saya hendak mewakili rasa pongah umat manusia. Betapa pongahnya hingga menganggap masjid dan surau sangat kesepian karena jarang dikunjungi. Padahal, kami ini yang sebenarnya kesepian. Tersesat pada gemerlap zaman, kehilangan pegangan, namun enggan mendaku kesepian dan sibuk menciptakan berbagai hal dan alasan untuk melawannya.
Masjid yang kesepian akhirnya bukan hanya menjadi kata lucu tapi juga ironis. Ya, ironis, saya menulis catatan ini sepulang dari Tarawih padahal saya bisa tinggal di sana lebih lama untuk tadarus, misalnya.
Baca juga Baik Belum Tentu Bermanfaat

