Mencari Makna (6): Berkaos di Hari Raya

Mencari Makna (6): Berkaos di Hari Raya

20 Maret 2026
48 dilihat
4 menits, 31 detik

Tsaqafah.id – Catatan ini adalah edisi terakhir serial ‘Mencari Makna’ yang tayang di Tsaqafah sepanjang bulan Ramadan tahun ini. Sebagai informasi, serial ini lahir murni lahir dari keresahan seorang pemeluk Islam biasa-biasa saja. Bukan santri, bukan pula sosok agamis yang mendalami perkara dalil. Karenanya, saya mengucapkan terima kasih mendalam teruntuk siapapun di manapun yang berkenan menikmati keresahan hati saya.

Untuk menutup serial ini, saya akan menghadirkan catatan paling personal sekaligus ugal-ugalan tentang bulan Ramadan yang sebentar lagi akan berakhir.

Baca juga Mencari Makna (1): Karena Ramadan tak Pernah Menemui Kita

Seminggu menjelang Ramadan berakhir, suasana ramai tercipta di berbagai penjuru kota. Di pusat perbelanjaan, pasar, hingga tempat-tempat berbuka puasa. Ibu-ibu mulai memikirkan kudapan untuk dihidangkan, para bapak mulai berhitung segala biaya kebutuhan lebaran, sementara beberapa anak mulai membayangkan baju-baju baru yang akan mereka dapatkan.

Ramadan lantas akan ditutup dengan kumandang takbir pada malam terakhirnya. Masyarakat sibuk menyiapkan kemenangan. Ibu-ibu mulai menata ruang tamu, anak-anak muda sibuk dengan takbir keliling, beberapa lainnya sibuk dengan petasan. Di masjid-masjid, suasana menjadi kian meriah.

Pagi harinya, tatkala suara takbir berkumandang dari berbagai penjuru, umat muslim akan berarak menuju masjid-masjid dan lapangan-lapangan. Baju paling bagus disiapkan, licin bekas setrika hari sebelumnya, dengan wangi parfum aneka merek. Tidak ada sandal jepit, tidak ada sarung usang, tidak ada baju koko yang mulai memudar warnanya.

Baca juga Kisah Nabi dan Anak Kecil di Hari Raya Idul Fitri

Di hari kemenangan, semua orang akan tampak sangat agamis. Kapan lagi melihat umat muslim sepagi itu menuju masjid dengan baju terbaik? Menenteng sajadah, membawa infak terbaik, dan rela duduk di masjid atau lapangan menunggu salat dimulai sembari mengumandangkan takbir?

Bertahun-tahun lamanya saya bertanya-tanya tentang perkara ini. Kenapa di hari raya orang-orang menggunakan baju-baju terbaik mereka? Kenapa di hari raya orang-orang datang ke masjid menggunakan selop, tidak sandal jepit kumal seperti ketika tarawih? Dan kenapa di hari raya orang harus tampak sedemikian agamis?

Perenungan pertama saya membawa hipotesis bahwa ini merupakan dampak dari sebuah kebudayaan. Salat Idulfitri bukan hanya perkara ibadah tetapi juga suatu kegiatan kebudayaan. Barangkali ini mirip dengan konsep menggunakan outfit yang cocok untuk suatu acara.

Baiklah, jawaban itu pernah cukup menjawab kegelisahan saya. Namun, tunggu sebentar. Saya masih merasa aneh dengan orang-orang yang tiba-tiba tampak demikian agamis di hari raya. Di mana penampilan-penampilan itu saat hari biasa? Kenapa baju-baju terbaik – beserta orang-orangnya – hanya keluar setahun sekali atau 2 kali di hari raya?

Baca juga Mencari Makna (5): Sang Kesepian

Tentang kegelisahan-kegelisahan ini, saya menyadari ada berbagai sudut pandang. Toh, itu juga tidak sepenuhnya salah. Dari sudut pandang kebudayaan misalnya, seperti hipotesis di atas tadi, hal-hal ini bisa jadi merupakan produk dan laku kebudayaan.

Belakangan saya baru tahu bahwa fenomena ini memiliki dasar hukum terkait sunnah memuliakan hari raya. Di hari tersebut, di-sunnah-kan menggunakan baju terbaik yang dimiliki dengan wewangian sebagai bagian dari rasa syukur atas datangnya hari raya.

Jauh sebelum saya mengetahui sunnah tersebut, saya memiliki satu keinginan aneh yang belum terlaksana ketika hari raya datang. Saya sangat ingin, ketika hari raya datang, saya menuju masjid dengan sarung dan berkaos. Bukan kaos paling baik, tapi kaos harian yang sering saya pakai.

Keinginan tersebut memang tidak lahir dari pemahaman terkait sunnah, bukan pula dari ajaran kyai-kyai dusun. Keinginan tersebut murni lahir dari kegelisahan pribadi, dari pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan dalam kepala selama lebih dari satu dekade.

Kadang, ketika saya harus menggunakan baju terbaik di hari raya saya merasa berpura-pura. Itu bukan diri saya, itu bukan kebiasaan saya, karena biasanya ketika salat berjamaah di masjid saya lebih sering berkaos atau menggunakan seragam kerja. Begitupun peci, saya belum lama terbiasa mengenakannya. Saya hanya tidak ingin berpura-pura di hari raya, hari penting dalam agama yang saya anut. Tidak lebih.

Baca juga Tips Mencuci Pakaian Secara Syar’i

Konon, Idulfitri sebagai salah satu hari raya dalam Islam merupakan momentum tentang kelahiran kembali, manusia kembali disucikan seperti bayi yang baru lahir. Ketika mengingat momen tersebut, saya sering berpikir, “Apakah kelahiran kembali bisa dimulai dari kejujuran, termasuk dari segi pakaian yang dikenakan?”

Pandangan ini jelas bertentangan dengan sunnah di atas tadi, bertentangan pula dengan kebiasaan umum di masyarakat. Setidaknya terkait sunnah sekaligus kebiasaan dalam memuliakan datangnya hari raya.

Bertahun-tahun lalu, saya pernah mengalami fase ketika tidak punya kawan di malam takbiran. Banyak kawan seusia saya memilih nongkrong atau di rumah. Masjid yang 29 hari sebelumnya ramai malah tiba-tiba sepi, hanya ada orang-orang tua saja, mengumandangkan takbir dengan suara parau mereka.

Di titik itu saya berpikir, apakah memuliakan – atau merayakan – hari raya hanya perkara hari H saja? Atau, sesungguhnya itu seperti merayakan garis finish sebuah lomba lari. Finish diupayakan sejak awal, sejak permulaan Ramadan, bukan tiba-tiba berdiri start 1 meter dari garis finish lalu ikut merayakannya.

Dan di pagi harinya, saya menemukan orang-orang yang saya cari pada malam sebelumnya. Muncul dengan pakaian terbaik, sarung terbaik, sajadah wangi. Di titik itulah, sungguh, saya ingin datang mengenakan kaos oblong saja.

Andai kata ada orang mengatakan saya tidak memuliakan hari raya, saya hanya ingin berganti mempertanyakan beberapa hal kepadanya. Tentang siapa yang setiap malam mengisi barisan salat Tarawih, tentang siapa yang memaksa datang walaupun lelah, tentang siapa yang menyiapkan masjid untuk salat Idulfitri keesokan harinya agar bersih dan nyaman. Saya sekadar percaya, memuliakan hari raya seharusnya datang sejak satu bulan sebelumnya.

Baca juga Spiritualitas di Tengah Gemerlap Konsumerisme Hari Raya

Seperti judul serial ini, saya meyakini pula perjalanan manusia adalah soal mencari makna. Tentang diri sendiri, tentang peran bagi lingkungan, dan tentang pelajaran-pelajaran hidup yang tidak ada buku teks tentangnya.

Cita-cita saya untuk salat Idulfitri mengenakan kaos sejauh ini belum terlaksana. Demikian pula dengan kegelisahan-kegelisahan di atas tadi yang belum pernah saya sampaikan secara terbuka.

Seiring perjalanan waktu, seiring bertambah dewasa, makna-makna baru hadir dalam hidup saya lewat berbagai kejadian tak terduga. Ada tamparan-tamparan baru, ada koreksi-koreksi baru, ada renungan-renungan baru tentang segala resah di dalam kepala.

Saat menulis catatan ini misalnya, saya sambil mendengarkan sebuah podcast bersama seorang pendakwah. Beliau berkata, sebaiknya seseorang menilai hal lain dengan berbaik sangka terlebih dahulu. Sementara, catatan ini malah berkata sebaliknya. Catatan ini mengedepankan sangkaan-sangkaan pragmatis yang cenderung sentimental.

Seiring waktu berjalan nantinya, saya meyakini akan ada jawaban memuaskan terkait kegelisahan saya tadi. Sekarang, saya tetap akan menikmati fase ini. Saya akan menikmati hari raya dengan segala pertanyaan, perenungan, dan pertentangan dalam kepala. Saya akan menikmati fase pencarian makna beserta segala naik turunnya.

Baca juga Lebaran dan Panggung Teater

Profil Penulis
Syaeful Cahyadi
Syaeful Cahyadi
Penulis Tsaqafah.id
Penulis dan Pengelola taman baca Perpustakaan Umum Dusun Jlegongan. Menggemari ziarah serta sejarah secara otodidak. Saat ini menjadi anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Sleman.

6 Artikel

SELENGKAPNYA