Mengintip Santri Huffadh yang Kegandrung Drama Korea “Start-Up”

Ketika “Start-Up” menjadi trending topic di twitter, teman-temannya pun banyak yang memaksa ia untuk menonton drama itu, ada yang beralasan ‘karakter tokoh utamanya mirip kisah hidupmu, To’.

Tsaqafah.id – Demam drama “Start-Up” masih memenuhi atmosfer per-ghibah-an duniawi pemuda milenial. Drama yang sempat hits ini masih membekas di sanubari para penikmat drakor Indonesia, tak terkecuali bagi Mas Anto (Bramantyo), santri huffadh Krapyak yang telah menekuni berbagai genre drama-drama terkenal.

Bahkan ia hapal nama-nama instagram bintang layar lebar dari Korea, macam @m_kayoung, @youna_1997, dan @soohyun_k216, sebanding dengan hapalan Qur’annya dari Juz 1 sampai Juz 10.

Ketika “Start-Up” menjadi trending topic di twitter, teman-temannya pun banyak yang memaksa ia untuk menonton drama itu, ada yang beralasan ‘karakter tokoh utamanya mirip kisah hidupmu, To’.

Episode demi episode telah ia simak dengan saksama. Ketika itu ia baru sampai pada episode 11. Setiap malam, ia rela antri paling awal untuk sekedar menyelesaikan setorannya, lantas menonton drama “Start-Up” yang ia download via Viu.

Tepat pukul 9 malam, headset merah merk Aose dengan spiral hitam telah ia kantongi di saku bajunya, hape Sumsang S9 kesayangannya ia selipkan di lipatan sarung bagian belakang dengan sangat kencang dan rapi.

Tidak ada yang mengira jika ia nekat membawa hape ketika setoran ke Kiai. Rencananya, ia akan menonton drama itu di ketinggian lantai 3 masjid usai setoran.

Setengah jam ia menunggu, sambil sesekali melanyahkan hafalan dan mengingat wajah Do-San, karakter favoritnya yang saat ini menjadi motivator jalan hidupnya.

Dalam lamunannya, ia membayangkan keluguan dan kegantengan Nam Joo-hyuk yang menjadi karakter Do-san itu, bagaimana semangatnya meniti karir bisnisnya sampai mendapatkan proyek besar, bahkan mencuri hati dan merajut cinta bersama Dal-mi.

Baca Juga: Dear Sobatku Muslimah Bercadar, Kalian Tuh Wanita Penyabar dan Layak Dihormati

Ia pun menginginkan alur kehidupan layaknya dua sejoli itu, minimal menjadi Do-san yang mampu mengubah nasibnya from zero to hero, dari sekedar pebisnis retro menjadi CEO yang notabene hanyalah alibi untuk bangga-bangga-an orang tua.

Setoran dimulai, tawasulan baca Faatihah tiga kali bersama Kiai telah lengkap. Anto yang sedari tadi menunggu di meja ngaji, sambil pikirannya mendendangkan lagu Running-Gaho, sudah siap dengan hafalan barunya, Juz 5 kaca pertama, ia telah hapal di luar kepala, batinnya. Raut muka wajahnya terlihat percaya diri. Mungkin . . . . . . Chul-san dan Yong-san pun kalah optimis dengannya, walaupun Anto tak sejenius Do-san, sebenarnya, haha…

Ia pun ambil nafas dalam-dalam sambil merem-merem mengingat ayat pertamanya, ‘wal muhsonaatu minannisaa`i…’ Ayat pertama telah ia lewati, agak grogi karena Kiai seperti mendekat ke hadapannya. Sampai pada ayat kedua, kata malakat disebut kembali… BLANK!

Anto mengulang lagi ayat awal, kata ‘malakat‘ ia sasar balik ke atas lagi. Ia diam sebentar, berusaha me-restore ingatannya, menyucikan pikiran, meditasi selama beberapa detik. Ia mulai lagi dari awal.. BLANK!

ia tetap mengulang kesalahannya. Ia sedikit membuka mata. Kiai masih menyimaknya, mungkin menunggunya sampai lolos ayat pertamanya. Kepalanya memanas, wajahnya memerah, dahi dan hidungnya basah, tess… tess… meneteslah keringatnya membasahi sarungnya.

“Wis, Nang, wis.. wis..” sambil menepuk meja, Kiai meminta Anto untuk mengakhiri setorannya. Anto membuka matanya. Sambil malu-malu, ia mengambil Qur’annya lalu mundur alon-alon ke belakang.

Dengan lemah lunglai, ia berjalan mundur keluar dari nDalem Kiai sambil munduk-munduk menghormati beliau yang masih menyimak para santri. Jarak 5 meter, ia balik badan, berjalan sempoyongan menuju masjid.

Baca Juga: Mudahnya Mengawali Tapi Sulit Untuk Mengakhiri

Sesampainya di masjid, Qur’an ia taruh di lemari pojok sebelah tangga lantai dua, lalu naik ke lantai tiga dengan perasaan gelisah dan nafas terengah-engah, efek setoran tadi yang mengharuskan ia mengeraskan suaranya. Ia pun melampiaskan kesedihannya dengan menonton kelanjutan “Start-Up” episode 12. “Moga aja kekocakkan tokoh-tokohnya yang bisa bikin aku senyum-senyum”.

Sudah jatuh tertimpa tangga-Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kesialan mendatangi malam itu tanpa diguna-guna. Keheningan malam dipecah oleh isak tangis seorang Anto, penonton tunggal di pojok sudut tiang masjid. Belum setengah episode ia tonton, saking menghayatinya, ia menangis tersedu-sedu ketika Pak Han datang malam-malam ke kedai Nenek Choi, habis berkelahi sama si leher panjang, Do-san. Scene itu membuat Anto ingat akan episode 1, ketika mereka berdua berpisah di stasiun. “Duh Gusti…! Uripku susah temen, Yaa Robb…!

Tak kuasa dengan dua derita yang menimpanya malam itu, Anto mengurungkan niat untuk menamatkan alur cerita “Start-Up” yang menurut sebagian orang memang mampu membuat iba. Ia juga tak mampu membuka Qur’an untuk menambah hafalannya. Hanya sesal dan kesedihan yang menemani. Berusaha tidur nyenyak satu-satunya solusi.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Kisah Ibu dari Orang-Orang yang Syahid di Medan Perang, Khansa binti Amru

Next Article

Putri Ong Tien, Putri Tiongkok yang Menjadi Isteri Ulama

Related Posts
Read More

Buku, Kuburan, dan Kisah Pemancing Gagal

“Kang, novel yang menceritakan kegagalan pemancing sampai seratus kali ini, kenapa sampai terkenal dan dapat penghargaan Nobel? Wong cuma menceritakan kegagalan kok. Padahal kan banyak kisah-kisah pemancing yang lebih cepat dan sukses mendapatkan hasil tangkapannya?”