Mudahnya Mengawali Tapi Sulit Untuk Mengakhiri

Ketika ia mulai tahu tentang isi dunia sedikit demi sedikit, ada satu hal yang sering ia gelisahkan, yaitu sulit mengakhiri sesuatu dalam hidup.

Love is like a war; easy to start but hard to end and you never know where it might take you

~ Oscar Wilde

Tsaqafah.id – Ada banyak kasus yang cukup meyakinkan tentang “mudahnya mengawali tapi sulit untuk mengakhiri”. Beberapa mungkin menolak untuk mengatakan; bahwa sulit untuk mengawali sesuatu, bukan karena apa-apa, melainkan takut untuk menghadapi kesulitan mengakhirinya. Lebih tepatnya, takut terhadap masa-masa berikutnya yang berkelabut misteri.

Orang yang melangkahkan kakinya melakukan sesuatu, apapun itu, ia akan berhadapan dengan kompleksitas perasaan yang variatif. Meski, beberapa orang pernah meramalkannya, tapi tetap, setiap manusia memiliki keunikan subjektifitasnya sendiri. Baik itu perasaan, pengalaman, dan pengetahuan yag dimilikinya.

Seseorang yang baru pertama kali lahir dari perut ibunya, yang tidak tahu apa-apa tentang dunia, ia mengawali hidupnya di dunia. Ia secara terpaksa mengawali hidupnya dan terus-menerus hidup karena dibesarkan oleh orangtuanya dengan balutan cinta dan kasih sayang. Berharap kelak, sang anak bisa membahagiakan orangtuanya melalui kecerdasan dan keluhuran budinya, lebih-lebih sang anak bisa dikenal luas oleh masyarakat sekitar hingga seluruh dunia.

Ketika ia mulai tahu tentang isi dunia sedikit demi sedikit, ada satu hal yang sering ia gelisahkan, yaitu sulit mengakhiri sesuatu dalam hidup. Kita bisa melihat si bayi yang harus melepas tetek ibunya selama kurang lebih dua tahun akan menangis karena si bayi tidak dibolehkan terus-menerus minum Air Susu Ibu (ASI). Ia kesulitan untuk mengakhirinya karena harus berpisah dengan rasa yang memberikan ia kenyamanan selama kurang lebih dua tahun lamanya.

Baca Juga: Apa Bisa Menjadi Pemalas Tapi Produktif ?

Berlanjut kepada momen-momen selama ia menjadi BALITA (bayi di bawah umur lima tahun), ia diberitahu oleh sanak familinya mana yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan. Ia dibolehkan hanya sekadar main di rumahnya, tapi tidak diperbolehkan main di luar rumah dengan orang yang tidak dikenali keluarganya.

Ada kalanya ia punya mainan yang sangat disenanginya, karena ia dibolehkan oleh orangtuanya untuk memilikinya dan memainkannya, tetapi ketika mainannya itu menghilang dari genggamannya, ia gelisah dan bersedih hati. Meski kesedihannya itu bisa diobati dengan membeli barang baru, misalnya, tapi tetap, ia kesulitan untuk mengakhiri momen-momen kesenangannya dengan mainan kepunyaannya yang lama.

Momen-momen mudahnya . . . . . . mengawali tapi sulit untuk mengakhiri terus berlanjut hingga ia menemukan sesuatu yang ia anggap sudah terlanjur dicintainya. Terlepas itu barang atau pun seseorang, ia akan menemukan hal itu, dan pada akhirnya, ia sulit untuk mengakhirinya. Hal ini tidak jauh berbeda dengan setiap pertemuan pasti ada perpisahan, dan setiap perpisahan pasti menemukan pertemuan (yang baru).

Ketika seseorang mulai beranjak remaja, bagi sebagian orangtua yang menginginkan anaknya untuk belajar ilmu di tempat yang jauh, mau tak mau si anak dan orangtua harus berpisah. Hal ini bukan berarti akhir dari segalanya, dalam arti akhir dari hubungan anak dan orangtua, tetapi mereka berdua dipertemukan dengan momen “sulit untuk mengakhiri” sebuah hubungan dalam jarak yang dekat.

Baca Juga: Buku, Kuburan, dan Kisah Pemancing Gagal

Pada umumnya, orangtua tidak rela melepas anaknya pergi terlampau jauh dari jangkauannya. Mereka merasa bahwa anak adalah ‘kepunyaan’ orangtua. Sebagaimana lazimnya sikap seseorang yang merasa “punya”, mereka takut jika seandainya kepunyaannya itu menghilang dalam pandangannya. Atau, kepunyaannya tersebut berubah menjadi sesuatu yang buruk, yang benar-benar tidak diinginkannya.

Dalam kasus orang berpacaran, misalnya, di mana seorang remaja yang mulai jatuh hati kepada lawan jenisnya, ia menemui terulangnya momen “mudah mengawali tapi sulit untuk mengakhiri”. Barangkali ini adalah momen kedua terberat manusia dalam persoalan cinta dan kasih sayang yang dihadapkan dalam kasus “mudah mengawali tapi sulit untuk mengakhiri”. Hal ini tentunya beda soal ketika manusia dihadapkan dengan seorang teman atau sekadar benda yang disayanginya.

Ketika seseorang mulai merasa jatuh hati kepada lawan jenisnya, ia memiliki ambisi “mempunyai” yang lebih besar dibanding seorang teman atau sebuah benda. Jika seorang teman dan benda yang merasa kita punyai menghilang dari pandangan kita, tentu kita turut bersedih hati dan berbela sungkawa. Mungkin ada beberapa kasus yang menganggap teman atau benda kepunyaannya itu yang ketika menghilang, galaunya melebihi seseorang yang memiliki kekasih. Tapi dalam kasus berpacaran atau bahkan hingga menikah, kita diajarkan tentang teman hidup sampai mati dalam balutan “ikatan suci” yang tidak ditemui dalam kasus pertemanan dan kepemilikan benda.

Meski begitu, relasi seseorang yang dihadapkan dengan teman, kekasih dan benda yang disayanginya tidak terlepas dari momen; mudahnya mengawali tapi sulit untuk mengakhiri.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Bagaimana Kabar Perempuan Hari Ini?

Next Article

Membuka Diskusi tentang Ruang Aman Perempuan dari Film Wadjda

Related Posts
Read More

Buku, Kuburan, dan Kisah Pemancing Gagal

“Kang, novel yang menceritakan kegagalan pemancing sampai seratus kali ini, kenapa sampai terkenal dan dapat penghargaan Nobel? Wong cuma menceritakan kegagalan kok. Padahal kan banyak kisah-kisah pemancing yang lebih cepat dan sukses mendapatkan hasil tangkapannya?”