Nadiem Makarim dan Pergulatan Anak Muda dalam Arus Industri Digital

Nadiem Makarim dan Pergulatan Anak Muda dalam Arus Industri Digital

15 Mei 2026
8 dilihat
5 menits, 50 detik

Indonesia pernah menjadi tanah subur bagi perusahaan rintisan (startup). Tercatat ada 2.300 startup yang bergerak di berbagai bidang. Bahkan Indonesia memiliki startup terbanyak di Asia Tenggara

Tok, tepat pada Kamis (14/5/2026) Nadiem Anwar Makarim, ex Menteri Pendidikan era Jokowi dijatuhi hukuman 18 tahun penjara atas dakwaan kasus korupsi Chromebook. Kabar itu menyita sorotan banyak pihak, termasuk media-media internasional. Banyak yang berpendapat bahwa keputusan jaksa mengabaikan bukti-bukti yang dibawa kuasa hukum Nadiem.

Tulisan ini tidak akan membahas perkara hukuman pada Nadiem Anwar Makarim karena itu di luar kompetensi penulis. Namun, yang selalu kita ingat dari seorang Nadiem adalah sebagai pemuda harapan bangsa, salah satu tokoh penting kalangan muda dalam memasuki tonggak awal bersinarnya industri digital dalam negeri.

GOJEK besutan Nadiem mulai beroperasi sejak 2009 dan dengan cepat mendapatkan banyak mitra dari para pencari nafkah di seluruh tanah air. Banyak orang merasakan manfaat digitalisasi dari platform besutan PT. Karya Anak Bangsa yang didirikan Nadiem tersebut.

Beberapa waktu lalu, saya kembali naik Gojek untuk pergi ke sebuah tempat perbelanjaan. Saya memasuki sebuah supermarket yang namanya mungkin mulai familiar di telinga kita serta sudah bisa ditemui di berbagai kota di seluruh tanah air. Salah satu hal yang cukup membuat saya merenung dan terseret dalam arus resah adalah barang-barang yang dijual di dalamnya, dari mulai alat tulis, perlengkapan dapur, mainan anak, dan semua perangkat rumah tangga—semuanya adalah made in China.

Memang sudah tidak asing kita temui barang-barang made in China di pasaran. Namun, beberapa tahun terakhir, kesadaran akan bangkitnya ekonomi negeri tirai bambu itu telah membuat warga dunia tercengang. China menguasai hampir seluruh dunia. Barang-barang dari dapur China telah menjadi bagian hidup warga dunia. Raksasa jompo China mungkin sudah waktunya bangkit, siap membekuk siapa saja yang tak bisa melindungi dirinya.

Yah, mungkin memang kita tak lagi kuasa menghadapi dopamin konsumerisme. Saat kehidupan sehari-hari makin tersedak, PHK di mana-mana, lapangan kerja menyempit dan konsumsi rumah tangga makin seret. Di situlah hiburan murah, fun yang terjangkau lebih dibutuhkan. Pergi berbelanja atau sekedar melihat-lihat kini jadi penawar dari rasa kebosanan masyarakat industri.

Baca juga Spiritualitas di Tengah Gemerlap Konsumerisme Hari Raya

Memang yang dipandang lebih penting adalah periuk tetap aman, dapur tetap mengepul. Bagaimana pun caranya, profit yang tinggi harus segera dikeruk. Begitu logika pasar yang semakin liberal menjadi bagian dari hidup kita saat ini. Sehingga kabar tentang perusahaan anak bangsa kebanggaan itu — “GOTO” yang dikabarkan akan segera diakuisisi oleh GRAB, pesaing beratnya di pasar Indonesia dan Asia Tenggara kembali bergulir sepanjang 2025 lalu. Sampai saat ini dikabarkan proses akuisisi masih menghadapi banyak kendala.

Dalam dunia bisnis, rival jadi mitra memang sudah biasa. Keuntungan lebih menggiurkan daripada aspek idealitas yang intangible. Tentang GRAB yang akan segera mengakuisisi GOTO menjadi pukulan telak bagi banyak kalangan. Bukan tanpa sebab, Gojek dan Grab adalah raksasa jalanan di negeri ini, banyaknya mitra, dan merchant menggantungkan nasib hidup di dalamnya.

Gojek yang awalnya adalah besutan PT. Aplikasi Karya Anak Bangsa yang didapuk oleh Nadiem Makarim pada 2009 lalu itu terus mengalami pertumbuhan yang luar biasa dari tahun ke tahun. Bersamaan dengan penggunaan teknologi digital yang makin masif, Gojek terus meningkatkan layanannya hingga menggaet banyak mitra dengan layanan tak hanya ojek online atau go-car, namun juga go-food, go-mart, go-send, go-box, go clean, go-healthy, dll.

Pertumbuhan Gojek yang signifikan turut membuat industri startup tanah air makin percaya diri. Setidaknya tahun 2015 bisa dibilang masa kejayaan startup di negeri ini. Banyak startup indonesia mendapat kucuran investasi baik dari dalam negeri atau luar negeri.

Gojek dan Tokopedia—yang merupakan platform belanja online, keduanya sukses mengeruk pasar domestik dan menempatkannya menjadi unicorn dengan valuasi hampir 1 miliar USD. Pada Mei 2021, Gojek dan Tokopedia sebagai raksasa startup tanah air melakukan merger, dengan berubah menjadi PT Goto Group, hal itu mengantarkan keduanya menjadi decacorn tanah air dengan valuasi lebih dari 30 miliar USD.

Indonesia memang menjadi tanah subur bagi perusahaan rintisan (startup). Tercatat ada 2.300 startup yang bergerak di berbagai bidang. Bahkan Indonesia memiliki startup terbanyak di Asia Tenggara (katadata.id).

Hal ini jelas mencerminkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam industri teknologi dan kewirausahaan. Namun, angin segar startup ternyata tak begitu bertahan lama. Pada pertengahan 2020 tercatat sejumlah startup mulai berguguran dan memicu PHK massal. Pandemi Covid-19, iklim ekonomi global, dan gejolak geopolitik menjadi pemicu bergugurnya sejumlah startup.

Tak hanya Gojek, startup seperti Zenius, sebuah platform pembelajaran yang sudah beroperasi lebih dari 10 tahun terpaksa menutup sementara dan merumahkan lebih dari 200 karyawan (tempo.co).

Baca juga Nganggur.. Kapan Kita sudahi?

Sebenarnya industri startup memang menunjukkan iklim positif. Pemerintah sejak awal turut mendorong perkembangan industri ini melalui berbagai program, seperti bantuan pendanaan, membuat kebijakan yang inovatif, dan mendorong perkembangan infrastruktur digital. Semua itu telah mendorong startup ke arah yang lebih dinamis. Namun, tantangan lain seperti masifnya startup besutan negara lain untuk turut meramaikan pasar dalam negeri menyimpan kompleksitas lain.

Platform belanja online seperti Shopee—besutan negeri tirai bambu yang bersaing ketat dengan Tokopedia, serta Grab yang bersaing ketat dengan Gojek. Rivalitas di antara mereka memang sangat panas. Mau tidak mau Gojek telah menjadi kebanggaan negeri ini dalam memasuki ekosistem bisnis digital dunia. Kabar akuisisi jelas mematahkan hati banyak orang, memicu banyak pro kontra seperti menguatnya kembali isu tentang entitas asing.

Sebenarnya bukan masalah asing atau lokal, memang perusahaan asing seperti Grab masuk ke Indonesia melalui skema penanaman modal asing (PMA), sehingga yang dipekerjakan memanglah hampir 90% orang indonesia. Namun begitu, perihal akuisisi lebih banyak menyentuh soal harga diri. Setelah Tokopedia diakuisisi TikTok pada kuartal pertama 2024, agaknya perasaan publik menjadi lebih sensitif. Pertanyaan seperti, “apa lagi yang kita punya?”, menyinggung hati terdalam.

Ini bukan hanya soal asing atau nasionalisme. Seperti kata Bung Hatta, bahwa tak mungkin membangun bangsa ini hanya dengan sebuah pacul saja, dengan tiada bantuan modal dan alat-alat modern (Mohamad Hatta, Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun). Skema PMA memang telah banyak memberikan dampak positif bagi pembangunan dalam negeri. Namun mengenai isu akuisisi beberapa startup dalam negeri adalah soal konsumen dan pasar.

Betapa banyak mitra yang dimiliki Gojek yang akan kena imbasnya? Hal itu agaknya tak begitu penting bagi pemodal. Padahal bagi konsumen dan mitra jelas, akan memicu dampak yang besar. Dengan hanya ada satu produk dan tanpa persaingan, akan memicu kenaikan harga layanan. Kita jatuh dalam sistem monopoli pasar. Ketika akuisisi terjadi maka kekuatannya menjadi lebih besar sehingga apa yang seharusnya ada dalam sistem ekonomi yang ideal, yaitu adanya persaingan sempurna tidak terjadi.

Di mana Peran Negara?

Peran Negara dan praktik monopoli dalam dunia modern agaknya tak bisa dipisahkan. Menurut Bob Jessop, Professor di bidang ekonomi dan politik, bahwa negara dapat dilihat sebagai bagian luas dari hubungan sosial (social relations). Proyek dan kekuasaan negara merupakan sesuatu yang melekat di dalamnya (Bob Jessop, 2010. Redesigning the state, reorienting state power, and rethinking the state).

Relasi antara negara dan ekonomi terus mengalami perdebatan, namun di zaman modern ini banyak kalangan memandang negara sebagai kekuatan penyelamat ketika negara dengan berbagai kekuatan kebijakan yang dapat dimainkan, maka negara itu dapat memproteksi penduduknya dari persaingan ekonomi global. Hal ini termasuk dalam proteksi usaha dalam negeri atau mengelola keran export-import dengan lebih bijaksana.

Baca juga Apa yang Keliru Ketika Ulama Menjadi Tamu Tetap Istana?

Kita tentu berharap banyak dengan pemerintah. Namun, seberapa besar kekuatan sebuah negara dalam menghadapi globalisasi?

Joseph Stiglitz, pemenang hadiah nobel bidang ekonomi menyebut globalisasi menampilkan dua wajah berbeda pada waktu yang sama; Globalisasi dapat membantu meningkatkan PDB beberapa negara. Namun, peningkatan PDB tidak selalu berarti akan meningkatkan taraf hidup kesejahteraan masyarakatnya.

Menurut Stiglitz, tidak perlu ada pro-kontra terhadap globalisasi, tetapi yang harus dicermati adalah dua sisi globalisasi yang berlangsung di sekitar kita, yaitu sisi positif dan sisi gelap sekaligus. Dalam pasar ekonomi modern, apa yang disebut MNC, sebagai organisasi raksasa dapat menjangkau seluruh dunia, menyatukan pasar, teknologi, dan modal yang ada di negara-negara maju dengan kemampuan produksi yang dimiliki negara berkembang (Abdul Aziz SR, 2018. Ekonomi politik Monopoli).

Pada akhirnya, dalam sistem ekonomi liberal kita memang tak lagi bergelut tentang asing dan anti asing. Profit jelas lebih menggiurkan banyak kalangan daripada entitas nasionalisme atau apapun yang intangible, namun di sana ada hal yang lebih subtil. Tentang entitas sebuah bangsa, tentang sebuah nama yang membawa beban kehormatan, di mana kita taruh. Mungkin tidak berlebihan jika akhirnya terlintas suatu pertanyaan dalam pikiran kita, apakah kasus yang menimpa Nadiem berkorelasi pada banyak hal?

Profil Penulis
Umi Nurchayati
Umi Nurchayati
Penulis Tsaqafah.id

44 Artikel

SELENGKAPNYA