Ottoman dan Ternate: Antara Ingatan yang Jauh dan Rumah yang Dekat

Ottoman dan Ternate: Antara Ingatan yang Jauh dan Rumah yang Dekat

26 Januari 2026
122 dilihat
3 menits, 26 detik

…jauh di timur, di kepulauan rempah yang kelak dinamai Maluku, berdiri sebuah kekuatan Islam yang tak kalah berani menghadapi imperium Eropa: Kesultanan Ternate.

Dalam setiap ceramah, diskusi sejarah Islam, atau unggahan kebanggaan peradaban, nama Kesultanan Ottoman hampir selalu menjadi rujukan utama. Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih, meriam raksasa, dan tembok Romawi—semuanya diulang, dipuja, dan dirayakan. Kita menghafalnya dengan penuh semangat, seolah peradaban Islam hanya pernah besar sejauh mata memandang ke barat.

Turki adalah masa lalu yang agung. Namun Indonesia—dan Nusantara—adalah masa depan yang seharusnya kita rawat dengan kesadaran sejarahnya sendiri. Jika kita gemar menengok ingatan lama, mengapa tidak kita tengok pula Kesultanan Ternate, atau Kesultanan Gapi, yang jejak kekuasaannya tak kalah epik, dan kisah perjuangannya tak kalah heroik?

Bukan karena membenci, bukan pula karena ingin merendahkan. Namun sebagai anak negeri dan anak sejarah, ada rasa miris yang sulit ditepis: mengapa kita begitu bangga pada imperium yang jauh, sementara kita abai pada imperium Islam yang pernah berdiri gagah di tanah sendiri?

Baca juga Baghdad dan Nostalgia Peradaban yang Hilang

Namun Indonesia—dan Nusantara—adalah masa depan yang seharusnya kita rawat dengan kesadaran sejarahnya sendiri. Jika kita gemar menengok ingatan lama, mengapa tidak kita tengok pula Kesultanan Ternate, atau Kesultanan Gapi, yang jejak kekuasaannya tak kalah epik, dan kisah perjuangannya tak kalah heroik?

Ottoman dan Ternate: Dua Imperium, Dua Medan Sejarah

Kesultanan Ottoman dikenang karena keberhasilannya mengakhiri dominasi Romawi Timur. Tahun 1453 menjadi penanda runtuhnya Konstantinopel di tangan Muhammad Al-Fatih, seorang pemuda berusia 21 tahun, dengan pasukan besar—diperkirakan antara 80.000 hingga 200.000 tentara, didukung artileri mutakhir dan ratusan kapal perang. Namun jauh di timur, di kepulauan rempah yang kelak dinamai Maluku, berdiri sebuah kekuatan Islam yang tak kalah berani menghadapi imperium Eropa: Kesultanan Ternate.

Di bawah Sultan Ba’abullah, Ternate berhadapan langsung dengan Portugis—salah satu kekuatan kolonial paling agresif pada abad ke-16. Tanpa meriam raksasa ala Eropa, tanpa teknologi modern seperti Ottoman, Sultan Ba’abullah menghimpun sekitar 2.000 armada kora-kora dan lebih dari 120.000 prajurit, yang bersumpah setia untuk mempertahankan tanah, iman, dan martabat negeri mereka, ini bukan sekadar perang wilayah, ini adalah perang harga diri, perang keyakinan, dan perang melawan penjajahan.

Baca juga Tari Gandrung Banyuwangi dalam Pusaran Sejarah

Sultan Ba’abullah: Anak Muda, Duka, dan Sumpah Perlawanan

Jika Muhammad Al-Fatih dikenal sebagai simbol pemuda visioner Islam, maka Sultan Ba’abullah adalah simbol pemuda Nusantara yang bangkit dari luka terdalam. Ayahnya, Sultan Khairun Jamil, dibunuh secara licik oleh Portugis dalam perundingan damai. Sebuah pengkhianatan yang mencabik bukan hanya keluarga kerajaan, tetapi kehormatan sebuah bangsa.

Dari peristiwa itulah Kaicil Baab—yang kelak dikenal sebagai Sultan Ba’abullah—mengikrarkan sumpah soya-soya, sumpah perlawanan total. Ia menyerukan jihad, bukan dalam makna sempit, tetapi sebagai perjuangan membebaskan tanah dari penjajahan dan ketidakadilan.

Selama lima tahun pengepungan, Portugis akhirnya dipaksa angkat kaki dari Ternate pada tahun 1575. Peristiwa ini menjadikan Ternate sebagai wilayah pertama di Nusantara yang berhasil mengusir kekuatan kolonial Eropa secara total. Sebuah capaian yang jarang kita sebut, bahkan sering kita lupakan.

Islam dan Kekuasaan: Dakwah yang Bertumpu pada Kedaulatan

Sering kali kita mengagungkan peran Muhammad Al-Fatih dalam menyebarkan Islam, dan itu sepenuhnya layak. Namun jarang kita sadari bahwa Sultan Ba’abullah pun memiliki visi dakwah yang luas dan terstruktur. Ia mengundang ulama dari tanah Arab, menjadikan Ternate sebagai pusat pembelajaran Islam, dan mengirim mubalig ke berbagai wilayah kekuasaannya. Islam tidak hanya tumbuh sebagai agama istana, tetapi sebagai identitas masyarakat kepulauan.

Baca juga Saat Bunyi Menegaskan Tauhid: Membaca QS. Al-Ikhlas secara Fonetik

Di bawah kepemimpinannya, wilayah kekuasaan Ternate membentang luas—meliputi 72 pulau, menjangkau wilayah Maluku, Sulawesi, Papua, bahkan hingga Kepulauan Marshall di Pasifik dan Filipina selatan. Ini bukan kerajaan kecil di pinggir sejarah ini adalah imperium maritim Islam Nusantara.

Mengapa Kita Lebih Menghafal yang Jauh, Melupakan yang Dekat? Pertanyaan ini seharusnya menggugah kita semua: mengapa kisah Ternate jarang menjadi rujukan utama dalam narasi kejayaan Islam? Apakah karena ia tidak tercatat dalam buku-buku sejarah Eropa?Apakah karena kita terlalu lama diajari melihat kebesaran dari luar, bukan dari dalam?

Padahal negeri ini adalah rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia. Ironis jika kita bangga sebagai umat, namun tidak mengenal akar peradaban Islam di tanah sendiri. Kita fasih menyebut Konstantinopel, tetapi gagap menyebut Gapi. Kita hafal Al-Fatih, tetapi ragu menyebut Ba’abullah.

Membanggakan Diri Tanpa Merendahkan yang Lain

Tulisan ini bukan seruan untuk meninggalkan Ottoman, bukan pula upaya membandingkan secara dangkal. Ini adalah ajakan untuk berdiri lebih tegak sebagai anak negeri—menghormati sejarah Islam global tanpa kehilangan kebanggaan lokal.

Kesultanan Ottoman adalah warisan umat Islam dunia. Namun Kesultanan Ternate adalah warisan kita sendiri. Di tanah ini pernah berdiri sebuah imperium Islam yang besar lahir seorang sultan yang gagah, tegas, dan visioner, Namanya Sultan Ba’abullah, dan negerinya bernama Ternate. Semoga Muhammad Al-Fatih dan Sultan Ba’abullah bangga melihat kita bukan karena hafalan kita tentang masa lalu, tetapi karena keberanian kita merawat ingatan dan masa depan.

Baca juga Nalar Hayat Isra Miraj

Profil Penulis
Abu Salam Rerry
Abu Salam Rerry
Penulis Tsaqafah.id
Guru Sejarah Kebudayaan Islam MTsN Batumerah Ambon

2 Artikel

SELENGKAPNYA