Pandemi dan Pendidikan Pesantren yang tak Kenal Mati

Pandemi dan Pendidikan Pesantren yang tak Kenal Mati

25 September 2021
536 dilihat
3 menits, 40 detik

Tsaqafah.id Sudah setahun lebih Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia dan menjadikan negara kita masuk dalam status pandemi. Adanya pandemi ini sangat berdampak dalam semua sektor kehidupan, tak terkecuali pendidikan. Kegiatan pendidikan yang biasanya terlaksana secara tatap muka kini dialihkan melalui kegiatan daring. Hal ini sangat berpengaruh bagi semangat peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar, yang pastinya juga berpengaruh pada capaian belajar peserta didik. Belum lagi adanya ancaman eksternal seperti kesulitan ekonomi yang dirasakan wali murid sehingga menyebabkan sang anak putus sekolah.

Hampir semua lembaga pendidikan merasakan hal yang sama, termasuk pesantren. Semua kegiatan di Pesantren yang biasa berjalan dengan kondisi normal untuk saat ini  harus dilaksanakan secara terbatas. Dari kegiatan belajar mengajar, kepengurusan, bahkan kegiatan peringatan Haul Kyai misalnya, semua dilaksanakan dengan protokol yang ketat dan terbatas. Tentunya hal ini dirasa kurang nyaman bagi para santri, khusunya untuk psikologis mereka.

Komunikasi Kyai dan Santri

Seperti yang diketahui adanya pandemi seakan menjadi sekat pembatas hubungan seseorang, termasuk hubungan antara kyai dan santri. Semenjak pandemi komunikasi antara kyai dan santri sangat terpengaruh. Pertemuan mereka dalam situasi pandemi sekarang sangat terbatas. Hal ini terpaksa dilakukan demi kebaikan bersama. Proses belajar mengajar yang dilaksankan oleh kyai dan santri kini juga berbeda dari zaman sebelum pandemi. Jika biasanya santri ketika belajar terbiasa bermuwajahah dengan kyainya, untuk sekarang intensitas bertemu sangat dikurangi. Bahkan untuk bersalaman saja dilarang. Sekarang para santri memiliki jarak yang cukup jauh dengan para kyainya. Biasanya mereka mengaji dalam satu ruangan, kini mereka berada di ruang yang berbeda. Sang kyai akan membacakan kitab dari ndalem yang disiarkan secara daring dan para santri akan mengikutinya melalui siaran layar digital di aula.

Intensitas pertemuan yang menurun ini sangat berpengaruh bagi emosional santri, padahal dalam dunia pesantren pokok pembelajarannya ada ketika seorang santri dan kyainya bertemu. Lantas apabila hal ini terjadi maka pendidikan di pesantren akan mati? Mampukah pesantren sebagai lembaga terdepan dalam mengembangkan pendidikan Islam bertahan di tengah keadaan pandemi yang belum diketahui kapan berakhirnya?

Baca juga; Sikap Pesantren dalam Menangani Covid-19

Transformasi Pesantren Bertahan di Segala Zaman

Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, eksistensi pesantren tak pernah diragukan. Jasa dan kontribusi rillnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Sejak masa kerajaan, pesantren sudah menghasilkan kader pejuang yang kuat. Raden Fattah, pendiri Kesultanan Demak adalah seorang santri dari walisongo. Dalam catatan sejarah, selama kepemimpinannya di Kesultanan Demak ia berhasil mendirikan pemerintahan yang adil dan makmur. Lalu kita menuju zaman prakemerdekaan. Seperti yang lazim diketahui banyak sekali pejuang kemerdekaan yang merupakan seorang santri, seperti Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan. Tokoh-tokoh tersebut cukup menjadi bukti bahwa pesantren adalah lembaga yang selalu bisa memposisikan diri seiring berkembangnya zaman.

Di samping menjadi wadah kaderisasi umat dan benteng moral bangsa, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam juga dituntut untuk selalu berbenah diri menghadapi tantangan perubahan zaman. Perkembangan sistem informasi, teknologi, dan derasnya arus globalisasi menjadi bukti bahwa pesantren tidak boleh terlena dengan capaian yang ada. Mau atau tidak inilah tantangan yang harus dihadapi oleh pesantren.

Kehadiran pandemi menjadi tantangan baru bagi dunia pesantren. Ditengah kesibukan pesantren dalam menghadapi arus globalisasi dan memperbaiki moral bangsa, kehadiran pandemi bisa dibilang mengejutkan. Eksistensi pesantren dengan ciri khas pembelajaran yang diterapkan di dalamnya pun menjadi hal yang cukup menarik untuk disimak, terlebih selama ini kita tahu bahwa pesantren selalu sukses menghadapi berbagai model perubahan zaman. Lantas bagaimana pesantren berhasil bertahan di masa pandemi ini?

Pembelajaran Pesantren Masa Pandemi

Adanya pandemi bukanlah halangan bagi pesantren untuk melaksanakan pembelajaran. Di masa pandemi pembelajaran pesantren mengalami perubahan sistem yang cukup signifikan. Muwajahah atau tatap muka dalam kegiatan mengaji kini sedikit berbeda. Di beberapa pesantren, pengurus berusaha meminimalisir kegiatan-kegiatan yang berpotensi menimbulkan efek negatif, dalam hal ini menjadi kluster baru penyebaran virus.

Baca juga; Pesantren Online, Kenapa Tidak?

Selain kegiatan mengaji dengan protokol kesehatan yang ketat serta tidak adanya pertemuan langsung secara tatap muka dengan kiyai, ada juga kegiatan tahunan seperti Haul Masyaikh ataupun Haflah Ikhtitam yang biasanya digelar untuk umum, pada masa pandemi seperti ini harus diadakan secara tertutup. Sedangkan untuk para santri yang sudah tidak bermukim di pesantren bisa mengikuti secara daring melalui platform media pesantren yang sudah tersedia. Hal ini menjadi sebuah keharusan agar semua kegiatan pembelajaran di pesantren tetap berjalan.

Jika dilihat secara sekilas, beberapa cara pembelajaran di atas memang cukup merepotkan, apalagi jika para santri belum begitu paham perihal teknologi. Tapi setidaknya ada beberapa sisi positifnya. Secara tidak langsung para santri akan belajar untuk menggunakan alat-alat media seperti kamera, sound, dan alat penunjang streaming lainnya. Ketika para santri sudah terbiasa dengan alat-alat tersebut maka akan muncul kreatifitas tersendiri dari mereka, dan efek yang ditimbulkan cukup baik untuk perkembangan media digital pesantren. Dalam rangka nasyrul ‘ilmi, Pesantren tidak terpaku dengan media yang itu-itu saja. Kini pesantren juga sudah bertransformasi ke dunia media digital, tentunya ini menjadi perkembangan yang sangat baik terlebih dalam menghadapi globalisasi.

Akhirnya bisa kita simpulkan bahwa pesantren tidak pernah kehabisan akal untuk menghadapi segala dinamika perubahan zaman. Pesantren adalah lembaga yang siap sedia dengan segala keadaan, singkat kata pesantren tidak pernah mengenal kata mati ataupun berhenti.

Baca juga; Kewajiban Belajar, Latihan Berekspresi, dan Ancaman Menjadi Sotoy

Profil Penulis
Amarros Afiq Muhammad
Amarros Afiq Muhammad
Penulis Tsaqafah.id
Santri PTYQ Menawan Kudus yang masih betah di pondok meski sudah sewindu lamanya. Untuk sekarang tercatat sebagai mahasiswa FKIP UNS angkatan 2021 (maba) dan sangat tertarik tentang kajian pendidikan. Bisa dihubungi secara daring via akun Instagram @amarrosafiq

3 Artikel

SELENGKAPNYA