Pandemi dan Laku Agama yang Tak Direstui

Pandemi dan Laku Agama yang Tak Direstui

24 Juli 2021
50 dilihat
3 menits, 6 detik

Tsaqafah.id – Tidak lagi ustaz, pendeta dan rabi yang menyebut virus korona sebagai tentara Allah, tapi seorang siswi sekolah menengah atas di Yogyakarta yang berani menampik anjuran Ibunya yang melarangnya mengikuti Ziarah Wali di Jawa Tengah.

Sang Ibu yang bermukim di Jakarta merasa sangat khawatir. Jarak membuat dia tidak bisa mengawasi anaknya secara langsung. Berulang-ulang sang ibu berusaha mencegah dengan menjelaskan bagaimana dampak korona.

Sayang seribu sayang, setelah berpanjang lebar, alih-alih mentaati, remaja itu malah mendebat ibunya. Dia bersikukuh berangkat. Dan meninggalkan pesan kepada orang tuanya, “Kena atau tidak itu kersane Gusti Allah! Serahkan saja, ridhonya saja, kalau ridho InsyaAllah selamat.

Tidak berhenti di situ, santriwati pesantren di Yogyakarta itu seolah-olah hendak mengaduk-aduk derajat keimanan ibunya. Dia memungkasi demikian ”Jangan sampai hilang keyakinannya, kalau ada yang bisa menjaga kita. Apalagi aku ini pergi untuk ziarah.”

Tidak jauh berbeda dengan pengalaman di atas, ada cuitan menohok dari akun Twitter perempuan Palestina @Rozb7aleeb yang menyebut “My grandma is killing me.

Perkataan itu keluar setelah dia mencoba mengingatkan neneknya yang usai kembali dari Amerika supaya berhati-hati dengan pandemi ini. Tapi kekhawatiran itu dijawab dengan begitu santai oleh neneknya, “What Allah wants to happen will happen.”

Dua contoh kasus itu hanya membasahi kerongkongan agama yang dihadapkan dengan pandemi  Covid-19. Keduanya tumpang dalam mengimani keyakinannya sendiri terhadap agama dan ilmu pengetahuan. Di sini, saya tidak sedang menghukumi apa-apa, namun kedua perkara ini menarik garis singgung fungsi integral antara takwa dan kasb/ikhtiar.

Dari dua pengalaman hidup itu, ingatan saya terbias pada cerpen Robohnya Surau Kami yang ditulis oleh AA Navis. Dalam cerita itu, AA Navis mencoba membaca mafsadah umat beragama yang, enggan mengimbangi antara struktur-struktur ukhwari dan duniawi. Dengan kata lain, AA Navis sedang mengomentari fenomena keagamaan yang “tak direstui.”

Dia menceritakan seorang kakek penjaga langgar yang kerjanya hanya sembahyang, zikir dan puasa sambil melepaskan tanggung jawab duniawi, sampai surau itu sendiri roboh sedang si kakek malah dimarahi tuhan di alam akhirat.

Baca Juga: Rutinitas dan Kebermaknaan di Titimangsa Pandemi

Kesehatan dan Teologi Epidemi

Persis seperti yang sudah dinash dalam Islam, bahwa proyeksi agama adalah sa’adatuddarain, kebahagiaan dunia dan akhirat. Usaha menuju proyeksi itu dan alat melaksanakan tanggung jawab sebagai makhluk beriman, manusia dibekali dengan dua kekuatan; kekuatan berpikir (quwwah nazhariyah) dan kekuatan fisik (quwwah ‘amaliyah).

Sebab itu, tidak elok kiranya daya guna akal dipendam di dalam samudera ketakwaan belaka. Penguatan potensi rasio, khususnya, berperan membenahi dialog ketakwaan kita untuk membaca perubahan zaman (‘alal aqil an yakuuna ‘arifan bizamanihi). Rasionalitas yang dikelola dengan benar tidak akan menjerumuskan keyakinan kita, ia mempertebal keyakinan teologis kita pada kekuasaan-Nya. Sebab lain adalah berkenaan dengan posisi ilmu pengetahuan dalam tatanan Islam yang memiliki dua standar pokok, yaitu standar ketuhanan dan kemanusiaan.

Dalam perspektif Fikih, persoalan Covid-19 ditinjau melalui pengaturan Islam bertitik tumpu pada faktor kesehatan secara umum. Meskipun demikian tidak jarang pandangan masyarakat tentang kesehatan masih terlalu sempit dan terisolasi. Kesehatan dipandang sebagai sesuatu yang alami, akan menimpa setiap orang sehingga tak perlu dipermasalahkan lagi.

Kesehatan sering diperlakukan oleh banyak orang secara statis belaka. Jarang sekali ada upaya khusus dalam melestarikan kesehatan. Budaya antisipasi lebih cepat bekerja ketika penyakit itu sudah didera. Karena itu yang muncul kemudian adalah kesadaran akan sakit dan berobat.

Dalam kondisi epidemi ini, quwwah nazhariyah diberdayakan untuk mengetahui cara penularannya. Hal ini sebenarnya menjadi penting dan berpengaruh besar bagi pencegahannya.

Baca Juga: Ekspresi Beragama di Masa Corona

Saya cenderung kurang bersepakat dengan siswi atau anak perempuan itu. Memang pasal kepercayaan dan keberaniannya sangat positif secara mentalitas. Sebab mental health sangat dibutuhkan guna menjaga imunitas jasmani. Tapi, ia melewatkan kekhawatiran-kekhawatiran orang tua yang lebih peka terhadap kesehatan. Dan keluarga adalah ruang sosial awal yang menyadarkan itu. Unsur kesadaran antisipatif pada soal kesehatan ini menjadi titik teologi epidemi yang sanggup membangun kesadaran kolektif dalam pencegahan virus. Meskipun perlu diingat kembali bahwa wabah itu bukan hanya soal medis, tapi juga soal perilaku sosial.

Ala kulli hal, sebelum surau kita benar-benar roboh dan sebelum kita dimarahi Tuhan di akhirat nanti, mari perbaiki keyakinan-keyakinan teologis kita dalam upaya pencegahan epidemi coronavirus ini.

Ketika artikel ini tengah kutulis, tiba-tiba ada pemberitahuan pesan baru Whatssap  yang ternyata dari Ayah di rumah. Dia berpesan supaya berhati-hati dan sering-sering membaca shalawat. Semoga bangsa Indonesia diberi aman.

*Tulisan ini sudah pernah dipublish di gusdurian.net (tapi hilang). Dipublish kembali buat kepentingan informasi dan pendidikan.

Profil Penulis
Afrizal Qosim
Afrizal Qosim
Penulis Tsaqafah.id
Kolumnis, Alumni Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga dan Santri PP Al Munawwir Krapyak.

26 Artikel

SELENGKAPKNYA