Penutupan #NyantriKilat: Bulan Ramadhan itu Madrasah dan Kurikulumnya Adalah Al-Qur’an

Di bulan Ramadhan ini, kita tidak hanya memperingati kapan al-Qur’an turun. Tapi kita juga memperingati apa-apa yang terkandung dalam al-Qur’an.”

Tsaqafah.id – Sabtu malam (8/5) kelas intensif ngaji online #NyantriKilat resmi ditutup. Kegiatan ini diikuti 50 santri dari berbagai latar belakang dan berlangsung kurang-lebih dua puluh lima hari selama bulan Ramadhan. Para peserta ditemani mengkaji ilmu-ilmu dasar keislaman dalam bidang al-Qur’an, hadis, tauhid dan fikih bersama ustaz-ustazah yang rata-rata alumni pesantren Krapyak.

#NyantriKilat sendiri merupakan bentuk adaptasi dari pesantren kilat yang umum diselenggarakan di pesantren, berhubung pandemi Covid-19 masih meranggas, dua founder Neng Atika Gunardho dan Neng Sulma Safinatushofiyah menginisiasi majlis keilmuan ini dengan nuansa yang lebih modern, melalui aplikasi teleconference. Pun untuk mengobati dahaga alumni dan kalangan muslim yang haus akan mencecap kajian keislaman ala pesantren.

Dalam sesi ikhtitam yang sekaligus dibarengi dengan peringatan Nuzulul Qur’an ini #NyantriKilat menghadirkan seorang pembicara yaitu Gus Waffada Najiyya, S. Th.i, M.A dari Pondok Pesantren al-Fattah, Bintoro, Demak.

Di sesi ini, Gus Waffada—sapaan akrabnya—mencoba menjabarkan makna dari peringatan Nuzulul Qur’an secara ilmiah. Diawali dari konteks ayat yang turun pertama kali yaitu Surah al-‘Alaq.

“Esensi ayat Iqra’ itu belajar. Kalau kita bicara Iqra’; itu akar kata qara’a, kalau kita cek di kamus-kamus al-Qur’an. Makna dasar dari qara’a itu mengikuti huruf sebelumnya. Dari keterangan tersebut, al-Qur’an itu diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw untuk membenarkan dan meneruskan kitab-kitab dan ajaran-ajaran sebelumnya, mushoddiqon lima baina yadayhi,“ tukas alumni Madrasah Huffadh Krapyak tersebut.

Berkaitan dengan al-Qur’an yang diturunkan pertama kali tepat di bulan suci Ramadhan, Gus Waffada menyebutkan bahwasannya Ramadhan itu syahrul qur’an sebab itu bulan Ramadhan itu bisa disebut sebagai madrasah, dan kurikulumnya adalah al-Qur’an.

“Karena itu,” lanjut pembicara yang alumni Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga itu, “bahwa di bulan Ramadhan ini, kita tidak hanya memperingati kapan al-Qur’an turun. Tapi kita juga memperingati apa-apa yang terkandung dalam al-Qur’an.”

Baca Juga: Pengalaman Ngaji Ramadan Bareng 20 Ulama Perempuan Nusantara

Selanjutnya, Gus Waffada mewanti-wanti dengan menyebut 3 karakter seorang muslim yang oleh Allah swt diwarisi atau ditakdirkan dekat dengan al-Qur’an sembari menyitir kandungan Surah Fathir ayat 32.

Ketiga golongan tersebut adalah; pertama, dhoolimun linafsihi, golongan yang mendholimi dirinya sendiri. Dia tahu kebenaran tapi dia tetap maksiat. Kedua, faminhum muqtashid, . . . . . . golongan washathiyyah, yaitu mereka yang kadar kebaikannya berbanding lurus dengan kesalahannya. Ketiga, waminhum saabiqun bilkhoirot, yaitu mereka yang selalu tanggap dalam berbuat kebaikan, kebaikannya banyak dan sedikit melakukan kesalahan. Kabar baiknya, pada akhirnya ketiga golongan tersebut nanti mendapat fadhol dari Allah, mereka nanti intinya masuk surga semua.

Lazimnya sebuah penutupan, #NyantriKilat memberikan ruang berbagi kepada para peserta untuk mengutarakan kesan dan pesan selama mengikuti kelas intensif ini.

Salah seorang santri bernama Ekky Pagau, misalnya memberi kesan bahwa “Berkat nyantrikilat kita bisa menyambung silaturahmi. Semoga kita semua bisa bertemu lagi di kelas #nyantrikilat selanjutnya.”

Santri bernama Yogi Tri Sumarno lain lagi, ia menyebut apabila “Ini pesantren kilat tapi tidak kayak pesantren kilat. Bisa nyambung sanad ke Krapyak, ngalap barokah ke Krapyak.”

Dari pihak Asaatidz yang diwakili oleh Ustaz Ahmad Ishom Syahin juga memberikan sebuah permohonan dengan penuh optimis.

“Mewakili dewan Asaatidz kami meminta maaf, kalau ngajinya belum memuaskan, pertanyaannya belum sepenuhnya terjawab. Tapi saya yakin, di mana ada halaqah ilmu, di situ ada malaikat-malaikat yang siap mendoakan segala harapan kita. Saya juga berpesan, jangan merasa puas dengan ilmu yang sudah diterima. Tetap belajar,” tukas Ustaz pengampu kajian hadis Arba’in Nawawi tersebut.

Baca Juga: Santri, Literasi, dan Spirit Iqra Nabi

Sementara itu, dari pihak penyelenggara #NyantriKilat yang diwakili oleh Neng Atika Gunardho juga memberikan ucapan terima kasih dan permohonan maaf kepada seluruh santri dan dewan Asaatidz.

“Kami selaku penyelenggara mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada para dewan Asaatidz dan para santri #NyantriKilat yang mau membagikan ilmunya, mau beradaptasi di zoom, mau menjawab case-case temen-temen nyantri kilat. Dan tak lupa mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila selama kelas intensif ini berlangsung kami kurang maksimal dan banyak salah,” ujar dzurriyah PP Kyai Parak Bambu Runcing, Parakan Temanggung tersebut.

Neng Atika Gunardho, sembari mengutip KH Asyhari Abta juga menjelaskan bahwa setiap hubungan itu pasti mengenal istilah mantan, tapi ada satu hubungan yang tidak mengenal mantan, yaitu hubungan antara guru-murid.

Kegiatan ini kemudian dipungkasi dengan pembacaan doa yang masing-masing dibawakan oleh Ibu Nyai Hj Jayyidah Muhaiminan Pengasuh PP Kyai Parak Bambu Runcing, Parakan Temanggung dan KH Fairuzi Afiq Dalhar, Pengasuh PP Nurussalam Krapyak Yogyakarta.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Hikmah Membaca Sholawat Nabi dan Keutamaan Sholawat Jibril

Next Article

Dari Kisah Malik bin Dinar Kita Bisa Belajar, Kenapa Kita Diperintahkan untuk Berpuasa

Related Posts