Santri, Literasi, dan Spirit Iqra Nabi

Nabi Muhammad galau, sampai pada akhirnya memilih untuk beruzlah, menepi dan menyepi ke gua Hira guna mengatasi kebuntuan tersebut nabi memerlukan suatu kekuatan transenden dan mendapatkan pencerahan.

Tsaqafah.id – Pernah suatu ketika saya mengikuti sebuah acara diskusi sastra dan budaya di Pondok Pesantren Al-Hidayah Karang Suci Purwokerto tahun 2016 silam.  Diskusi sastra dan budaya tersebut diisi oleh Ahmad Tohari. Beliau adalah seorang sastrawan, budayawan sekaligus kiai dari Desa Jatilawang Banyumas. Di forum itu beliau menceritakan pengalamannya bersama sahabatanya yang bernama Abdurrahman Wahid atau lebih kita kenal dengan  Gus Dur.

Gus Dur mengatakan bahwa perjuangan santri  zaman dahulu dan sekarang berbeda, tirakat santri sekarang dan dulu tentu juga berbeda. Jika seorang santri dulu tirakatnya dengan priatin dan ngrowot, maka santri sekarang tirakatnya harus rajin-rajin melahap buku, buku bacaan apapun

Dari cerita ini, saya kemudian mencoba memaknainya sebagai gerakan literasi santri dalam dunia keilmuannya. Gus Dur memberi isyarat kepada para santri dalam mengisi kemerdekaan dan tirakatnya dengan jalan literasi (membaca dan menulis) karena Gus Dur tahu bahwa perjuangan santri sekarang dan dulu berbeda. Sorang santri selain giat dalam ibadah mahdoh juga harus giat dalam dunia literasi dan kemanusiaan. Hal ini akan membentuk santri yang tidak hanya melek kitab kuning tapi juga kitab putih. Menjadi santri sekaligus seorang intelektual.

Nurcholis Madjid dalam bukunya Tradisi Islam, Peran dan Fungsinya dalam Pembangunan di Indonesia (2008) mengemukakan bahwa umumnya tradisi intelektual Islam Indonesia sekarang masih menghasilkan karya-karya yang terbatas pada hal-hal elementer, bukan pemikiran dan perenungan mendalam. Keadaan tersebut mengesankan adanya kemiskinan intelektual, dan sebagai konsekuensi dari kemiskinan ini adalah rendahnya kemampuan kita dalam memberi responsi pada tantangan zaman.

Untuk memberi responsi pada tantangan zaman itu secara kreatif dan bermanfaat, kita dituntut memiliki kekayaan dan kesuburan intelektual. Kekayaan dan kesuburan intelektual inilah yang disebut sebagai suatu “tradisi intelektual”, karena ia tidak terwujud seketika setelah dimulai penggarapannya, melainkan tumbuh dan berkembang dalam waktu yang panjang. Dan selama masa pertumbuhan dan perkembangan itu terjadi proses penumpukan dan akumulasi pengalaman masa lampau.

Baca Juga: Pengalaman Ngaji Ramadan Bareng 20 Ulama Perempuan Nusantara

Masih menurut Nurcholis ia mengatakan bahwa suatu tradisi intelektual tidak akan memiliki cukup vitalitas jika tidak memiliki keontentikan sampai batas-batas tertentu. Sedangkan keontetikan itu antara lain diperoleh dari adanya akar sejarah.

Jadi tradisi intelektual ini tidak terwujud secara instan, namun dengan proses yang berkesinambungan, kontinyu dan melalui proses yang panjang dengan menginsyafi pemikiran-pemikiran pendahulunya sampai kepada zaman yang paling lampau untuk mendapatkan keontentikan intelektualitas dan ilmu pengetahuan.

Literasi Kenabian

Nabi Muhammad saw  selama 15 tahun (25-40) terus  mengoptimalkan kemampuan . . . . . . akal dan kemampuan teknologis yang dipunyai  untuk mendobrak kejahiliyaan pada masa kegelapan saat itu, hingga pada satu titik akal dan teknologis yang dimiliki oleh Nabi Muhammad saw mengalami kebuntuan dalam mengatasi kebiadaban yang tak pernah usai di masa jahiliyah tersebut. Nabi Muhammad galau, sampai pada akhirnya memilih untuk beruzlah, menepi dan menyepi ke gua Hira guna mengatasi kebuntuan tersebut nabi memerlukan suatu kekuatan transenden dan mendapatkan pencerahan.

Maka kemudian turunlah kekuatan transenden itu, wahyu pertama yang turun ke muka bumi al-A’laq 1-5 yang sampai sekarang diperingati sebagai hari turunnya al-Qur’an, Nuzulul Quran. Namun wahyu tersebut tidak serta merta mengubah zaman kegelapan itu menjadi terang benderang dengan sendirinya. Tapi wahyu  tersebut membantu memberi asupan spirit dan inspirasi pada akal dan teknologis Muhammad yang sedang mengalami kebuntuan.

Selama 15 tahun Nabi mengoptimalkan dan memaksimalkan fungsi akal dan teknologisnya terlebih dahulu sebelum al-Qur’an turun. Baru setelah akal sudah di ambang kelelahan dan kebuntuan, Nabi mendapat spirit dan inpirasi yang luar biasa dari ayat pertama yang turun ke muka bumi, dan itupun tidak serta merta langsung mengubah keadaan, tapi diolah kembali dan digunakan oleh Nabi Muhammad sebagai spirit untuk terus berjuang, produktif dan melakukan kerja kemanusiaan untuk kemajuan peradaban umat manusia dan menyempurnakan akhlak manusia.

Baca Juga: Kartini, Gadis 13 Tahun yang Membuat Sang Mahaguru Menangis

Wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah adalah Iqra, yang artinya bacalah. Betapa Allah memerintahkan umatnya untuk sadar dan melek baca, dalam hal membaca apapun yang ada di langit dan di bumi, membaca fenomena ataupun nomena.

Namun sayangnya di masyarakat kita peringatan Nuzulul Quran seringkali hanya dilihat sebagai kesadaran sejarah saja, yang hanya penuh dengan euforia-euforia, tanpa memaknai dan menggali spirit iqra dari wahyu pertama tersebut. Memaknainya sebagai kesadaran sejarah iya, namun kita sebagai muslim harusnya juga membaca dan memaknai proses turunnya ayat tersebut sebagai wacana gerakan literasi umat Islam dunia. 

Jibril mendekap Rasulullah untuk mentransfer wahyu Iqra selain kita pahami sebagai kesadaran sejarah dimana rasulullah mendapatkan SK Kerasulannya  yang wajib kita imani, pun kesadaran spirit iqra itu juga seharusnya kita maknai sebagai wacana hari literasi umat Islam se-dunia.  Dengan spirit iqra ini, diharapkan umat Islam dapat terus melakukan pembacaan terhadap ayat qouliyah maupun kauniyah secara produktif, progresif demi kemajuan peradaban umat manusia pada umumnya dan umat Islam khusunya. Hingga  spirit iqra ini menjadi tradisi intelektualitas yang mendarah daging di dalam umat Islam itu sendiri. Wallahua’lam Bishhowab.

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Pengalaman Ngaji Ramadan Bareng 20 Ulama Perempuan Nusantara

Next Article

Hikmah Membaca Sholawat Nabi dan Keutamaan Sholawat Jibril

Related Posts