Perempuan dalam Islam: Dulu, Kini, Esok dan Nanti

Gus Miftah dalam salah satu ceramahnya pernah mengatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk bagian kiri, dekat dengan hati, karena pada dasarnya perempuan suka dicintai dan disayangi.

Tsaqafah.id – Perempuan adalah sosok istimewa yang diciptakan Allah. Menjadi seorang anak, pelengkap agama suaminya, dan ibu dari anak-anaknya kelak.

Mereka diciptakan dari tulang rusuk laki-laki untuk dikasihi, disayangi, dan dicintai. Gus Miftah dalam salah satu ceramahnya pernah mengatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk bagian kiri, dekat dengan hati, karena pada dasarnya perempuan suka dicintai dan disayangi.

Dilansir dari islam.nu.or.id, kiasan perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki berasal dari Hadis riwayat Bukhari Muslim, yang artinya;

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah bersabda: “Berwasiatlah (dalam kebaikan) pada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkal nya. Jika kamu coba meluruskan tulang rusuk yang bengkok itu, maka dia bisa patah. Namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasihatilah para wanita.”

Dalam sejarah pra-Islam, kedudukan wanita berbeda dengan kedudukan wanita saat ini. Tidak setara dengan laki-laki, tidak boleh berpendidikan, dianggap lemah fisik dan akalnya, tidak memiliki hak, ruang geraknya dibatasi (hanya di rumah), diperjualbelikan, dikubur hidup-hidup, sebagai pemuas nafsu laki-laki.

Dalam istilah Jawa, perempuan tugasnya hanya macak, masak, manak. Macak artinya berhias/berdandan, masak artinya memasak, manak artinya memberi keturunan.

Kondisi perempuan yang tidak setara dengan laki-laki terjadi di berbagai penjuru dunia pada saat itu.

Baca Juga: Kartini, Gadis 13 Tahun yang Membuat Sang Mahaguru Menangis

Rahayu Amatullah dalam bukunya Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah memaparkan, keterpurukan kondisi perempuan di Barat pada rentang abad ke-18 hingga abad ke-19 bukanlah hal baru. Perempuan di dunia Barat tidak memiliki kedudukan yang diakui sejajar dengan laki-laki. Contoh, di Eropa saat itu rata-rata perempuan tidak mengenyam pendidikan sehingga banyak yang mengalami buta huruf.

Menurut Harkat an-Nisa: Jurnal Studi Gender dan Anak yang saya baca, R. Magdalena menuliskan bahwa Bangsa Arab jahiliyah menerima kehadiran wanita dengan dua cara. Mayoritas mengubur anak . . . . . . perempuannya hidup-hidup, karena seiring dengan hal tersebut, aib keluarga akan turut terkubur.

Tradisi lain, seorang bayi perempuan akan dibesarkan, namun diperlakukan tidak adil dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Tradisi Bangsa Arab jahiliyah tersebut ada dalam firman Allah, QS. An-Nahl: 58-59 yang artinya;  

“58. Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. 59. Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.”

Juga dalam QS. At-Takwir: 8-9 yang artinya;

“8. dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, 9. karena dosa apa dia dibunuh?”

Seiring dengan perkembangan zaman, agama Islam datang membawa keadilan. Perempuan yang mulanya diperlakukan semena-mena, sekarang mulai dipenuhi haknya, kehormatannya setara dengan laki-laki, ruang geraknya diperluas (tidak hanya di rumah), diperbolehkan mengenyam pendidikan, dan diakui keterlibatannya bersama laki-laki di berbagai bidang pekerjaan.

Baca Juga: Bagaimana Kabar Perempuan Hari Ini?

Dalam Islam, wanita itu sangat mulia dan memiliki banyak keistimewaan. Kata “wanita” pun dijadikan salah satu nama surat dalam al-Qur’an, yakni Surat An-Nisa’. Hal tersebut adalah bukti bahwa Islam sangat memuliakan seorang wanita.

Dilansir dari kumparan.com, keistimewaan seorang wanita diantaranya wanita shalihah sebagai perhiasan dunia, wanita adalah karunia bukan musibah, wanita shalihah lebih baik dari bidadari-bidadari surga, wanita diberi pengecualian dalam beribadah, wanita yang  hamil dan melahirkan setara dengan jihad, dapat masuk surga lewat pintu manapun, dan surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Di era digitalisasi seperti sekarang ini, kadang banyak yang lupa akan harkat dan martabat seorang wanita. Selain, meninggikan derajat perempuan, Islam juga mengatur bagaimana seorang muslimah dalam berpakaian, dan urusan lainnya. Jadi, kita sebagai perempuan penerus perdaban, semoga dapat menjadi seorang muslimah yang beriman, menjaga harkat dan martabatnya sebagaimana Islam memperjuangkannya.

Total
16
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Islam Menyuruh Kita untuk Mengubah Insecure Menjadi Lebih Banyak Bersyukur

Next Article

Pengajian Gus Baha: Kisah Lucu Barkh, Wali Unik di Zaman Manusia

Related Posts