Potret Ekonomi Islam: Refleksi Pemikiran Karl Marx

Potret Ekonomi Islam: Refleksi Pemikiran Karl Marx

15 Januari 2023
490 dilihat
3 menits, 54 detik

Tsaqafah.id Menurut Karl Marx, faktor ekonomi merupakan basis utama yang paling menentukan kehidupan manusia. Kemudian, ia beranggapan bahwa agama adalah “candu masyarakat”.

Sekarang saya jadi menemukan pemahaman begini terhadap hadits Nabi SAW:

كاد الفقر أن يكون كفرا

Kemiskinan itu dekat dengan kekufuran.”

Yakni, adanya rasa waswas terhadap kondisi kemiskinan. Sebab, jika ditarik pada pendekatan sosial, kemiskinan akan selalu bermasalah bagi manusia. Ditambah lagi suasana sosial di era modern ini, manusia melakukan segala upaya untuk mendapatkan sesuap nasi. Banyak kejahatan, kekerasan dan masalah sosial lain disebabkan oleh minimnya kemampuan ekonomi. Sudah selayaknya kita memikirkan harta demi kehidupan di dunia.

Betul, seperti yang sering diposting teman-teman di status WhatsApp, “Memiliki harta kekayaan bukan berarti mencintainya”. Jadi, harta tersebut jangan dijadikan alat pemuas hawa nafsu atau tujuan akhir, melainkan untuk sarana beribadah bahkan senjata berdakwah.

Sejalan dengan konteks permasalahan sosial tadi, saya pernah merasa gelisah dengan pandangan orang barat terhadap umat beragama yang tidak punya kemampuan ekonomi. “Karl Marx”, mungkin nama tersebut tidak asing di telinga kita, bahkan merasa blenger lantaran sering dibicarakan kalangan mahasiswa.

Baca juga;

Menurut Karl Marx, faktor ekonomi merupakan basis utama yang paling menentukan kehidupan manusia. Kemudian, ia beranggapan bahwa agama adalah “candu masyarakat”, hal ini disebabkan masyarakat tidak mampu melawan ketertindasan (dalam kondisi sosial dan ekonomi) kemudian larut dalam bayang-bayang agama, seolah agama menjadi penenang bagi masyarakat tersebut. Miris bukan!

Karena penasaran, saya mencoba menanyakan argumen tersebut pada dosen di UIN Sunan Kalijaga, salah satunya Pak Yaser Arafat. Dosen yang masyhur dengan qiraah langgam Jawanya itu menjelaskan apa maksud Karl Marx. “Pada dasarnya, Marx beranggapan bahwa manusia hidup untuk mencari makan”, ucap beliau dengan sedikit mencorat-coret papan tulis.

Selanjutnya beliau menegaskan, “Jadi, tidak salah kalau Marx menolak masyarakat yang memberi pembenaran atas dirinya ketika tidak melakukan usaha mencari makan.” Beliau juga memaparkan tentang sistem pencaharian manusia, dari berburu dan meramu sampai menemukan ide dalam mendapatkan serta mengolah makanan.

Seakan tidak puas dan tidak terima, saya pun bertanya, “Lalu, apakah agama Islam itu candu Pak?”

“Loh, ya enggak juga, kita kan bisa makan karena ada Tahlilan. Bahkan kemarin saya ceramah mendapatkan banyak sekali makanan,” jawab Pak Yaser dengan raut wajah guyon.

Baca juga;

“Agama Islam tidak menyuruh kita untuk meninggalkan dunia begitu saja, apalagi sampai melarang pemeluknya mencari makan, bahkan dunia adalah sarana kita menuju kehidupan di akhirat kelak,” lanjut Beliau.

Demikian percakapan kami berakhir dan saya hanya bisa merespon dengan mangguk-mangguk sambil mesem.

Karena dianggap penting, saya mencoba menelisik pendapat-pendapat yang berkenaan dengan hal tersebut. Pada akhirnya saya menemukan beberapa titik konklusi: pertama, mengenai tesis Karl Marx tentang “agama adalah candu”. Analisis ini melewatkan kebutuhan manusia sebagai theomorfis (manusia agama). Seperti yang diungkap filosof Henri-Louis Bergson, bahwa masyarakat tidak luput dari agama dan akan terus menjaganya.

Jika ditujukan pada konteks Islam, maka tesis tersebut agaknya kurang sesuai dengan literatur Islam yang beraneka ragam. Doktrin Islam tidak memaksakan umatnya untuk menghindari harta. Bahkan idealnya umat Islam hidup kaya. Jika tidak, maka rukun Islam yang ketiga (zakat) dan kelima (haji) tidak bisa dilaksanakan.

Potret Solidaritas Ekonomi

Ada semacam perputaran ekonomi yang terjadi di dalam aktivitas keagamaan, ini sekaligus menjadi poin kedua, bahwa kita sering menjumpai aktivitas-aktivitas keagamaan yang di dalamnya terdapat perputaran ekonomi.

Kita mengangguk tanda paham, ternyata dalam beberapa ritus keagamaan Islam di Indonesia, berjalan aktivitas ekonomi. Dalam perayaan Maulid misal, warga dapat berjualan di sekeliling tempat perayaan tersebut, sehingga orang dapat menikmati Maulid sembari membeli hasil dagangan.

Dalam tradisi keagamaan di Indonesia, perayaan atau hari besar merupakan salah satu contoh kemonceran roda perputaran ekonomi. Ada semacam solidaritas masyarakat dalam melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan ekonomi dan religi. Di satu sisi masyarakat senang karena bisa merayakan hari besar agama, juga di satu sisi senang karena masyarakat mendapat berkah berupa roda perputaran ekonomi yang sedang berjalan.

Memang Islam mengajarkan tentang zuhud, tawakal dan perintah menjauhi sesuatu yang bersifat duniawi. Akan tetapi, Islam juga mengajarkan pemeluknya untuk selalu berusaha dan bekerja keras demi kehidupannya di dunia.

Dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW menyampaikan tentang betapa pentingnya kehadiran orang beriman yang kuat dan tidak lemah. Beliau bersabda:

“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan dicintai Allah dibanding mukmin yang lemah. Pada keduanya terdapat kebaikan. Bersemangatlah mengerjakan apa pun  yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan Allah, dan jangan sampai lemah! Andai keinginanmu tak tercapai, jangan katakan, ‘Andai saya lakukan ini dan itu maka pasti akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah, ‘ini adalah ketetapan Allah, segala sesuatu yang Dia kehendaki akan Dia lakukan).’ Ucapan andai akan membuka jalan bagi setan.” (HR Muslim)

Baca juga;

Ini pulalah kiranya ada ajaran dalam bersedekah, qurban, dan haji, agar kita selalu bersemangat dan meminta pertolongan kepada Allah SWT. Sebaliknya, Islam memandang juga kemiskinan mempunyai nilai rohani yang positif, jika ditanggung dengan sabar.

Beralih ke pandangan Marx mengenai kehidupan. Hal ini bisa terjawab melalui perputaran ekonomi pada aktivitas keagamaan. Jika makna kehidupan sosial direduksi pada ekonomi saja, setidaknya umat Islam sudah menggugurkan kewajiban. Namun, tidak ada pembenaran dari agama mengenai tujuan hidup seperti itu.

Saya jadi semakin yakin mengenai perintah dalam usaha merawat kehidupan dunia ini. Upaya ini dilakukan agar kita tidak terjebak dalam kemiskinan, bukan hanya miskin harta, tetapi miskin jiwa dan iman. Karena keduanya sama-sama berbahaya. Agama dan kehidupan itu kompleks, melihatnya dengan satu sudut pandang tentu merepotkan.

Profil Penulis
Alejandro Godean
Alejandro Godean
Penulis Tsaqafah.id
Mahasiswa

1 Artikel

SELENGKAPNYA