Seberkas Cahaya di Ruang Ilmiah

Seberkas Cahaya di Ruang Ilmiah

15 Februari 2022
106 dilihat
3 menits, 44 detik

Tsaqafah.id – Habitus sekolah daring semasa pandemi nyata mempengaruhi pola belajar seorang siswa. Kontrol belajar yang biasa dilakukan paruh hari oleh orang tua, di masa sekolah daring, membengkak menjadi penuh hari. Orang tua, sebagai kontrol sosial, banyak menggerutu, kelabakan. Mereka kemudian mengeluhkan metode belajar anak dan akhlaknya yang, kualitas dan staminanya semakin ke sini semakin menurun secara drastis.

Meski sekolah daring tidak sama dengan belajar daring, namun sifat “daring” bekerja dalam balutan stigma yang mengelabuhi. Setiap perilaku bisa dilakukan dengan cara whatever you want.

Misal ihwal pakaian, saat pertemuan daring mereka kadang hanya mengindahkan setelan pakaian bagian atas dengan mengabaikan setelan bawah. Ada yang cuma memakai celana pendek, sarung, bahkan celana tidur. Perilaku ini, dilakukan oleh figur publik yang, sayangnya memamerkan outfit of the day (OOTD) rapat tersebut di akun media sosial mereka. Itu hanya secuil contoh dari normativitas ‘daring’.  

Sejauh sekolah daring berlangsung, ada rumusan yang belum selesai selama pembelajaran daring, yaitu rumusan etika. Di lingkungan universitas di Yogyakarta, saya mendengar sebuah perilaku yang bisa dibilang sudah kelewat batas; bermain tiktok ketika kelas berlangsung. Perilaku itu, dilakukan oleh seorang mahasiswi terhadap dosen yang bergelar professor dan sudah punya nama mentereng di dalam maupun luar negeri. Na’as, perilaku seperti itu ternyata banyak terjadi di kelas-kelas online.  

Namun, perilaku tercela itu masih terhitung hal biasa. Ada perilaku lain yang lebih “nggrentes ati” yaitu habitus copy-paste—atau dalam bahasa akademik disebut sebagai plagiasi—yang perilakunya selama masa pandemi kian mewabah.

Kalau dirunut asbabul wurud-nya perilaku copy-paste atau copas bermuara saat teknologi digital menjadi hal baru yang diagungkan. Kompetensi dunia digital yang centang perenang kemudian berpacu dengan aktivitas akademik, salah satunya tugas kuliah: makalah.

Kabar sekolah daring dengan berjibun tumpukan tugasnya menjadi kabar gembira dan tidak dalam satu waktu. Gembira sebab sulitnya mengakses buku kuliah membuat mahasiswa mengalihkan fokus penggalian data dalam menyelesaikan tugas melalui akses dan fasilitas dalam piranti digital. Beberapa mahasiswa yang merasa tugasnya menumpuk, memantenkan perilaku permisif dengan memaklumi penyelesaian tugas yang asal-asalan.

Baca Juga: Perempuan Berpendidikan Tinggi Bukan Hanya Untuk Anaknya

Sebenarnya pacuan tersebut bukan masalah besar, namun tetap mendekonstruksi tugas kuliah yang mulanya bermuara pada sifat ilmiah, kemudian berganti kelamin menjadi tugas “asal-asalan”. Asal jadi, asal dikumpulkan, asal dapat nilai dan asal yang lain-lain. Meski  habituasi ini sudah mewabah sebelum pandemi berlangsung. Akan tetapi, jika habitus plagiasi ini tidak segera ditumpas, ia akan menjadi parasit akademik yang membuat pendidikan lupa diri.

Etos Salafi

Di tengah ledakan plagiasi dan mahasiswa yang terlampau mengentengkan tugas akademik di dunia perkuliahan, ada beberapa mahasiswa yang menolak menggunakan fasilitas internet sebagai sarana dalam mengerjakan tugas. Mereka lebih memiih menyelesaikan pertanyaan yang musykil dan masygul dengan menanyakan kepada guru atau dosen yang bersangkutan. Perilaku yang menjadi tangan panjang dari Surat an-Nahl: 43 “fas’aluu ahla adz-dzikri in kuntum laa ta’lamuun”, maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.

Rata-rata mahasiwa tipe ini merupakan mahasiswa yang mengambil fokus jurusan agama, dan salah satunya mahasiswa di negara Seribu Benteng, Maroko. Ketika ditanya, kenapa lebih memilih manhaj belajar seperti itu, mereka berdalih bahwa keraguan dalam belajar harus segera ditanyakan kepada seorang guru dari jawaban seorang guru, murid dapat menyambung jalinan keilmuan yang lebih valid daripada di internet. Dalih ini mempertegas apa yang diulang-ulang oleh Gus Baha, bahwa agama merupakan riwayat (ad-dinu ar-riwayah) sehingga kita tidak bisa seenaknya sendiri dalam melakukan suatu hal, lebih-lebih yang berkaitan erat dengan agama dan ibadah.

Manhaj belajar yang dilakukan oleh tipe mahasiswa tersebut mengesankan sikap sangat menghargai seorang guru dalam proses belajar-mengajar (ta’lim wa ta’allum). Karena ilmu agama sangat menghormati sebuah sanad (genealogi keilmuan), adanya sanad itu karena urgensi jaringan keilmuan antara guru-murid yang saling mengikat satu sama lain. Sehingga keunggulan wawasan keilmuan bagi mereka tidak hanya menyinggung perihal logika, seperti model pendidikan modern, melainkan juga “ribathurruhi wa jasadi”, keterikatan antara ruh dan jasad: rohani.  

Baca Juga: Ahli Surga Tidak Memandang Wajah

Ihwa sanad ini dipertegas dalam sebuah riwayat di kitab hadis Shahih Muslim yang diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak (171 H) “al-Isnaadu min ad-Dini, Lawla al-Isnaada laqaala man syaa’a ‘ala maa syaa’a”, artinya: “Andaikan tidak ada sanad, maka orang akan berpikir agama sesuai maunya”. Keunggulan adanya sanad ini menjangkau kosmos keilmuan yang mendalam, dalam arti meneguhkan prinsip kesetiaan terhadap ilmu dan mempertahankan kualitas kejernihan sebuah pikiran dalam belajar, begitulah etos salafi bekerja. 

Ala kulli hal, kalau niat hati sudah tergerak untuk mendedikasikan diri di wilayah keilmuan, seyogyanya prinsip dasar dalam rumusan etika belajar menjadi pedoman utama dalam mengarungi bahtera ilmu. Maka, fardu bagi seorang pembelajar untuk membenamkan diri dan mengamalkan kaidah-kaidah etika belajar. Setiap menemui hal ihwal yang masygul maka menjumpai guru dengan bertanya akan kemasygulan itu adalah jalinan ilmu yang beradab, yang menjerat kita untuk tidak menganggap enteng setiap hal dan lebih-lebih menjaga marwah mimbar keilmuan yang lebih beradab.

Demikian etos salafi yang diwariskan oleh para intelektual Islam yang juga menjadi pedoman belajar oleh intelektual modern dalam ijtihad meramu dan melahirkan temuan dan gagasan baru. Posisi genealogi keilmuan ini selaksa jaring laba-laba yang memiliki mistifikasi keterikatan dan kekuatan yang saling menopang satu sama lain. Begitu halnya dalam hal keilmuan, setiap temuan baru akan melewati sebuah ikatan validasi, kritik dan falsifikasi yang melahirkan ijtihad kontemporer atas ilmu dan peradaban.

Profil Penulis
Afrizal Qosim
Afrizal Qosim
Penulis Tsaqafah.id
Kolumnis, Alumni Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga dan Santri PP Al Munawwir Krapyak.

29 Artikel

SELENGKAPNYA