Didorong oleh aroma sedap dari gerobak ini beberapa minggu lalu, tiba-tiba saya sudah memesan ojol dan tiba di sini. Intuisi mendorong saya kemari. Tanpa mempertimbangkan faktor kebersihan seperti kedekatan dengan tong sampah dan polusi, semangkuk bakso segera saya pesan. Mengabaikan pesan Ibu terkait cara alat-alat makan itu dicuci, saya menyantapnya tanpa ragu.
Tsaqafah.id – Hari ini urusan selesai lebih cepat dan karenanya saya bisa meluncur lebih awal ke stasiun demi menyantap semangkuk bakso. Aroma bakso di mulut stasiun itu telah lama hinggap di kepala saya dan belum juga hilang. Dan hari ini, entah kenapa aroma itu memanggil-manggil.
Kepada tukang bakso saya memesan satu mangkuk bakso lengkap. Sudah jarang saya memesan minuman saat makan karena beberapa tahun ini terbiasa membawa tumbler ke mana-mana. Saya bersyukur jika upaya ini dianggap turut menjaga lingkungan, setidaknya sedikit menebus dosa-dosa lingkungan saya yang lain.
Segera saya mengambil tempat di bangku yang tersedia di sisi selatan gerobak bakso, di emperan sebuah minimarket. Itu adalah set meja-kursi yang besar dan kokoh. Terbuat dari rangka besi dan kayu alih-alih plastik seperti yang selama ini diimajinasikan tentang kursi bakso. Keteduhan kanopi minimarket menambah kenyamanan, sehingga lapak bakso ini jarang terlihat sepi pelanggan. Bersama saya ada rombongan keluarga yang baru saja menandaskan baksonya.
Baca Juga: Kabur Aja Dulu, Apakah Lunturnya Nasionalisme? Begini Kata Al-Qur’an
Tanpa menunggu terlalu lama, bakso segera terhidang di meja. Di mangkuk itu berjejalan bakso, tahu, siomay, pangsit, lengkap dengan lontongnya. Saya lantas mengucurinya dengan kecap dan saos tomat merah terang khas Jawa Timur sebelum membubuhinya sepucuk sendok teh sambal.
Sesaat sebelum suapan pertama, saya baru menyadari keberadaan dua tong sampah besar dengan jenama minimarket tepat di hadapan saya, tak jauh dari meja tempat saya makan. Itu sama sekali tidak mengurangi selera makan saya, mungkin mood saya sedang baik, tapi dua tong sampah itu memberi pekerjaan bagi benak saya saat mulut sedang sibuk memamah bakso.
Saya jadi memikirkan mengapa saya tidak terganggu dengan keberadaan sampah itu. Memang tidak ada bau menyengat –mungkin karena tertutup rapat, dan tidak juga ada lalat. Tapi makanan yang berdekatan dengan sampah tentu menyimpan resiko kesehatan. Bagaimanapun tempat sampah adalah sumber bakteri, virus, bahkan penyakit.
Seraya menyuapkan satu demi satu sendok bakso, saya kemudian mengamati sekeliling lebih saksama. Ibu selalu berpesan untuk sebisa mungkin tidak membeli makanan dari tempat yang tidak memiliki keran air, karena artinya alat makannya tidak dicuci dengan air mengalir. Saya lihat tidak ada keran di sekitar sini. Jadi kemungkinan mangkuk-mangkuk ini, sendok garpu ini, dicuci sekadarnya, dengan air yang terbatas –yang biasanya ditampung di ember kecil, sementara seperti saya katakan di awal, pelanggannya cukup ramai.
Baca Juga: Shalat Berjamaah: Cara Bokap Nyokap Peluk Anak-anaknya
Bakso tersisa setengah saat saya meluaskan pandangan ke depan. Itu adalah jalan antarkota yang padat. Di tengah teriknya siang bolong di sisi selatan Surabaya ini, ada motor, mobil, bus, truk, hingga kontainer yang berlalu lalang. Bisa dibayangkan intensitas kepulan asap kendaraan di sana. Katakan lapak ini sudah buka dari pagi, entah berapa banyak partikel polusi yang telah memapar bahan-bahan bakso ini. Tapi toh saya tidak peduli.
Daniel Kahnemann, seorang psikolog penulis Thinking, Fast and Slow yang ternama itu membagi cara berpikir manusia ke dalam dua sistem. Sistem 1 bersifat cepat, intuitif, dan emosional. Sementara Sistem 2 lebih lambat, bertujuan sekaligus logis. Nyatanya dalam kehidupan sehari-hari Sistem 1 lebih mendominasi kita. Misalnya terhadap cara kita memilih pakaian, makanan, dan konsumsi lainnya.
Tentang manusia sebagai makhluk intuitif, diterangkan pula oleh psikolog lainnya, Jonathan Haidt. Perumpamaannya bagai the emotional dog and its rational tail, intuisi yang mengendalikan keputusan, bukan sebaliknya. Dalam sampul versi terbaru bukunya The Righteous Mind diilustrasikan intuisi dan rasionalitas bagai gajah dan manusia kecil yang menungganginya.
Saya tidak menggeluti psikologi, tapi belakangan beberapa teori psikologi dari hasil bacaan di kala senggang jadi informasi baru yang menarik buat saya. Sambil menyesap kuah bakso yang gurih sekaligus manis, saya merenungkan apa yang saya lakukan kali ini adalah satu pembuktian lagi yang mendukung teori itu.
Didorong oleh aroma sedap dari gerobak ini beberapa minggu lalu, tiba-tiba saya sudah memesan ojol dan tiba di sini. Intuisi mendorong saya kemari. Tanpa mempertimbangkan faktor kebersihan seperti kedekatan dengan tong sampah dan polusi, semangkuk bakso segera saya pesan. Mengabaikan pesan Ibu terkait cara alat-alat makan itu dicuci, saya menyantapnya tanpa ragu.
Baca Juga: Apakah Agama atau Moral, Mana lebih Dulu?
Dan ah, ya, sebentar lagi Ramadan tiba. Sangat boleh jadi alam bawah sadar saya sedang ingin menikmati kesenangan kecil yang sebulan ke depan akan jadi kemewahan: makan di warung pada siang bolong. Segala rasionalitas tentang higienitas dan gizi –sesuatu yang juga sedang agak saya perhatikan akhir-akhir ini, tidak boleh mengganggu kesenangan ini.
Truk kontainer baru saja melaju di jalanan depan itu. Di seberang jalan, saya bisa melihat dengan jelas Kantor Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang lengang saja. Saya tidak tahu, apakah biasanya memang seperti itu, atau pemangkasan anggaran brutal di kementerian ini berdampak pada kelesuan ritme kerja di kantor?
Ngomong-ngomong, kebijakan efisiensi anggaran –sebagian juga menyebutnya penggarongan, kira-kira diputuskan melalui cara pengambilan kebijakan ala Sistem 1 atau Sistem 2? Intuitif atau rasional?
Tapi tak ada waktu lagi memikirkannya. Bakso sudah habis, beberapa teguk air dari tumbler telah melengkapi rasa kenyang ini. Saya harus bergegas. Kereta saya segera tiba.

