Sepilihan Puisi Bahrul Ilmi: Cinta, Senja dan Rindu

Apa itu cinta ?

Cinta bukanlah sekedar ucapan

Serta cinta bukanlah sekedar tulisan

Bukan pula mengumumkan kepada semua orang tentang kekasihmu

Cinta adalah Rahasia antara kamu dengan Tuhanmu

Cinta itu Pertanyaan, Perhatian Rasa Khawatir dan Perasaan yang Indah

Cinta itu muncul bila sering bertemu dan saling bersapa…

Cinta itu Abadi selamanya

***

Ketika mentari telah mulai tenggelam

Aku pun melihat seyummu yang berada di sampingku

Aku pun tak mampu berkedip sedikitpun ketika menatap matamu

Sebab, bagiku matamu sangat sempurna

Dan hari itu

Aku telah merasakan lirih denyut nadimu

Bahkan detakan keras akan jantungmu

Sungguh harum nafasmu

Dan aku pun jadikan pelabuhan indah dalam alam mimpi

Segala jiwa ini, hidup ini, dan hati ini

***

Baca Juga: Sepilihan Puisi Fas Rori: Duka Kopi

Ketika mentari telah mulai tenggelam

Aku pun melihat seyummu yang berada di sampingku

Aku pun tak mampu berkedip sedikitpun ketika menatap matamu

Sebab, bagiku matamu sangat sempurna

Dan hari itu

Aku telah merasakan lirih denyut nadimu

Bahkan detakan keras akan jantungmu

Sungguh harum nafasmu

Dan aku pun jadikan pelabuhan indah dalam alam mimpi

Segala jiwa ini, hidup ini, dan hati ini

***

Apa itu cinta ?

Cinta bukanlah sekedar ucapan

Serta cinta bukanlah sekedar tulisan

Bukan pula mengumumkan kepada semua orang tentang kekasihmu

Cinta adalah Rahasia antara kamu dengan Tuhanmu

Cinta itu Pertanyaan, Perhatian Rasa Khawatir dan Perasaan yang Indah

Cinta itu muncul . . . . . . bila sering bertemu dan saling bersapa…

Cinta itu Abadi selamanya

Ketika mentari telah mulai tenggelam

Aku pun melihat senyummu yang berada di sampingku

Aku pun tak mampu berkedip sedikitpun ketika menatap matamu

Sebab, bagiku matamu sangat sempurna

Dan hari itu

Aku telah merasakan lirih denyut nadimu

Bahkan detakan keras akan jantungmu

Sungguh harum nafasmu

Dan aku pun jadikan pelabuhan indah dalam alam mimpi

Segala jiwa ini, hidup ini, dan hati ini

***

Baca Juga: Sepilihan Puisi Chusnul C: Waktu dan Aku

Aku, hanyalah sebagai penikmat rindumu saja

Dan hanya anginnya yang membawa padaku

Menyebar bagaikan seluruh saraf di kepalaku

Yang memaki sanubari tentangmu

Pada awan yang selalu berdampingan dengan langit

Pada angin yang selalu bertiup setiap saat

Melalui rasa amat dingin yang telah tercipta

Sampaikanlah rasa ini untuknya

Mungkin langit yang terlalu membisu

Untuk mengungkapkan segala rasa tentang dirimu

Senyummu pun meracuni sebagian jiwaku

Sampai hatiku, serta benakku selalu

***

Rindu, hanya bagaikan pena serta secarik kertas

Lalu ku mengambil pena, kemudian mulai mengayunkan

menarilah dengan puas, ia pada secarik kertas yang polos

dengan menirukan gerakkan tangan, serta merangkai huruf nan merangkai kata

Dalam redup hanya sekilas saja kutangkap bayangan wajah indahmu

Namun, bayang wajahmu yang tak mampu kusentuh sedikitpun kala ini

Sebab jarak antara kita memisahkan begitu jauhnya

Dan dari jarak inilah rindu pun hadir

Rindu yang entah kapan dapat terobati

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Mendebat Ayat Di Lantai Dua Masjid – Sebuah Cerpen Ahmad Segaf

Next Article

Pengajian Gus Baha: Tingginya Derajat Mencari Ilmu

Related Posts