Sikap Wajar atas Menstruasi yang Diajarkan Rasulullah SAW

Di masyarakat patriarkis di mana perempuan masih diposisikan lebih rendah ketimbang laki-laki, stigma terhadap menstruasi semakin memarjinalkan mereka.

Tsaqafah.id – Darah seringkali diidentikkan dengan sesuatu yang negatif seperti penyakit, pembunuhan, hingga ilmu hitam. Dalam budaya populer, scene-scene bersimbah darah menjadi rumus kebanyakan film horor untuk membangkitkan kengerian penonton. Atas stigma tersebut, menstruasi sebagai pengalaman biologis perempuan yang terkait dengan darah pun tak lepas dari cara pandang negatif masyarakat.

Di masyarakat patriarkis di mana perempuan masih diposisikan lebih rendah ketimbang laki-laki, stigma terhadap menstruasi semakin memarjinalkan mereka. Di sejumlah komunitas di pedalaman Eropa, Asia Tengah, dan Afrika Utara, tatapan perempuan menstruasi dianggap membawa sial. Demi mengatasi bahaya pandangan mata tersebut, perempuan menstruasi harus mengenakan zat khusus sebagai eye shadow atau celak.

Di beberapa tempat, perempuan menstruasi juga harus dibatasi pergerakannya dengan memakaikan gelang kaki sebagai penanda, atau memakaikan sepatu dari besi yang berujung runcing agar mereka tak pergi ke mana-mana. Di Amerika, Timur Tengah, Asia, Afrika Tengah, hingga pegunungan Kaukasus Rusia, sejumlah kelompok mengasingkan perempuan menstruasi di gua atau gubuk-gubuk kecil.

Tradisi pengasingan perempuan menstruasi di Nepal disebut dengan Chhaupadi. Dalam tradisi ini, perempuan menstruasi dilarang menyentuh makanan, lambang, simbol agama, hewan ternak, maupun pria. Mereka juga harus tidur terpisah dari orang lain.

Chhaupadi tidak jarang memakan korban. Meski telah dilarang oleh pemerintah setempat, pada 2019, seorang perempuan dan dua anaknya ditemukan mati lemas saat menjalankan tradisi tersebut.

Di masyarakat yang lebih terbuka, menstruasi masih sering disebut dengan istilah-istilah peyoratif seperti “tamu tak diundang”, “darah kotor”, dan lain sebagainya.

Sisi Biologis Menstruasi

Siklus menstruasi diawali dengan penebalan dinding rahim atau endometrium yang berisi pembuluh darah. Jika tidak dibuahi, endometrium akan meluruh dan keluar bersama darah melalui vagina, yang disebut sebagai menstruasi.

Menstruasi membawa dampak biologis yang beragam pada perempuan baik sebelum maupun pada saat terjadinya. Antara lain, rasa sakit pada payudara, pegal linu dan nyeri otot di area perut, hingga merasa kelelahan dan munculnya perasaan kuat yang sulit dikendalikan seperti amarah maupun rasa sedih.

Kondisi ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan laki-laki, dampak biologis yang dialami laki-laki ketika mimpi basah adalah sensasi menyenangkan.

Baca Juga: Menyikapi Mode Jilbab Anak dan Nafas Islam yang Segar

Cara Pandang Empatik Rasulullah Terhadap Perempuan Menstruasi

Menimbang dampak biologis tersebut, Islam mengajarkan cara pandang empatik terhadap perempuan menstruasi. Sudut pandang ini dibedah dalam Serial “Ngaji Keadilan Gender Islam” (Ngaji KGI) episode ketiga bertajuk “Tabu Menstruasi dalam Perspektif Islam” yang diampu oleh Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm.,

Dr. Nur Rofiah memaparkan, Al-Quran mengatur laki-laki menjauhi istri saat menstruasi karena menimbulkan rasa sakit. QS. Al-Baqarah: 222 menyebutkan;

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَٱعْتَزِلُوا۟ ٱلنِّسَآءَ فِى ٱلْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu yang bisa menimbulkan rasa sakit.” Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci (selesai haid). Apabila mereka telah suci, maka datangilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Dalam ayat ini, Dr. Nur Rofiah memaknai اذى “adza” sebagai sesuatu yang bisa menimbulkan rasa sakit alih-alih “kotor” atau “gangguan”. Kata اذى juga muncul dalam QS. Al-Baqarah: 263 sebagai “sesuatu yang menyakitkan”, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”

Kata اذى sebagai “menyakiti” juga muncul  dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Muslim, al-Turmudzi, dan Ibnu Majah,

ان المسوربن مخرمة حدثنا انه سمع رسول الله عليه و سلم على منبر و هو يقول, ان بني هشام بن المغيرة استأذنوني أن ينكحوا ابنته علي بن ابي طالب فال أذن لهم، تم الاذن لهم، ال ان يجب ابن ابي طالب ان يطلق ابنتي و ينكح ابنتهم. فانما ابنتي بضعة مني يريبني مارابهاويوذني مااذاها

“Miswar bin Makramah bercerita, ia mendengar Rasulullah SAW berdiri di atas mimbar seraya berkata: Sesungguhnya keluarga Hisyam bin Al-Mughirah meminta izinku untuk menikahkan putrinya dengan Ali bin Abi Thalib, aku tidak mengizinkan. Aku tidak izinkan, aku tidak izinkan. Kecuali jika Ali bin Abi Thalib lebih menyukai menceraikan putriku dan menikah dengan putrinya (keluarga Hisyam). Sesungguhnya putriku adalah darah dagingku, menyusahkannya berarti menyusahkanku dan menyakitinya berarti menyakitiku.”

Dari definisi tersebut, saat haid, perempuan dijauhi bukan karena kotor atau menjijikkan melainkan sedang mengalami rasa sakit yang perlu diatasi. Adapun “taubat dan menyucikan diri” dimaknai sebagai taubat dari sikap salah selama ini yang tidak peduli dengan sakitnya perempuan menstruasi bahkan menambah rasa sakit tersebut.

Baca Juga: Perempuan dalam Balutan Negeri Padang Pasir

Sebab turunnya ayat tersebut adalah adanya dua tradisi berbeda yaitu masyarakat yang cenderung mengasingkan perempuan saat menstruasi dan masyarakat yang tetap melakukan hubungan kelamin dengan mereka. Menanggapi situasi tersebut, Rasulullah SAW menyampaikan sikap beliau melalui hadis, “Kumpulkanlah mereka (para wanita yang haid) ke dalam rumah, dan kalian boleh melakukan segala sesuatu (pada mereka) kecuali nikah (bersetubuh).” (HR. Abu Dawud)

Dalam banyak kesempatan pula, Rasul menyampaikan pesan boleh melakukan apa saja dengan perempuan haid selain hubungan seksual. Aisyah RA. juga memberikan kesaksian sikap Rasul yang minum dengan gelas yang sama, mandi di tempat yang sama, hingga makan daging di bekas gigitan beliau yang sedang menstruasi.

“Aku biasa minum dari gelas yang sama ketika haid, lalu Nabi SAW mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum.” (HR. Muslim)

Sampai di sini, saat mendengar penggalan lirik lagu Aisyah yang viral itu, “Sungguh sweet nabi mencintaimu, hingga nabi minum di bekas bibirmu,” kita bisa memaknainya tidak sekadar sebagai romantisme belaka melainkan sikap empatik dan non-diskriminatif Rasulullah SAW terhadap perempuan menstruasi.

Oleh karena itu, sikap peduli pada kondisi khas perempuan menstruasi harus terus dipupuk tidak saja dengan membangun cara pandang positif terhadap menstruasi dan perempuan itu sendiri, tetapi juga menyiapkan pengetahuan yang memadai kepada anak-anak perempuan, hingga memberikan dukungan sistemik melalui berbagai fasilitas untuk memudahkan menjalani menstruasi.

Total
23
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Jejak Kecil Rumah Tembakau, Representasi Agama dan Seni di Desa Tembakau

Next Article

Menyikapi Bencana Alam Secara Bijak