Soal Empati, Kita Mesti Belajar kepada Kernet Bus!

Saya kira, empati paling mudah diawali dengan cara kita merespon pembicaraan orang, walaupun hanya anggukan.

Tsaqafah.id – Banyak dari kita yang merasakan kesulitan dalam berempati. Dalam situasi yang sangat membosankan pun, empati perlu, meski kadang terkesan basa-basi belaka.

Dalam sebuah kesempatan pelatihan yang diikuti oleh beberapa komunitas penganut lintas iman, empati yang ditukar antar peserta tampak kurang bergairah. Kami mendengarkan, tapi sedikit yang merasa jenuh dan bahkan sesat pikir, ya termasuk saya sendiri.

Saya kira, empati paling mudah diawali dengan cara kita merespon pembicaraan orang, walaupun hanya anggukan.

Seperti dalam tulisan Pengalamanku Menyambung Dialog Renyah dengan Umat Kristiani saya sudah menebalkan persepsi buruk terhadap orang yang baru kita kenal itu harus ditepis dengan sikap baik yang manusiawi.

Sekadar menawarkan tempat, berbagi makanan, bertukar senyum dan sikap baik lainnya yang sudah lumrah kita praktikkan terhadap orang dekat kita itu saja sudah cukup untuk menyambung obrolan renyah dengan orang lain.  

Baca Juga: Semacam Seni Membangunkan Orang Tidur yang Sia-Sia

Baiklah, kita mulai dengan bersikap wajar dan jujur saja, barangkali pembicaraan orang itu biasa-biasa saja dan maaf, bahkan membuat kita bosan. Tidak ada hal baru yang perlu digaris-bawahi. Akan tetapi, di balik itu nilai empati sangat penting untuk sekedar menyalurkan energi positif kepada orang lain. Asal itu tidak berlebihan.

Coba Anda lihat bagaimana kernet bus bekerja. . . . . . . Di setiap terminal besar, banyak sekali kernet bus yang mencoba menghadang calon penumpang untuk sekedar mencari jawaban tujuan lokasi yang akan dituju. Pertanyaan seperti, “Mau ke mana mas? Tuban? Semarang? Bali?” dan seterusnya selalu mereka jejalkan pada para calon penumpang baik yang jelas-jelas buta arah maupun tidak.

Pertanyaan itu akan diulang sampai beberapa kali sebelum Anda memberikan jawaban pasti. “Tuban, Pak”.

Usai memberikan jawaban pasti, mereka tidak akan merecoki para calon penumpang dan berganti merecoki mereka yang lain, yang masih buta arah maupun tidak.

Baca Juga: Memakan Kelan Sembilang Bagiku Adalah Ziarah

Kernet bus sangatlah lincah dalam urusan menawari jurusan angkutan yang para penumpang cari. Di satu sisi, mereka hendak menolong orang yang buta arah. Di sisi lain, bus yang mereka komandoi membutuhkan penumpang untuk segera berpindah dari satu terminal ke terminal lain dalam satu tujuan: mencari penumpang.

Kalaupun, penumpang yang mereka tanyai tidak menjadi penumpang di busnya, mereka akan memberikan petunjuk di mana letak bus yang seharusnya Anda tumpangi. 

Aktifitas yang dilakukan seorang kernet bus dalam permisalan di atas meski sudah menjadi bagian dari profesi seorang kernet, tapi mereka dengan sangat antusias begitu loman membagi informasi dengan orang lain. apalagi terhadap orang yang sedang menempuh sebuah perjalanan, tidak tahu arah, menjadi asing dan sendirian.

Total
14
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article

Syaikh Prof. Dr. Muhammad Muhanna: Pentingnya Belajar Agama Secara Metodologis

Next Article

Aktivitas yang Sebaiknya Dihindari Saat Berpuasa

Related Posts