Sayap burung (dan pesawat) didesain sedemikian rupa, sehingga udara di atas sayap bergerak lebih cepat daripada di bawah sayap. Akibatnya, tekanan di atas sayap lebih rendah dibandingkan bagian bawahnya, dan terciptalah gaya angkat yang memungkinkan burung melayang.
Tsaqafah.id — Dunia penerbangan modern telah menjadi salah satu pencapaian terbesar umat manusia dalam bidang teknologi. Dari pesawat komersial yang menghubungkan berbagai belahan dunia hingga pesawat tempur yang digunakan dalam pertahanan negara.
Kita melihat teknologi penerbangan terus berkembang dengan pesat. Namun, tahukah kita? Konsep penerbangan ini telah disebutkan dalam Al-Qur’an.
Salah satu ayat yang menarik untuk dikaji dalam konteks ini adalah QS. An-Nahl ayat 79 yang berbunyi:
“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas? Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman.”
Ayat ini bukan sekadar pernyataan tentang burung yang terbang, tetapi juga mengandung prinsip-prinsip ilmu Aerodinamika dalam penerbangan.
Dalam tulisan ini, kita akan membahas bagaimana ayat tersebut dapat dikaitkan dengan dasar-dasar ilmu penerbangan, serta bagaimana ilmuwan Muslim terdahulu dalam menelaah ayat tentang dasar-dasar pengembangan teknologi penerbangan tersebut.
Tafsir Ayat dan Korelasinya dengan Penerbangan
Secara linguistik, “yamsyū fī jawwi al-samā’” dalam ayat ini mengandung makna “melayang bebas diudara” dengan dimudahkan oleh Allah.
Artinya, ada hukum-hukum alam yang memungkinkan burung bisa melayang di udara. Dalam konteks ilmiah, kita dapat menafsirkan, bahwa burung terbang karena adanya keseimbangan antara gaya angkat (lift), gaya dorong (thrust), gaya hambat (drag), dan gaya gravitasi (weight).
Baca juga Serakahnomic: Ambisi Ekonomi yang Menggerogoti lebih dari Kapitalisme
Konsep ini sejalan dengan hukum aerodinamika yang juga menjadi dasar penerbangan pesawat.
Burung menggunakan sayapnya untuk menciptakan perbedaan tekanan udara, yang menghasilkan gaya angkat. Proses ini dijelaskan oleh hukum Bernoulli, yang menyatakan bahwa semakin cepat aliran udara, semakin rendah tekanannya.
Sayap burung (dan pesawat) didesain sedemikian rupa, sehingga udara di atas sayap bergerak lebih cepat daripada di bawah sayap. Akibatnya, tekanan di atas sayap lebih rendah dibandingkan bagian bawahnya, dan terciptalah gaya angkat yang memungkinkan burung melayang.
Dengan kata lain, ayat ini tidak hanya mengajak manusia untuk merenungi kebesaran Allah secara spiritual, tetapi juga menyinggung realitas ilmiah. Allah telah menciptakan hukum aerodinamika yang dapat diteliti dan dimanfaatkan manusia.
Dari fenomena sederhana seekor burung, manusia belajar menciptakan teknologi pesawat terbang.
Burung tidak hanya memberikan inspirasi visual, tetapi juga pelajaran teknis. Misalnya, bagaimana burung mengatur posisi sayapnya ketika melawan angin, bagaimana mereka membentuk formasi terbang untuk mengurangi hambatan udara, hingga bagaimana ekor berfungsi menjaga keseimbangan saat mendarat.
Semua hal ini kemudian menjadi aspek penting dalam rekayasa aeronautika modern dalam pembuatan pesawat terbang.
Ilmuwan Muslim yang Melakukan Tela’ah Surah An-Nahl ayat 79
Sejarah perkembangan penerbangan telah membuktikan, bahwa manusia terinspirasi langsung dari burung. Leonardo da Vinci misalnya, membuat banyak sketsa mesin terbang yang meniru kepakan sayap burung.
Namun, jauh sebelum itu, umat Islam sudah memiliki tokoh yang mencoba menerapkan prinsip serupa, yakni Abbas Ibn Firnas.
Berdasarkan buku ‘A Bridge to the Sky: The Arts of Science in the Age of Abbas Ibn Firnas‘ karya Glaire D. Sejarah telah mencatat, bahwa pemikiran tentang penerbangan telah ada sejak zaman peradaban Islam.
Salah satu ilmuwan Muslim yang berkontribusi besar dalam bidang ini adalah Abbas Ibn Firnas (810–887 M). Dia lahir di Ronda, Malaga, Spanyol. Sejak kecil hingga masa remaja Ibnu Firnas. Ufuk Necat Tasci menulis kepada The New Arab dalam artikelnya berjudul “Meet 9th century polymath Abbas ibn Firnas, the first human flying” machine (2022).
Baca juga Konsep Jiwa Menurut Al-Kindi
Ibnu Firnas sejak kecil dikenal memiliki jiwa prodnose sejati. Suka membongkar benda, termasuk mainan, lalu merakitnya kembali berkali-kali. Saat remaja, ia tumbuh sebagai pelajar yang tekun dan haus ilmu.
Masa mudanya banyak dihabiskan di Cordoba, salah satu pusat pengetahuan terkemuka tempat peradaban Islam mencapai kejayaan di Spanyol.
Kecerdasannya membuat Ibnu Firnas mendapat kesempatan istimewa untuk menimba ilmu secara luas, mulai dari kedokteran hingga astrologi.
Namun, dua bidang itu ternyata tidak terlalu memikat hatinya. Dia lebih tertarik pada dunia teknik yang penuh tantangan, seakan menegaskan bahwa bakat membedah dan merakit sesuatu yang sudah mendarah daging dalam dirinya sejak kecil.
Usai menekuni berbagai disiplin ilmu, Ibnu Firnas justru kembali pada dunia kecil yang pernah membentuknya. Jiwa kanak-kanaknya seolah tetap hidup, mengalir kuat dalam dirinya, menghadirkan mimpi yang di mata banyak orang tampak mustahil, yaitu keinginan untuk menjadi manusia terbang.
Sebuah cita-cita yang pada masanya mungkin dianggap aneh, bahkan gila, namun justru itulah yang menyalakan keberaniannya untuk mencoba.
Ibnu Firnas dikenal sebagai orang pertama yang mencoba menerbangkan diri menggunakan alat mirip sayap burung. Percobaannya ini terinspirasi dari QS. An-Nahl ayat 79 mengenai prinsip burung terbang. Sekaligus juga upaya Ibnu Firnas membuktikan QS. Ar-Rahman ayat 33, bahwa manusia bisa menembus langit, berkat karunia yang telah Allah berikan kepada manusia.
Karunia mengenai pengetahuan dasar-dasar teknologi pernerbangan yang dapat dipelajari dari pengamatan terhadap seekor burung. Pengamatan terhadap burunglah yang membuat manusia bisa menciptakan alat terbang, karena mereka mempelajari ilmu aeronautika.
Ibnu Firnas yang tekun mempelajari ilmu aeronautika, lalu mencoba membuat alat sederhana untuk melakukan eksperimen terbangnya. Dia melakukan eksperimen penerbangan sebanyak dua kali. Dan pada percobaan kedua, ia mencoba membuat mesin terbang layaknya sayap burung dari kerangka kayu (glider).
Alat terbangnya ini secara hasil membuatnya berhasil terbang mengudara selama 10 menit melintasi bangunan-bangunan di wilayah Cordoba sebelum akhirnya ia jatuh dan mengakibatkan cedera pada punggung belakangnya.
Kisah Ibnu Firnas menunjukkan bahwa dengan kita memahami dan merenungi makna QS. An-Nahl ayat 79. Manusia bakal terdorong untuk mempelajari hukum-hukum alam yang memungkinkan manusia dapat terbang.
Konsep-konsep dalam ayat yang menjelaskan bagaimana burung bisa terbang, hal ini selaras dengan prinsip aerodinamika yang menjadi dasar dalam teknologi penerbangan modern.
Melalui pemahaman akan ayat ini, kita dapat semakin menyadari betapa besar kebesaran Allah dalam menciptakan sistem berupa sunnatullah yang menginspirasi kemajuan teknologi manusia, khususnya dalam bidang teknologi pernerbangan.
Baca juga Fusion of Horizons: Menafsir QS. Al-Hujurat Ayat 13 dari Lensa Hermeneutika Gadamer

