Tarak: Menjadikan Ramadhan yang Bukan Sekedar Puasa

Tarak: Menjadikan Ramadhan yang Bukan Sekedar Puasa

31 Maret 2023
621 dilihat
2 menits, 42 detik

Tsaqafah.idPuasa secara bahasa bermakna mengekang dan menahan diri. Tujuannya agar nafsu terkendali.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani adalah sosok ulama terkemuka abad dua belas masehi. Julukannya Sultanul Auliya, rajanya para wali. Dalam perjalanan hidupnya, beliau terkenal sebagai sosok yang sangat ketat mengisi aktivitas ibadahnya setiap hari. Sholat malam sepanjang malam dan berpuasa sepanjang hari. Selama beberapa kurun masa, tidaklah masuk ke dalam perutnya melainkan dedaunan yang beliau jumpai di pinggir kali.

Saya sedang tidak bercerita ngadi-ngadi. Tak bisa dipungkiri bahwa dulu memang orang-orang berlomba mendekatkan diri kepada Illahi. Membanding-bandingkannya hanya seakan sedang menceritakan rasanya manis kepada orang yang tidak pernah makan gulali. Sedikit banyaknya pelajaran dari mereka yang akan berusaha kita gali.

Kita sudah memasuki bulan Ramadan beberapa hari ini. Semangat untuk meningkatkan aktivitas ibadah sangat kentara sekali. Gema tadarus Al-Qur’an terdengar di mana-mana tiada henti. Ajakan untuk bersantap sahur juga terdengar setiap dini hari. Alangkah indah suasanya bulan ini. Orang-orang sama berlomba menebarkan kasih sayang dan berbagi. Akankah momentum ini hanya akan menjadi ‘anget-anget tai kucing’ yang terjadi di bulan ini?

Baca juga:

Jangan sampai aktivitas puasa Ramadan hanya pindah jadwal makan saja. Sementara porsi makan kita masih sama dengan hari-hari biasanya. Alih-alih menjalankan sunah Rasulullah SAW, dipersiapkanlah tiga biji kurma, namun tidak dengan meninggalkan menu-menu lainnya. Bahkan kalau bisa Ramadan harus lebih istimewa. Merekayasa sunah semacam ini jelas menyeleweng dari puasa yang Rasulullah SAW mengajarkannya.

Puasa secara bahasa bermakna mengekang dan menahan diri. Tujuannya agar nafsu terkendali. Dengan mengada-adakan menu buka dan sahur semacam ini, malah menjadi ajang mengembala nafsu agar semakin menggemukan diri. Bukan sedang menghakimi, tapi jujur saya sendiri pun masih kerap melakoni.

Baca Juga Mengenali Mukjizat Al-Quran dari Susunan Bahasanya

“Barang siapa menuruti hawa nafsunya, maka hilanglah kemurnian atau keikhlasannya”. Demikian ulama-ulama terdahulu berkata. Untuk mensiasati ketimpangan dalam ibadah puasa yang seperti ini, Imam Al-Sya’roni dalam Mizan-nya memberikan pantangan untuk tidak memakan sesuatu apapun yang bernyawa. Pernyataan Imam Asy-Sya’roni ini kemudian oleh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqy dan banyak ulama lainnya dijadikan acuan dalam mengamalkannya selama bulan puasa. Tarak namanya. Mutih, istilah lain menyebutnya.

Oleh Kiai Asrori, diwajibkan atas semua murid yang bernaung dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Al-Utsmaniyah yang dipimpinnya untuk mutih, yakni menghindari memakan sesuatu yang mengandung nyawa, seperti hewan-hewanan, susu ataupun telurnya.

Baca juga:

Tujuan intinya adalah memutus mata rantai nafsu. Hal ini diberlakukan bagi murid laki-laki mulai tanggal 21 Sya’ban hingga penghujung Ramadan, sedangkan murid perempuan menjalaninya hanya pada bulan Ramadan saja. Secara ekonomis, ritual mutih ini juga berguna untuk menghemat pengeluaran dana.

Dengan menerapkan sistem semacam ini tentu tidak semua jenis makanan akan dapat masuk dan diolah oleh perut begitu saja. Ada riyadoh atau latihan untuk hanya memakan makanan yang berupa biji-bijian saja. Sehingga seorang murid tidak akan merasa kekenyangan. Konsekuensinya, jika ia tidak kekenyangan, maka fokus aktivitasnya tidak terganggu oleh urusan jasmani, seperti mengantuk ataupun kebutuhan kamar mandi, sehingga kewajiban ibadahnya terpenuhi dengan baik, serta tidak lagi disibukkan untuk mengonsumsi variasi menu-menu makanan lainnya.

Karena porsi makannya hanya nasi dan garam serta dedaunan, maka ia akan mudah merasa lapar. Hawa nafsunya terbatasi. Peran setan dalam tubuh melemah seiring melemahnya peredaran darah yang disebabkan lapar tadi. Berat memang. Ya karena berat itulah, maka banyak pahalanya. Perjuangan puasa kita tidak hanya pada siang harinya, melainkan juga tetap mengisi kebaikan pada malam harinya.

Alhasil, semoga puasa kita tidak sekadar puasa. Puasa yang hanya berbuah lapar dan dahaga saja. Semoga ada pahala yang kita tuai sebanyak-banyaknya. Dan yang terpenting, semoga puasa kita di bulan Ramadan ini dapat membekaskan kebaikan di bulan-bulan yang lainnya. Aamiiin.

Profil Penulis
Muhammad Zakki
Muhammad Zakki
Penulis Tsaqafah.id
Santri Pondok Pesantren Assalafi al-Fithrah Kedinding Surabaya

3 Artikel

SELENGKAPNYA