Waspada KBGO, Islam Melarang Segala Bentuk Kekerasan Berbasis Gender

Hidup di era pandemi yang membatasi mobilitas fisik membuat kita lebih banyak hadir di ruang-ruang online. Sayangnya, ruang daring tidak selalu aman. Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang kian marak, menjadi tantangan sendiri.

Secara sederhana KBGO bisa dipahami sebagai perluasan kekerasan berbasis gender dari ranah luring ke ranah daring. KBGO dimungkinkan terjadi karena adanya relasi kekuasaan yang timpang. Pelaku KBGO adalah gender yang lebih kuat yang dibentuk baik karena kepemilikan jabatan di dunia kerja, gelar di dunia pendidikan, status sosial dalam lembaga keagamaan dan lain sebagainya.

Bentuk KBGO bisa berupa pelecehan hingga ancaman yang terjadi baik melalui chat, media sosial, dating apps, game apps, atau platform digital lainnya. Dalam hal ini, perempuan dan laki-laki sama-sama punya peluang menjadi pelaku maupun korban. Tetapi, dalam budaya masyarakat kita yang masih patriarkis, misoginis, dan seksis, korban lebih banyak dari pihak perempuan.

Kasus KBGO yang sering terjadi adalah verbal harrashment. Disadari atau tidak, kekerasan verbal kerap muncul dalam ruang-ruang komentar media sosial kita. Misalnya kata-kata yang bagi sebagian orang masih dianggap lucu seperti, “Ada yang menonjol, tapi bukan bakat,” untuk mengomentari bagian tubuh tertentu perempuan. Atau kata-kata seperti, “Rahimku anget,” yang secara terang-terangan menunjukkan hasrat seksual saat melihat foto laki-laki, seperti yang dulu pernah menimpa seorang atlet laki-laki tersohor. Tidak hanya itu, objektivikasi yang menjadikan tubuh sebagai target muncul dalam banyak rupa seperti meme-meme dan foto maupun video editan yang merendahkan martabat kemanusiaan.

Stigmatisasi juga turut dilanggengkan di ruang siber. Dalam kasus-kasus dugaan perselingkuhan, sebagaimana yang menimpa personel grup musik baru-baru ini, perempuan menjadi sasaran utama bullying dengan tuduhan sebagai pelakor. Padahal, hubungan tersebut juga tak lepas dari peran sosok laki-laki.

Persebaran konten intim non konsensual juga menjadi isu penting yang terkait erat dengan media sosial. Aksi ini tidak tepat disebut sebagai revenge porn, karena istilah ini mengandung victim blaming yang seolah menghalalkan balas dendam melalui persebaran konten intim dengan mengabaikan consent atau persetujuan seksual.

Di banyak kasus persebaran konten intim non-konsensual, korban perempuan menjadi pihak yang sangat dirugikan, terlebih dalam pemberitaan media-media yang seksis. Dalam kasus persebaran konten intim non-konsensual salah satu . . . . . . artis beberapa waktu lalu, kita menyaksikan bagaimana media menguliti habis-habisan kehidupan pribadi hingga keluarga perempuan, sementara nama pihak laki-laki disamarkan.

Sebagaimana di ranah offline, mencari keadilan untuk kasus KBGO sulit dilakukan lantaran belum ada payung hukum yang jelas. Beberapa korban yang melapor justru dikriminalisasi seperti kasus Baiq Nuril dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Sejauh ini, upaya preventif yang bisa dilakukan adalah meningkatkan keamanan siber dengan autentifikasi dua arah dan rajin mengganti password. Di sisi lain, kita juga harus membuat batas privasi kita masing-masing. Setiap orang pun memiliki standar privasi yang berbeda-beda di ruang digital, kita juga harus mulai membiasakan diri untuk meminta izin apabila ingin mengunggah foto seseorang. Mengedukasi diri terus menerus juga harus dilakukan dengan mengakses informasi-informasi yang disediakan berbagai penyedia layanan seperti @taskforce_KBGO, @stop.kbgo dan @awaskbgo. Kita juga bisa membantu korban KBGO dengan ramai-ramai me-report akun pelaku untuk melumpuhkannya.

Baca juga: Membuka Diskusi tentang Ruang Aman bagi Perempuan dari Film Wadjda

Mengubah Mindset

Selain langkah-langkah preventif, mengubah mindset menjadi lebih adil gender juga sangat krusial, terlebih sebagai muslim. Sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Anbiya ayat 107 misi Islam adalah menjadi rahmat bagi semesta.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ 

Sementara, Rasulullah SAW bersabda, bahwa Islam bertujuan menyempurnakan akhlak manusia (HR. Bukhari)

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

Dosen Pascasarjana PTIQ Dr. Nur Rofiah, Bil.Uzm. memaparkan bahwa dalam rangka mewujudkan kemaslahatan, Islam mengatur etika pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam konsep ghadhul bashar. Ghadhul bashar dimaknai tidak saja sebatas penundukan mata atau ghadhul uyun akan tetapi lebih kepada kontrol cara pandang dalam interaksi antar manusia.

Manusia mesti dipandang sebagai makhluk beradab yang memiliki akal budi. Bukan hanya makhluk seksual melainkan juga makhluk intelektual dan spiritual. Dengan demikian relasi antara perempuan dan laki-laki tidak dimaknai sekadar pejantan versus betina belaka melainkan sama-sama hamba Allah yang mengampu amanah sebagai khalifah fil ardl untuk mendorong kemaslahatan di muka bumi. Melalui kerangka berpikir demikian, diharapkan seorang muslim dapat memberi penghargaan setinggi-tingginya pada martabat manusia dan menjauhkan diri dari berbagai bentuk kekerasan seksual.

Baca juga: Inilah Beberapa Indikator Kebahagiaan Pernikahan Menurut Quraish Shihab

Total
1
Shares
Previous Article

Dzikir Untuk Mengendalikan Hati

Next Article
menolak teror

Melawan Aksi Teror dengan Menolak Takut

Related Posts