Skip to content
Tsaqafah.id Suara Muslim Muda
Ikuti Kami

© 2026 Tsaqafah.id

Kisah
Beranda/Kisah/Yusuf, Binyamin dan Siasat Piala Raja yang Hilang

Yusuf, Binyamin dan Siasat Piala Raja yang Hilang

6 Kali Dibaca
Bagikan:
Yusuf, Binyamin dan Siasat Piala Raja yang Hilang

Tsaqafah.idBerbeda dengan saudara-saudara mereka yang lain, Binyamin tidak turut serta dalam peristiwa pelemparan Yusuf ke dalam sumur. Ia masih terlalu kecil saat itu, atau menurut sebagian riwayat bahkan belum lahir.

Di antara kisah para nabi, kisah Yusuf barangkali salah satu yang cukup detil diceritakan dalam al-Qur’an.

Ada kecemburuan saudara, kesedihan seorang ayah, godaan, fitnah, penjara, karier politik, hingga sebuah siasat yang kadang membuat pembacanya tersenyum sendiri.

Ketika Yusuf telah menjadi pejabat tinggi Mesir, negeri itu dan wilayah-wilayah sekitarnya dilanda paceklik panjang. Bertahun-tahun sebelumnya, Yusuf telah menakwilkan mimpi raja tentang tujuh tahun masa subur yang disusul tujuh tahun masa sulit. Karena itu, Mesir berhasil menyimpan persediaan gandum dalam jumlah besar.

Adapun di Kan’an (sekarang Hebron, Palestina), tempat Nabi Ya’qub tinggal bersama anak-anaknya, persediaan makanan semakin menipis. Maka sepuluh saudara Yusuf berangkat menuju Mesir untuk membeli gandum. Mereka memasuki istana dan berhadapan dengan seorang pejabat. Al-Qur’an mengabadikan momen itu dengan rinci:

وَجَاءَ إِخْوَةُ يُوسُفَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهُ مُنكِرُونَ

“Saudara-saudara Yusuf datang, lalu mereka masuk menemuinya. Yusuf mengenali mereka, sedangkan mereka tidak mengenalinya.” (QS. Yusuf: 58)

Baca Juga Mengenal Abu Mansur Al-Hallaj: Sufi yang Mengembara

Sulit membayangkan apa yang dirasakan Yusuf saat itu. Mereka yang berdiri di hadapannya adalah orang-orang yang dahulu menariknya dari pelukan ayahnya, membawanya ke tengah padang, melemparkannya ke dasar sumur, lalu pulang sambil membawa baju yang dilumuri darah palsu. Tetapi Yusuf menahan semuanya. Ia bertanya tentang keadaan keluarganya, “Berapa jumlah kalian?”

Mereka menjawab:

Kami berasal dari Kan’an. Kami mempunyai ayah yang sudah tua. Dahulu kami berjumlah dua belas bersaudara. Salah seorang telah tiada, sedangkan yang paling kecil tinggal bersama ayah kami.”

Saudara bungsu yang mereka maksud itu adalah Binyamin. Namanya memang tidak disebutkan dalam al-Qur’an, tetapi para ahli tafsir sepakat bahwa dialah adik kandung Yusuf.

Keduanya merupakan putra Nabi Ya’qub dari istri yang sama, yaitu Rahil. Berbeda dengan saudara-saudara mereka yang lain, Binyamin tidak turut serta dalam peristiwa pelemparan Yusuf ke dalam sumur. Ia masih terlalu kecil saat itu, atau menurut sebagian riwayat bahkan belum lahir. Karena itu, Binyamin tidak pernah tercatat ikut menyakiti Yusuf, dan hubungan keduanya digambarkan sangat dekat serta penuh kasih sayang. 

Baca Juga Dialog Kanjeng Nabi Adam dan Nabi Musa

Mereka tidak menyadarinya, bahwa seseorang yang mereka katakana “telah tiada” adalah orang yang sedang berada di hadapan mereka. Yusuf kemudian memerintahkan agar jatah gandum mereka dipenuhi, bahkan mengembalikan uang pembayaran mereka secara diam-diam ke dalam karung mereka. Sebelum mereka pulang, Yusuf berkata:

Jika kalian datang lagi, bawalah saudara kalian yang paling kecil. Jika tidak, kalian tidak akan mendapatkan jatah makanan lagi.” Mereka pun pulang. 

Ketika menceritakan syarat itu kepada Ya’qub, dan meminta izin untuk membawa Binyamin, sang ayah langsung teringat pengalaman pahit yang menimpa Yusuf bertahun-tahun silam. Ia berkata:

هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلَّا كَمَا أَمِنتُكُمْ عَلَى أَخِيهِ مِن قَبْلُ

“Apakah aku akan mempercayakannya kepada kalian sebagaimana dahulu aku mempercayakan saudaranya kepada kalian?” (QS. Yusuf: 64)

Setelah anak-anaknya bersumpah akan menjaga Binyamin, Ya’qub menyerahkan urusan itu kepada Allah seraya berkata:

فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Ketika rombongan itu tiba kembali di Mesir, Yusuf segera mendekatkan Binyamin. Al-Qur’an menyebutkan:

وَلَمَّا دَخَلُوا عَلَى يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَخَاهُ

“Tatkala mereka masuk menemui Yusuf, ia mendekatkan saudaranya kepadanya.” (QS. Yusuf: 69)

Kemudian Yusuf berbisik kepadanya:

إِنِّي أَنَا أَخُوكَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya aku adalah saudaramu. Maka janganlah engkau bersedih atas apa yang dahulu mereka lakukan.” (QS. Yusuf: 69)

Baca Juga Jejak Imam Bukhari: Dari Kehidupan Pribadi hingga Shahih Bukhari

Sebagian mufasir menambahkan sebuah adegan yang sangat mengharukan. Ketika malam tiba, Yusuf memerintahkan agar setiap dua orang saudara tidur bersama dalam satu tempat. Semua mendapat pasangan, kecuali Binyamin. Maka Yusuf berkata, “Yang ini tidur bersamaku.” Bahkan ada riwayat yang mengatakan:

فبات معه يوسف يشم ريحه

“Maka Yusuf bermalam bersamanya sambil mencium aromanya.”

Barangkali itu adalah malam pertama setelah puluhan tahun Yusuf dapat kembali merasakan kehadiran keluarga kandungnya. Namun Yusuf belum ingin membiarkan Binyamin pulang. Masalahnya, hukum Mesir tidak menetapkan perbudakan sebagai hukuman pencurian. Sementara menurut tradisi keluarga Ya’qub, seorang pencuri dapat dijadikan budak. Di sinilah Yusuf menjalankan sebuah siasat.

Siasat Yusuf

Setelah gandum dimuat ke atas unta-unta mereka, sebuah piala kerajaan disembunyikan oleh Yusuf ke dalam karung Binyamin. Rombongan itu pun mulai meninggalkan gerbang hingga tiba-tiba terdengar:

أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ

“Wahai para musafir! Kalian benar-benar pencuri!” (QS. Yusuf: 70)

Saudara-saudara Yusuf terkejut. Mereka bertanya: “Barang apa yang kalian kehilangan?”

Para pelayan menjawab:

نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ

“Kami kehilangan piala raja.” (QS. Yusuf: 72)

Mereka pun bersumpah:

تَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا جِئْنَا لِنُفْسِدَ فِي الْأَرْضِ وَمَا كُنَّا سَارِقِينَ

“Demi Allah, kalian mengetahui bahwa kami tidak datang untuk membuat kerusakan di negeri ini dan kami bukanlah pencuri.” (QS. Yusuf: 73)

Baca Juga Al-Kindi : The First Moslem Philosopher

Maka pemeriksaan dimulai. Karung pertama dibuka. Tidak ada apa-apa.

Karung kedua. Kosong. 

Karung ketiga. Masih kosong. 

Di sinilah muncul sebuah riwayat yang cukup menarik dari Qatadah:

وروى معمر عن قتادة أنه قال: كلما فتح متاع رجل، استغفر الله تائباً مما صنع

Bahwa setiap kali Yusuf membuka sebuah karung, ia beristighfar kepada Allah karena siasat yang sedang dijalankannya. Sulit menahan senyum ketika membayangkan situasinya dalam ilustrasi dialog semacam ini:

Petugas: “Baik, kita periksa satu per satu.”

Yusuf (dalam hati): Astaghfirullah…

Karung pertama dibuka.

Petugas: “Tidak ada.”

Yusuf: Astaghfirullah…

Karung kedua dibuka.

Saudara-saudara: “Kami kan sudah bilang, kami bukan pencuri!”

Yusuf (dalam hati): Iya, iya, saya tahu… astaghfirullah.

Karung ketiga dibuka.

Yusuf (dalam hati): Ya Allah, semoga nanti mereka tidak terlalu syok…

Sampai akhirnya tinggal karung Binyamin.

Yusuf: “Sepertinya anak muda ini juga tidak mengambil apa-apa…”

Saudara-saudara: “Periksa saja dulu!”

Yusuf (dalam hati): “Ya Allah, sebentar lagi mereka pasti terkejut.”

Piala kerajaan pun ditemukan di dalam karung Binyamin. Lalu ada yang berkata dari mereka:

Wahai Binyamin! Tidak habis-habisnya kami mendapat masalah karena kalian anak-anak Rahil!”

Binyamin: “Lho? Yang dulu melempar Yusuf ke sumur siapa?” “Justru anak-anak Rahil yang selalu mendapat musibah karena kalian.”

Saudara-saudara: “…”

Binyamin: “Yang sekarang menuduhku pencuri siapa?”

Saudara-saudara: “…”

Yusuf (dalam hati): Astaghfirullah… astaghfirullah…

Maka Binyamin pun tinggal di Mesir bersama Yusuf. Riwayat-riwayat seperti ini menarik karena memperlihatkan bagaimana para mufassir awal membayangkan sisi personal para nabi sebagai manusia pilihan yang tetap memiliki rasa haru, rindu, sedih. Jika Yusuf telah kehilangan masa kecilnya bersama sang ibu dan ayahnya, maka Binyamin adalah potongan terakhir dari keluarga yang dahulu pernah ia miliki. 

Referensi

1.⁠ Abu al-Laith al-Samarqandi, Tafsir Bahr al-Ulum, Juz 2, H. 202-203
2.⁠ Ibn Abi Hatim, Tafsir al-Quran al-Adhim, Juz 2, H. 217-219.
3.⁠ ⁠⁠Abu Ishaq al-Tha’labi, al-Kasyf wa al-Bayan, Juz 5, H. 235-236
4.⁠ ⁠⁠Al-Wahidi, Tafsir al-Wasith, Juz 2, H. 622
5.⁠ ⁠⁠Al-Baghawi, Ma’alim al-Tanzil fi Tafsir al-Quran, Juz 2, H. 503-504.

Bagikan Artikel Ini
M Ikhya Ulumuddin Al Hikam

Ditulis oleh: M Ikhya Ulumuddin Al Hikam

Sekretaris Departemen Penelitian Pengurus Pusat Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir dan Hadis Indonesia (FKMTHI)

Lihat Semua Tulisan