Islam dan Modernitas (VI): Mengawal Visi-Misi Profetik

Islam dan Modernitas (VI): Mengawal Visi-Misi Profetik

18 Maret 2022
41 dilihat
4 menits, 6 detik

Tsaqafah.id – Proses gerak dan dinamika kebangkitan spiritual semakin terasa dari waktu ke waktu. Memang terdengar begitu menggembirakan membaca prediksi dan optimisme yang mengemuka tentang prospek agama terhadap dunia masa depan.

Islam tidak boleh berdiri pasif di luar arena proses metamorfosis itu. Di sisa-sisa kepungan ironi yang melanda peradaban modern, terbentang harapan bagi Islam untuk mewarnainya.

Dalam pandangan Khurshid Khan, dunia Islam dewasa ini sedang dihadapkan pada situasi yang khas: krisis dan kreatif. Ia berdiri di depan kesempatan-kesempatan yang sangat baik di tengah tantangan yang dihadapinya.

Situasi global yang melatarbelakangi dunia dewasa ini memang memungkinkan Islam untuk hadir dan tampil kembali dalam percaturan dunia. Namun demikian, gerak kebangkitan Islam sebenarnya tergantung kepada umat Islam sendiri, sejauh mana mampu memahami sumber-sumber kredensi teksnya (the sacred texts) secara tepat guna.

Baca Juga: Menelusuri Dawuh Kiai Sahal Yang Terkoneksi Dengan Ulama Pendahulunya

Citra, Formulasi dan Resepsi

Di bawah ini adalah beberapa formulasi yang (mungkin) dapat menjadi perhatian bersama dalam mengawal angin segar peran Islam pasca-modern hari ini, di antaranya sebagai berikut;

Pertama, gerak kemajuan Islam hendaknya bersifat netral dan visioner. Dengan kata lain, semangat kemajuan Islam tidak perlu dibayang-bayangi oleh estafet permusuhan yang pernah diwakafkan oleh kenyataan sejarah.

Ihwal persoalan tersebut, agaknya, tesis Huntington dapat memberi alur signifikansinya. Menurut Huntington, perkembangan spiritualisme di milenium ketiga, bisa jadi dimotori oleh peradaban Islam di satu sisi, atau oleh peradaban Kristen di sisi lain. Dalam hal ini, perkembangan tersebut dapat diwarnai perang antar peradaban dan kemunculan kelompok-kelompok fundamentalisme.[i]

Kendati tesis tersebut belum tentu benar dan masih sangat mungkin diperdebatkan, namun peringatan-peringatan di dalamnya cukup perlu diwaspadai.

Perseteruan Islam dan Kristen yang melanda manusia abad tengah adalah contoh akbar tentang bagaimana agama dikonstruksi oleh arogansi superioritanisme dan komoditas kuasa.

Karena itu, untuk menghindari ekses-ekses antar identitas, doktrin dan ajaran agama perlu dipandang dalam kerangka yang lebih kondusif tanpa terjebak oleh idealisme romantik masa lalu yang banal dan kontra-produktif. Tindakan menghidupkan romantisisme yang pernah dikonstruksi oleh sejarah masa lalu, seringkali dilakukan secara general dan utopis. Akibatnya, unsur-unsur kelam lainnya cukup sulit disisihkan.

Baca Juga: Islam dan Modernitas (III): Barat, Dilema Spiritual dan Patologi Kultural

Sejarah masa lalu, sekalipun amat indah, tidak pernah terlepas dari serangkaian deviasi dan konflik yang mengiringinya, baik secara internal maupun eksternal. Tindakan retrospeksi buta semacam ini, sangat rawan melahirkan mental balas dendam sebagaimana telah berulangkali sejarah masa lalu lakukan. Jika motif demikian tidak disudahi, maka akan terjadi apa yang disebut manifest conflict yang tiada berujung, dan hutang sejarah kembali bertambah.

Kedua, menghadirkan tafsir agama yang filantropis. Pada kenyataannya, agama masih sering benar menjadi salah satu faktor dominan yang memicu konflik dalam bentuk dan motif apapun antar manusia.

Filantropi yang dibicarakan oleh al-Qur’an merupakan wujud refleksi dari rasa kemanusiaan (Q.S. 17:70), cinta kasih (Q.S. 19:96) dan keadilan bagi umat manusia secara universal (Q.S. 5:8). Di samping itu, dalam analisis Azyumardi Azra, filantropi adalah tulang punggung bagi proses Islamisasi yang paling ampuh dan tidak bisa dihentikan.[ii] Pemahaman yang dirawat berlandaskan filantropi akan melahirkan pola laku yang teduh dan penuh perasaan kasih antar sesama demi visi universal Islam. “Wa min maqāsid al-syarīah, tahsīn ṣūrah al-Islām.

Pembacaan secara tepat mengenai hal ini sangat penting, sebab, kitab suci, dalam bangunan teoritis Geertz misalnya, adalah cermin (prototipe) bagi kehidupan beragama masyarakat (model for), sedangkan kehidupan keagamaan masyarakat adalah refleksi praksis (model of) dari pemahaman terhadap kitab suci tersebut.[iii]

Ketiga, adalah menghadirkan dimensi spiritual yang etis-subtantif, bukan legal-formal simbolik. Yang perlu digaris bawahi di sini adalah, bahwa agama dapat diterima di ruang publik, jika ia menghadirkan nilai-nilai yang substantif-konstruktif, dan bukan legal-formal yang sarat dengan unsur-unsur simbolik tertentu.

Baca Juga: Islam dan Modernitas (IV): Keretakan dan Episode Akhir Modernitas

Selanjutnya, juga perlu dicatat, masyarakat hari ini sudah semakin cerdas untuk sekadar membedakan mana yang bersifat simbolik, dalam arti mengkomodifikasi agama, dan mana yang benar-benar substansial-konstruktif, yang dapat memberi kontribusi bagi kehidupan bersama.

Dalam pandangan Olivier Roy, agama adalah persoalan konstruksi ketimbang realitas. Pemaksaan untuk dihadirkannya unsur-unsur partikular tertentu, dikhawatrikan akan melahirkan tirani mayoritanisme yang menyulut sentimen antar golongan (agama).[iv]

Keempat, adalah mengakomodasi ilmu-ilmu yang berkembang. Seorang Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan, bahwa untuk mengemban visi strategis ini, Islam perlu merumuskan kembali inter-relevansi antara ilmu dan agama.[v]

Di antara ilmuwan Indonesia yang paling lantang bersuara dalam masalah ini ialah Prof. Amin Abdullah. Hampir seluruh karya-karyanya, mulai dari Falsafah Kalam, Islamic Studies, hingga yang terbaru Multidisiplin, Interdisiplin dan Transdisiplin (MIT) membahas pentingnya merawat dan mengakomodasi ilmu-ilmu yang berkembang.

Menurut Amin Abdullah, diskursus studi Islam harus mengikuti alur pemikiran kontemporer yang sedang berjalan sekarang. Perkembangan pendidikan, iptek astronomi modern, fisika modern, sosiologi, antropologi dan seterusnya adalah sejumlah teman wacana dan partner dialog pemikiran Islam kontemporer.[vi]

Baca Juga: Islam dan Modernitas (V): ‘Balas Dendam’ Tuhan

Karena itu, adanya asumsi konservatisme-ortodoks yang meniscayakan formulasi keberagamaan orang-orang terdahulu sebagai role model yang paling ideal bagi umat manusia adalah paradigma berpikir yang, barangkai, perlu dikaji kembali.

Jika teologi tidak mampu menelaah bagaimana mekanisme dan metodologi ilmu pengetahuan modern berkembang dan hanya menangkap sisi negatifnya saja, maka bahasa teologi hanya terbatas pada ungkapan aktif-represif belaka, bukan diskursif. Ia semakin jauh (obselete) dari kenyataan empiris yang menjadi concern ilmuwan dan manusia yang hidup pada era modern saat ini.


[i] [i] Samuel P. Huntington, The Clash of Civilization and The Remaking of World Order (New York: Simon & Schuster, 1996), hlm. 312.

[ii] Azyumardi Azra, Gerakan Pembebasan Islam (Jakarta: Kencana, 2020), hlm. 215.

[iii] Clifford Geertz, Local Knowledge: Further Essays in Interpretive Antrhopology (New York: Basic Books, 1983).

[iv] Roy Oliver, Globalised Islam: The Search for a New Ummah (London: Hurst, 2004).

[v] Sutan Takdir Alisjahbana, Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat dari Jurusan Nilai-Nilai (Jakarta: Yayasan Idayu, 1977), hlm. 38.

[vi] Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postmodernisme, cet. V (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016), hlm. 90.

Profil Penulis
M Ikhya Ulumuddin Al Hikam
M Ikhya Ulumuddin Al Hikam
Penulis Tsaqafah.id
Sekretaris Departemen Penelitian Pengurus Pusat Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir dan Hadis Indonesia (FKMTHI)

6 Artikel

SELENGKAPNYA