Aktualisasi Makna Ta’dzim di Pesantren

Aktualisasi Makna Ta’dzim di Pesantren

11 Agustus 2022
1127 dilihat
2 menits, 20 detik

Tsaqafah.id Ta’dzim dimaknai sebagai perilaku memuliakan seseorang. Aktualisasi ta’dzim, jika diperhatikan secara sekilas tidak jauh beda dengan perilaku sopan santun biasanya.

Sudah disepakati banyak pihak, bahwa sopan santun merupakan hal yang wajib diketahui oleh setiap manusia. Meskipun tidak ada pengajaran formal tentang sopan santun, tiap orang dituntut memahami perilaku yang sopan dan santun.

Signifikansi sopan santun sebagai sesuatu yang esensial, menjadikannya sebagai dasar penerimaan masyarakat terhadap seseorang. Seperti redaksi yang sering kita dapati pada umbul-umbul dan poster di jalan pedesaan, “Anda sopan, Kami segan”.

Jika di masyarakat umum sopan santun adalah perkara berperilaku sesuai dengan nilai baik yang berlaku, pun di lingkungan pesantren. Bahkan terdapat istilah khusus, berkenaan dengan perilaku sopan santun, yaitu “ta’dzim”. Ta’dzim dimaknai sebagai perilaku memuliakan seseorang.

Aktualisasi ta’dzim, jika diperhatikan secara sekilas tidak jauh beda dengan perilaku sopan santun biasanya.

Namun perlu diketahui, bahwa terdapat faktor penggerak ta’dzim yang hanya ada di pondok pesantren, yaitu rasa rendah diri di hadapan ilmu pengetahuan. Memuliakan ilmu dan pengetahuan adalah kewajiban seorang santri, yang sering teraktualisasi dalam hubungan antara santri dengan gurunya.

Seseorang yang bisa menjadi guru di pondok pesantren tidak hanya ditentukan oleh seberapa lamanya ia belajar dan mengabdikan diri di pondok pesantren, tetapi kedalaman ilmu yang dimiliki justru lebih diutamakan untuk mengangkat seorang santri–sebutan bagi orang yang balajar di pondok pesantren–menjadi guru. Kedalaman ilmu tersebut yang memunculkan sikap rendah hati seorang santri terhadap orang lain, khususnya kepada sang guru.

Baca juga; Faedah Ilmu sebagai Pelita Kehidupan

Sikap rendah diri seorang santri terhadap ilmu dan pengetahuan bukanlah sesuatu yang buruk. Justru dengan bersikap seperti itu santri tidak akan menganggap sang guru sebatas sebagai penyampai ilmu. Sang guru merupakan perantara santri memperoleh berkah ilmu, sehingga ilmu yang didapatkan tercerna secara baik oleh santri sendiri dan berimplikasi positif ke lingkungan santri tersebut.

Praktik ta’dzim tersebut seringkali dapat diamati ketika seorang santri bersalaman–berjabat tangan–dengan gurunya, pun dengan sesama santri.

Sudah menjadi hal lumrah, ketika santri membungkukkan badan dan mengecup punggung telapak tangan sang guru saat bersalaman. Mengecup sesuatu adalah salah satu bentuk tindakan manusia untuk memulaikan sesuatu tersebut.

Demikian pula antar sesama santri saat bersalaman. Seorang santri yang menyalami santri lain akan membungkukkan badan dan mencoba mengecup tangan santri lain tersebut. Si santri lain juga tidak mau kalah, ia juga akan mencoba mengecup tangan santri yang menyalaminya. Sering terjadi scene yang komedik ketika hal tersebut terjadi. Tak lain, sebagai bentuk aktualisasi ta’dzim terhadap ilmu dan pengetahuan.

Baca juga; Gus Baha: Tanpa Tiga Hal Ini, Ilmu Sebanyak Apapun Tidak Akan Bermanfaat

Antar kyai–sebutan yang digunakan untuk merujuk maha guru di lingkungan pondok pesantren–pun tidak luput dari praktik ta’dzim. Sebagai contoh, sesama kyai pun akan merendahkan dirinya ketika situasi dan kondisi mengharuskan satu di antara para kyai untuk memimpin doa. Dengan alasan, “ilmu, pengetahuan, dan habluminallah njenengan lebih tinggi daripada yang kula lakoni“.

Melalui ta’dzim, memuliakan ilmu dan pengetahuan, tersebut santri mengharapkan keberkahan ilmu bisa membasahi dirinya dan lingkungan di sekitarnya, sehingga santri tersebut bisa menjadi sahabat ilmu dan pengetahuan untuk bersama memahami kebenaran Gusti Allah.

Tidak hanya menunjukkan perilaku sopan dan santun, sesuai dengan nilai baik yang disepakati masyarakat, tetapi menjiwai laku tersebut sebagai mediator habluminannas dan habluminallah. Serta menjadi nilai luhur seorang santri untuk selalu merasa perlu berperilaku sopan dan santun di manapun dan kapanpun terhadap siapapun.

Profil Penulis
Wakhid H
Wakhid H
Penulis Tsaqafah.id

1 Artikel

SELENGKAPNYA