Judul: Reopening Muslim Minds, Penulis: Mustafa Akyol, Penerjemah: Prof. Nina Nurmila, Ph.D., Penerbit: Noura Books PT. Mizan Publika, Tahun Terbit: Januari, 2023
Tsaqafah.id – Beberapa waktu lalu ramai berseliweran di timeline media sosial tentang pejabat publik Korea Selatan yang ingin mengakhiri hidupnya karena malu akan kasus korupsi yang menimpanya. Kita semua lantas bertanya-tanya; kenapa rasa malu itu tidak muncul di negara kita yang dikenal saleh?
Inilah suatu fenomena di dunia modern dan dunia Islam khususnya, yang dianggàp oleh banyak akademisi mengalami kemandegan (decline). Menjadi keresahan Mustafa Akyol, seorang jurnalis dan akademisi Turki tatkala ia temui polisi-polisi moral di banyak negara muslim.
Mustafa Akyol memulai halaman bukunya ini dengan cerita pribadi yang menimpanya saat mengisi kuliah umum di Malaysia. Tak jarang ia dicurigai sebagai agen liberal dan membahayakan untuk umat Islam di negeri Jiran tersebut.
Dalam buku ‘Reopening Muslim Minds’, Mustafa Akyol mengeksplorasi lebih dalam tentang apa yang terjadi dalam dunia Islam selepas kepergian Nabi Saw.
Selanjutnya, Akyol membuka kembali ingatan umat muslim hari ini tentang karya besar yang ditulis oleh filosof besar Ibn Tufail yang hidup pada zaman pertengahan, yaitu novel Hayy bin Yaqdzon. Novel filosofis ini telah menjadi pintu gerbang terbukanya kemajuan Barat, namun di sisi lain banyak dilupakan di dunia Islam.
Baca Juga: Komparatif Kitab Tafsir Mu’tazilah: Tafsir Al-Kasyaf dan Tanzih Al-Qur’an – Tsaqafah.id
Dalam Hayy bin Yaqdzon, Ibn Tufail berjuang mempertahankan filsafat dan moral yang mulai karam di dunia Islam karena pengaruh politik dan kekuasaan.
Lewat tokoh Hayy, Ibn Tufail kembali menghidupkan wacana bahwa secara kodrati setiap manusia memiliki nalar dan ‘cahaya batin’ sebagai karunia dari Allah Swt. Dengan keduanya itu manusia mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana benar mana salah, mana yang haq dan mana bathil.
Konsep ‘cahaya batin’, selanjutnya di Barat dikenal sebagai ‘conscience’ (sering diartikan sebagai hati nurani). Hayy bin Yaqdzon dikenal luas dalam masyarakat Kristen Eropa dengan judul Philosophus Autodidactus. Pada masa itu, dalam masyarakat Anglo-saxon, apa yang ada dalam buku tersebut (Hayy bin Yaqdzon / Philosophus Autodidactus) dianggap berbahaya, karena bagi mereka kebenaran hanya muncul dari dalam gereja, manusia umum tidak memiliki kapasitas untuk menimbang tentang benar dan salah.
Mustafa Akyol secara sadar membawa kembali ingatan umat muslim tentang konsep ‘cahaya batin’ ini. Berbeda dengan masyarakat Kristen, dalam Islam banyak kita temukan redaksi tentang hati nurani dan akal manusia.
Baca Juga: Muhammad Al-Fayyadl: Seluruh Dunia sebagai Darul Dakwah bagi Umat Islam (3) – Tsaqafah.id
Seperti disebutkan dalam al-Qur’an surah Al-Ankabut:20, Al-Hajj:46, Al-A’raf:185, Al-Hadid:17, dan masih banyak lagi. Bahkan wahyu pertama yang turun kepada Nabi Saw adalah perintah membaca (Iqra’) dalam QS. al-Alaq:1-5.
Kemudian, kenapa justru belakangan ini umat muslim kehilangan kemerdekaannya dalam berpikir. Kita dapati berbagai tuduhan disematkan pada orang-orang yang memiliki kebebasan berpikir di kalangan umat Islam.
Mustafa Akyol meresahkan tentang hukum-hukum agama (syariat) yang dianggapnya tidak manusiawi dan bertentangan dengan hak asasi manusia. Mulai dari perbedaan hukum waris antara laki-laki dan perempuan, hukum potong tangan bagi pencuri, hukum rajam dan qisas, serta praktik perbudakan yang masih ditemui di beberapa negara muslim.
Dengan hukum-hukum yang dianggap tidak manusiawi itu, ia mempertanyakan tentang kemana moralitas yang dibawa oleh Islam?
Manusia hari ini hidup di zaman modern. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang setiap harinya, namun mayoritas muslim sebagian besar hanyalah bagian dari sistem produksi paling akhir yaitu sebagai konsumen. Mungkin akibat yang kita rasakan hari ini juga adalah kealpaan dalam sanjungan berlebih pada masa yang disebut the islamic golden age.
Iya, Islam pernah menjadi agama dan peradaban yang paling maju pada masanya. Tetapi, orang seperti apa yang hanya bisa membanggakan masa lalu tanpa mau mengetahui fakta historis dan faktor-faktor pendorong kemajuan itu?
Kemajuan tidak datang dari pola pikir yang sempit dan penuh ketakutan, melainkan keterbukaan. Jika kita menilik sejarah Nabi sampai abad pertengahan, justru kehidupan muslim saat itu sangat kosmopolit. Berbagai pandangan dan wacana mengisi ruang publik, interaksi dengan kelompok lain sangat terbuka.
Baca Juga: Kisah Greta And The Giant: Memahami Krisis Ekologi Melalui Cerita Anak – Tsaqafah.id
Bagaimana hal itu tidak bisa dipahami oleh sebagian besar muslim hari ini? Justru seringkali kita memendam prasangka dan penuh ketakutan terhadap kelompok lain dan berbagai istilah baru tanpa mau mengetahui tentang esensinya.
Hukum-hukum agama tentang cara bermuamalah dengan orang non islam yang terus digaungkan sampai hari ini, setidaknya mengindikasikan bahwa kita memang belum kemana-mana bahkan mungkin sejak abad ke-14 serta dalam masa transisi menuju masyarakat industri.
Mustafa Akyol melempar berbagai hipotesisnya tentang hukum Islam yang mandek dan jauh tertinggal dari norma-norma baru yang dikehendaki masyarakat modern. Ia menduga bahwa hukum syariat yang mandek juga disebabkan oleh faktor-faktor dari dalam umat islam sendiri, seperti rebutan pengaruh dalam kekuasaan, di mana dialog antara agama dan kekuasaan yang dipimpin oleh para sultan seringkali pragmatis, serta kaum agamawan yang memaksakan suatu mazhab atau aliran tertentu.
Beberapa tokoh reformis Islam seperti Muhammad Abduh (1849-1905) dan Fazlur Rahman (1919-1988), telah menggali tentang problem syari’ah yang mandek ini. Menurut para reformis dan cendekiawan muslim, bahwa formasi hukum Islam yang telah bekerja dengan baik dan mendorong kemajuan peradaban umat Islam pada abad ke-4, tidak lagi bisa berjalan efektif dalam tatanan masyarakat modern.
Dalam buku ini, Mustafa Akyol tidak hendak menghidupkan suatu aliran tertentu atau membuat aliran baru, melainkan memberi ruang pada umat muslim hari ini untuk kembali merenung, bahwa Islam, baik secara mazhab atau aliran, yang kita anut sampai hari ini, memiliki sejarah yang panjang, dan itu sangat berharga.
Setiap pemeluk suatu agama tentu meyakini bahwa agama yang ia anut adalah yang paling benar. Tapi di atas semua itu, Akyol ingin mengatakan bahwa kita harus lebih terbuka lagi dalam toleransi, khususnya menyangkut pemikiran dan wacana. Dengan itu, kita bisa menggali khazanah luhur yang dibawa oleh Islam itu sendiri.

