Berangkat dari pemikiran Ibnu Khaldun, maka dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan faktor krusial dalam kebangkitan kembali peradaban Islam. Namun, untuk bisa mengembalikan masa kejayaan, umat Islam harus melakukan perubahan paradigma dalam memahami ilmu pengetahuan.
Islam pernah mengalami masa Golden Age atau zaman keemasan Islam. Masa ini terjadi pada periode abad ke-8 hingga ke-13. Berlangsung selama sekitar 500 tahun lamanya. Pada masa itu, Islam bahkan telah menguasai dua pertiga dunia dan melahirkan banyak ilmuwan besar yang namanya masih tercatat dalam sejarah hingga saat ini. Beberapa di antaranya adalah Ibnu Sina, Ibnu Haitham, Abbas Ibnu Firnas, Al-Farabi, dan masih banyak lagi.
Mendengarkan ataupun membaca sejarah masa keemasan Islam, tentu rasanya membuat kita sebagai umat Islam merasa takjub dengan kebesaran Islam yang terjadi di masa tersebut. Namun, ketika melihat realita hari ini, khususnya di Indonesia yang menjadi negeri dengan mayoritas penganut Islam. Rasanya untuk Islam kembali bangkit ke masa keemasan seakan-akan adalah hal yang mustahil.
Mengapa mustahil? Kita sebagai umat Islam bisa melihat kondisi umat hari ini. Islam cenderung tertinggal dalam berbagai lini sektor bidang yang ada. Baik bidang ilmu pengetahuan, teknologi, riset dan ekonomi.
Dalam bidang riset saja, Indonesia tidak memiliki seorang periset unggul yang telah meraih penghargaan Nobel (penghargaan bagi mereka yang telah melakukan penelitian yang luar biasa untuk dunia). Bahkan berdasarkan data The Nobel Foundation tahun 1901-2021, dari seluruh orang muslim di dunia hanya 12 orang yang mampu meraih Nobel.
Baca juga: Politik Islam Indonesia Muhammad Natsir
Selain itu, jika dilihat dalam bidang ekonomi. Mengutip World Population Review, Indonesia masuk dalam urutan ke-73 negara termiskin di dunia. Pendapatan nasional bruto RI tercatat US$3.870 per kapita pada 2020. Sedangkan pada tahun 2023, Indonesia berada di peringkat ke-6 negara dengan angka kemiskinan tertinggi di Asia Tenggara
Kondisi umat Islam khususnya Indonesia yang sangat tertinggal dalam berbagai bidang sektor yang ada. Tentu membuat umat hari ini berpikir: Mungkinkah Islam suatu hari bisa kembali berjaya? Pertanyaan ini, sebenarnya telah Allah jawab dalam QS. An-Nur [24]: 55.
Artinya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa”.
Dalam ayat tersebut, Allah telah berjanji kepada umat Islam bahwa mereka akan menjadi penguasa di muka bumi. Agar bisa menjadi penguasa bumi, umat Islam tidak hanya sekedar mempelajari ilmu agama, tapi juga harus menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sebab dengan ilmu pengetahuanlah umat Islam bisa menjadi seorang ahli yang mampu mengatur dan mengelola bumi dengan baik sesuai dengan syariat Islam.
Para ahli ilmu tafsir sendiri dalam memaknai Q.S An-Nur ayat 55, bahwa umat Islam mampu mengalami kejayaan memiliki beberapa pandangan. Pertama, Al-Maraghi dalam tafsirnya menafsirkan ayat ini sebagai bentuk kepastian bahwa kejayaan Islam akan kembali asalkan umat Islam tetap berpegang teguh pada iman dan amal saleh. Dia menambahkan bahwa peradaban yang kokoh harus didukung dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Kedua, Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menyatakan bahwa ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia dalam kehidupan. Dia menegaskan bahwa seseorang yang memiliki ilmu akan memiliki kekuatan. Dengan ilmu, seseorang dapat memahami hakikat dunia, mengatur kehidupan, dan memimpin masyarakat.
Dari penjelasan tersebut, ulama tafsir memiliki pandangan bahwa kejayaan Islam dapat kembali jika umat Islam senantiasa taat pada Allah dan mempelajari ilmu pengetahuan. Ketaatan dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang harus dimiliki oleh umat Islam. Tanpa ketaatan pada Allah, maka manusia akan melakukan kerusakan di muka bumi dengan ilmunya. Sedangkan jika manusia taat pada Allah, namun tidak mempelajari ilmu pengetahuan, sudah dipastikan umat Islam akan mengalami ketertinggalan dari bangsa lain.
Baca juga: Sejarah Aliran-aliran dalam Islam
Dalam buku Muqaddimah, Ibnu Khaldun menekankan bahwa kemajuan suatu peradaban sangat bergantung pada penguasaan ilmu. Ia berpendapat bahwa ilmu adalah faktor utama dalam membangun kekuatan ekonomi, politik, dan sosial. Suatu bangsa yang memiliki ilmu akan lebih unggul dalam strategi pemerintahan dan teknologi, sehingga dapat menguasai dunia.
Berangkat dari pemikiran Ibnu Khaldun, maka dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan faktor krusial dalam kebangkitan kembali peradaban Islam. Namun, untuk bisa mengembalikan masa kejayaan, umat Islam harus melakukan perubahan paradigma dalam memahami ilmu pengetahuan.
Saat ini, umat Islam cenderung terpecah antara mereka yang menganggap ilmu agama sebagai satu-satunya aspek penting dan mereka yang terlalu menekankan ilmu duniawi tanpa keterkaitan dengan nilai-nilai Islam. Padahal dalam sejarah, para ilmuwan Muslim atau ulama berhasil menciptakan harmoni antara keduanya.
Kebangkitan Islam bukanlah sesuatu yang mustahil. Sejarah membuktikan bahwa ketika umat Islam menguasai ilmu pengetahuan dan mengintegrasikannya dengan nilai-nilai Islam, mereka mampu bangkit mencapai puncak kejayaan. Allah telah memberikan janji-Nya dalam QS. An-Nur ayat 55 bahwa umat Islam akan kembali menjadi penguasa di bumi. Namun, janji ini tidak akan terwujud jika umat Islam tidak taat kepada Allah dan tidak menuntut ilmu pengetahuan. Wallahu a’lam.

