Dari Indonesia, Menjawab Jeritan Ibu dari Gaza

Dari Indonesia, Menjawab Jeritan Ibu dari Gaza

14 Agustus 2025
238 dilihat
2 menits, 52 detik

Saya pun ingin menyaksikan anak-anak Palestina yang pemberani itu kembali berlari dengan lincah, bersekolah dengan gembira, dan bertumbuh menjadi generasi cerdas untuk melanjutkan kehidupan bangsanya.

Tsaqafah.id – Pagi ini saya membuka Instagram dan segera terpapar unggahan story yang berjudul A Letter from a Mother in Gaza to Mothers Around The World’ yang ditulis oleh Munira EL Najar. Surat itu adalah jeritan hati seorang ibu di tengah dampak perang pada derita kemanusiaan. Suara ibu yang ingin anaknya tidur dengan damai dan mendengar tawa riang mereka.

Harapannya, ia ingin hidup seperti ibu di seluruh penjuru dunia yang ingin menyiapkan anaknya berangkat sekolah tanpa serangan udara. Munira tidak mengemis simpati. Ia dengan gagah menyebut ‘We don’t ask for pity but for witness’. Ini juga pengingat bagi kita bahwa yang paling menderita dalam perang adalah anak dan perempuan.

Baca juga “My Garden Over Gaza”: Yang Subtil Tapi Juga Terang untuk Anak-Anak

Gelombang dukungan internasional terhadap Gaza terus berlangsung. Seperti pekan lalu, jembatan Sydney dipenuh kerumunan manusia berbaju hitam sebagai aksi protes terhadap serangan dan genosida di Gaza. Keprihatinan ini memuncak karena Israel melarang bantuan masuk ke Gaza dan membuat anak-anak Gaza mengalami malnutrisi akut. Tidak hanya sipil, sejumlah pemerintahan negara yang selama ini bungkam mulai memberikan sinyal pengakuan terhadap Palestina.

Berturut-turut pernyataan dari Inggris, Perancis, Kanada, dan Australia mengatakan akan mengakui negara Palestina jika Israel tidak mengambil tindakan untuk mengakhiri perang. Pihak pemerintah Palestina sendiri dilansir dari SBS Australia juga telah memberikan komitmen dari Otoritas Palestina untuk mengakui hak Israel untuk hidup damai, melakukan demilitarisasi, dan menggelar pemilu umum.

Tentu saja, friksi politik di dalam Palestina maupun Israel punya kompleksitasnya sendiri. Tetapi, perdamaian dan kehidupan yang layak harus menjadi prioritas bagi semua pihak. Sangat disayangkan dengan gelombang dukungan ini, Israel tampak masih keras kepala dan menyebut gerakan dukungan resmi sejumlah negara Barat ini sebagai tindakan memalukan.

Apa yang Bisa Dilakukan Indonesia?

Meski secara resmi Indonesia mengakui Palestina, tapi kita sebagai publik dapat menilai fluktuasi keberpihakan Indonesia terhadap Palestina-Israel. Kita tidak lagi punya Menteri Luar Negeri yang keberpihakan terhadap Palestina begitu lugas seperti Ibu Retno Marsudi.

Diterpa kasus kematian misterius Diplomat Muda Arya Daru, Kementerian Luar Negeri belum memberikan respon yang tangkas. Sebaliknya, media justru mengabarkan bahwa Indonesia berwacana akan membuka rumah sakit di Pulau Galang yang dulu digunakan untuk penanggulang pandemi untuk menampung 2000 pasien dari Gaza. Disebut bahwa upaya ini dilakukan dengan adanya komunikasi antara Indonesia dan Israel.

Sebagai warga Indonesia dan seorang ibu, kompleksitas berita-berita di atas membuat saya merasa ingin berharap, namun skeptis dan kecewa terhadap negara sendiri. Kemerdekaan yang kita nikmati selama 80 tahun merupakan peluang yang kita rebut dalam momentum berakhirnya Perang Dunia II. Dimulai dari periode yang sama, tanah Palestina dijajah oleh Zionis dengan berdirinya Israel.

Baca juga Semangka dan Suara Free Palestina

Momentum peringatan kemerdekaan ini sangat tepat untuk merefleksikan keberuntungan kita dan kemalangan Palestina yang dimulai di sekitar 80 tahun lalu. Dengan dasar persaudaraan kemanusiaan dan keislaman, Indonesia sebagai bangsa maupun pemerintahnya harus tanpa ragu menyatakan dukungan bagi kemanusiaan dan perdamaian di Palestina.

Mengeluarkan penduduk Gaza bukanlah aksi yang ingin kita lihat dari pemerintah Indonesia. Biarlah penduduk Gaza hidup di negerinya dengan damai, perdamaian itu yang kita perjuangkan bersama terjadi di wilayah Palestina. Warga Palestina selama ini telah bertahan di sana, menjaga tanah airnya. Keinginan mereka yang kuat itu yang harus kita hormati dan dukung.

Menjawab Munira EL Najar, para ibu sedunia dengan hati nurani yang tulus mendoakan para ibu di Palestina untuk bisa hidup tanpa takut, tanpa kelaparan, tanpa ancaman, tanpa raungan serangan. Saya pun ingin menyaksikan anak-anak Palestina yang pemberani itu kembali berlari dengan lincah, bersekolah dengan gembira, dan bertumbuh menjadi generasi cerdas untuk melanjutkan kehidupan bangsanya.

Pemerintah Indonesia seharusnya dapat melihat ini sebagai peluang untuk memperkuat dukungan internasional terutama di kawasan Asia Pasifik dengan bergabungnya Australia dan Kanada. Bukan justru membuat blunder dengan mengakomodasi ide mengeluarkan penduduk Gaza dari tanah airnya. ‘Kemerdekaan itu ialah hak semua bangsa’ adalah sikap politik internasional Indonesia yang harus kita lakukan dengan konsisten.

Baca juga Menolak Lupa Founding Mothers Indonesia

Profil Penulis
Nabilah Munsyarihah
Nabilah Munsyarihah
Penulis Tsaqafah.id
Direktur Penerbit Buku Anak Alalakids

2 Artikel

SELENGKAPNYA