Cerpen Ghassan Kanafani: Surat dari At-Tira

Cerpen Ghassan Kanafani: Surat dari At-Tira

30 Oktober 2022
329 dilihat
8 menits, 39 detik

Tsaqafah.id – Di mana sih kacung itu berada waktu dulu aku bertempur melawan Yahudi itu di At-Tira dan Haifa? Di mana dulu ia berada? Aah! Jangan-jangan kau kira aku ini mendendam pada polisi itu.

(Apa yang ingin kukatakan? Oo ya, aku ingin menceritakan kisah seorang langganan yang tiap sore selalu membeli dariku tiga potong ajwa (kurma yang dipres).

Ia jenis seorang langganan yang punya ciri khas. Jenis yang ada sedikit periang, setidak-tidaknya di depan teman-temannya, karena ia punya seorang sahabat tua penjual ajwa. Engkau tahu, bahwa labaku dari penjualan itu tidaklah banyak, tapi alhamdulillah cukup. Kubeli tiap tiga potong ajwa itu dari seorang perempuan tua seharga dua frank, dan lalu kujual satu frank tiap satu. Bukan hanya ini. malah banyak di antara para langganan yang membayar satu frank tanpa mengambil satu pun. Orang-orang itulah tentunya yang kusukai. Oo ya, aku ingin ceritakan kisah langganan seorang itu, tapi kenapa aku jadi lupa? Ooh! Polisi yang pada wajahnya ada bekas luka itu! Banyak polisi yang baik-baik, tapi polisi yang satu ini sama sekali tidak menyenangkanku. Kau lihat bagaimana ia bertingkah? Apakah aku yang salah? Aku lagi berdiri di tikungan itu waktu ia mendekatiku, dan sambil menggoyang-goyangkan piring ajwa ia berkata: “Kau harus pergi dari sini!”

Ia seorang polisi yang masih baru, ini jelas. Karena polisi-polisi lainnya yang baik-baik dan berjaga di jalan itu pada mengijinkan aku berdiri di situ. Tatkala polisi tadi berkata begitu padaku, kucoba menjelaskan beberapa hal padanya. Tapi ia malah mengambil piring ajwa itu dan meletakkannya di atas kepalaku, dan katanya: “Syukur bahwa tidak kutumplekkan di atas kepalamu.” Kemudian ia menjungkrakkan aku, seolah aku ini seorang Yahudi. Kan aku bukan seorang Yahudi, dan engkau tahu bahwa yang begitu itu adalah penghinaan besar. Di mana sih kacung itu berada waktu dulu aku bertempur melawan Yahudi itu di At-Tira dan Haifa? Di mana dulu ia berada? Aah! Jangan-jangan kau kira aku ini mendendam pada polisi itu.

Mungkin anda juga suka

Walhasil, syukur alhamdulillah. Ya alhamdulillah bahwa aku tidak pernah berbuat khianat dan pengecut. Coba aku begitu, tentu tak akan kumaafkan polisi itu. Dalam hal ini memang bukan kesalahannya. Itu kesalahan orang-orang yang telah bikin Palestina tercolong dan yang bikin hidup kami ini jadi melarat. Membikin kami, seolah-olah meninggalkan Palestina hanya untuk cari kerja asalan saja. Walhasil, aku tahu apa yang telah menyebabkan tercolongnya Palestina. Omongan koran-koran tak ada artinya, anakku. Mereka, orang-orang yang menulis di koran-koran itu, pada duduk di kursi-kursi empuk di ruangan yang luas dengan lukisan-lukisan dan pendiangan. Lalu mereka menulis tentang Palestina dan perang Palestina, padahal selama hidup mereka tak pernah mendengar letusan satu kali pun. Kalau mereka dengar, tak ayal lagi mereka akan tunggang-langgang entah ke mana. Anakku, Palestina kecolong oleh sebab yang sangat sederhana. Mereka yang pegang pimpinan itu selalu menghendaki kami para serdadu agar bertindak dengan satu cara saja. Agar kami bangun kalau mereka bilang bangun, tidur kalau mereka bilang tidur, bersemangat kalau mereka menghendaki kami lari. Demikianlah sampai terjadi tragedi itu, dan mereka sendiri tidak tahu bagaimana memimpin serdadu. Dikiranya para serdadu itu semacam senjata saja yang hanya perlu diisi. Dan mereka mengisinya dengan perintah-perintah yang simpang-siur. Seakan-akan kami bertempur melawan Yahudi hanya karena mereka menghendaki begitu.

Memang ada juga sementara pemimpin yang ikhlas. Tapi apa yang bisa diperbuat kalau hanya seorang diri? apa yang bisa diperbuat oleh satu malaikat yang tiba-tiba jatuh di neraka jahanam, sementara sayap-sayapnya tersangkut pada cakar-cakar setan? Pernah aku mengalami dua kali pertempuran bersama Ibrahim Abu Diah almarhum. Ia bertempur dengan tegak perkasa seperti sedang berpidato, dan kami maju bersamanya seakan-akan pergi ke pesta penganten. Aku banyak tahu tentang kehidupan almarhum itu. Dari kecil ia ikut bersama Abdul Qadir Al-Husaini, membawa surat untuk kawan-kawan melintasi pegunungan. Setelah besar membawa mesiu dan bertempur, dan Abdul Qadir Al-Husaini bilang bahwa Ibrahimlah orang yang paling berani yang pernah ia lihat selama hidupnya. Ia seorang yang amat cerdik. Tahun 1948 bersama anak buahnya ia memasuki pertempuran Mikor Hayem dan enam belas tembakan bersarang pada punggungnya yang menyebabkan ia lumpuh. Empat tahun ia menghabiskan umurnya setelah itu dengan tersiksa. Dapat kamu bayangkan, bagaimana perasaan seorang lumpuh yang tahun-tahun sebelumnya ia habiskan dalam pertempuran dengan gagah perkasa. Ia hanya bisa menerawang, kemudian tersenyum dan kembali memikirkan dua puluh lima lira keperluannya tiap hari untuk suntikan morfin yang sedikit mengurangi penderitaanya. Betul ia tersiksa. Sampai-sampai sementara negara Arab berusaha membantunya, dan sesudah diadakan pembicaraan diputuskan untuk menggajinya tiap bulan selama hidup. Datanglah seorang utusan negara-negara tersebut ke Beirut. Tatkala ia memasuki kamarnya, Ibrahim Abu Diah sedang sekarat. Tiga orang berdiri di samping tempat tidurnya sambil menangis. Dengan suara hampir tak terdengar Ibrahim minta agar mereka menyanyikan lagu kebangsaan baginya. Tiga lelaki itu tegak menyanyikan lagu kebangsaan sambil menangis, sementara ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Semoga Allah mengasihinya. Ia telah banyak menderita, juga orang-orang yang dekat dipannya selagi ia akan mati. Kasihan. Kan sudah kukatakan, bahwa tak ada yang peduli dan yang memperhatikan para pahlawan? Ia telah menderita cukup lama. Waktu ia akan mati, seorang perempuan tua masuk ke kamarnya dan memberinya serangkai kecil bunga merah. Nama bunga itu? “Saudara kandung,” ya “saudara kandung.” Mereka menamakannya di pedesaan dengan bunga “rindu.” Sambil hampir-hampir menangis, perempuan itu berkata padanya:

“Ooh sang luka…..”

Dan ia pun menghembuskan nafasnya dalam dekapan bunga itu, yang kemudian dikuburkan bersamanya. Kau lihat bagaimana para pahlawan mati tanpa seorang pun mendengarnya? Kau lihat?

Mungkin anda juga suka

Ini bukan hanya di Al-Quds saja, melainkan di mana-mana. Contohnya: di Hadar, Haifa, ada sebuah tank besar yang selalu menembaki orang di jalanan Karmal dengan semena-mena. Di Haifa waktu itu tak ada sebuah ranjau pun yang cukup besar untuk menghancurkan tank itu. Kemudian, entah bagaimana, pimpinan laskar Haifa yaitu Hamad Al-Haniti bisa pergi ke Syria dan kembali dengan sebuah ranjau besar. Waktu kembali lewat Raas An-Naqura, seorang perempuan Yahudi dapat mengetahui rahasia tersebut dan melaporkannya dengan radio ke sebuah koloni Yahudi antara Akka dan Haifa. Nama koloni itu? Oo sudah tak ingat lagi. Pokoknya, sore hari Hamad dan beberapa kawannya—antara lain Surur Barham (pernah dengar namanya?)—melintas melalui Akka. Baik, mereka telah sampai dekat koloni itu sebelum malam turun. Dan di situlah sepasukan serdadu Yahudi tiba-tiba mendadakinya dan berusaha merampas ranjau itu. Hamad disuruh menyerah, tapi ia menolak. Bersama beberapa kawannya ia bertahan dengan perkasa, sampai satu persatu gugur di sekelilingnya. Apa ia lalu menyerahkan ranjau itu dan menyelamatkan dirinya? Tentu tidak. Ia berdiri dan mengangkat tangannya. Dan tatkala serdadu-serdadu Yahudi itu mendekatinya dengan maksud menawannya, seketika ia melepaskan sebuah tembakan mengenai ranjau besar itu. Kata orang, hari itu dari Akka mereka bisa dengar ledakan ranjau yang hebat itu. Berkepinganlah tubuh-tubuh Yahudi itu ke udara, juga tubuh sang syahid hancur, sampai-sampai orang tak bisa menemukan sekeping pun untuk dikuburkan.

Apa yang tadi ingin kukatakan padamu? Ooh, bahwa orang-orang yang berwenang itu tak ambil peduli kepada para pahlawan mereka. Mereka juga tak tahu menahu perihal pertempuran itu. Sang pemimpin tadi telah mati syahid bersama kawan-kawannya. Aku sendiri tidak ingin berdebat, apakah ia telah bertindak yang masuk akal atau telah sembrono. Hanya saja aku ingin bertanya: apa yang terjadi pada keluarga mereka yang telah mati syahid itu? Dan pihak pemimpin di Haifa, bagaimana langkah mereka untuk mengisi kekosongan akibat tewasnya para syahid itu? Bukankah kekacaubalauan telah menimpa Haifa dengan sangat memilukan?

Apa yang ingin kukatakan? Oo ya, tentang mereka yang bertanggung jawab kepada kami. Misalnya yang terjadi di Rifaniri, pabrik penyulingan minyak yang besar itu. Di situ buruh Arab dan Yahudi bekerja bersama-sama. Waktu itu aku juga bekerja di pabrik itu. Terjadilah sebuah peristiwa kecil yang aku sendiri sudah lupa kebanyakan tetek bengeknya. Seorang Yahudi melemparkan granat ke arah seorang penjaga Arab yang lagi piket di depan pintu pabrik. Tewaslah penjaga itu. Kami tentu saja sedih sekali mendengar matinya penjaga itu dan beberapa kawannya yang sama berjaga. Maka pintu gerbang pabrik itu kami tutup, dan dengan menggunakan apa saja yang kami temukan kami bertempur dengan Yahudi-yahudi itu. Satu lawan satu kami berhadapan, masing-masing tanpa senjata, kecuali perkasa kelakian. Dan kami berhasil mengalahkan mereka. Di pabrik itu tak sebuah senjata api pun yang kami miliki. Maka di antara kami ada yang menggunakan tractor. Kebanyakan kami menggunakan sekop dan linggis yang bercabang dua panjang. Dan terjadilah pertempuran itu. Tak seorang pun dari musuh yang tersisa. Meskipun pertempuran macam itu merupakan hal baru bagi kebanyakan kami, tapi kami terjun dengan satu-padu, mempersetankan nasib mendatang pekerjaan kami tanpa menghiraukan bujukan Yahudi-yahudi itu yang merengek-rengek mengatakan bahwa kami sama-sama buruh, makan hidup di situ. Namun apa yang terjadi kemudian sesudah kami berhasil menewaskan puluhan Yahudi itu? Setelah kami tinggalkan pekerjaan di Rifaniri itu dan lontang-lantung di jalanan macam pengemis, sebagaiman lontang-lantungku sekarang ini, apa kau kira mereka yang bertanggung jawab pada kami itu lalu memberi kami senjata dan berkata: ayo bertempur dan mati bersama-sama kami! Malah mereka sama sekali tak mempedulikan kami, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa kami ini para tukang jagal dan bukan pejuang. Dan mereka tidak membutuhkan kami. Sebab itu kami harus pergi ke mana saja kami maui, berjuang dengan cara yang kami maui melawan siapa saja yang kami maui! Tukang-tukang jagal, mereka bilang. Jadi pejuang-pejuang macam apa yang mereka kehendaki? Pejuang-pejuang yang bermantel putih dan yang hanya tersenyum cerah terhadap kekejian-kekejian Yahudi itu? Ataukah menghendaki kami bertempur di gelanggang sidang-sidang Liga Arab?

Mungkin anda juga suka

Dengarkan apa yang terjadi pada seorang pejuang terhormat ini. Ia seorang sopir kendaraan umum. Suatu kali ia lihat seorang perempuan Yahudi lari dikejar sekelompok anak-anak yang melemparinya dengan batu-batu. Waktu itu masih dalam permulaannya ketegangan-ketegangan. Cepat saja lelaki itu menghardik kelompok anak-anak itu, membawa si perempuan naik ke kendaraannya dan mengantarkannya ke keluarganya di Tel Aviv. Tahu apa yang terjadi di situ? Orang-orang Yahudi itu mencuri kendaraannya, membunuhnya dengan membacokinya, dan mayatnya mereka lempar di depan Masjid Syeikh Hasan. Makanya, cara bagaimana yang mereka kehendaki dari kami ini dalam memerangi manusia-manusia macam begitu? Apa dengan karangan bunga?

Inilah, anakku, yang menyebabkan kita telah kecolongan Palestina! Apa ini kau artikan bahwa aku ingin agar bagi tiap serdadu pejuang yang berhasil membunuh musuh harus dikirimi surat ucapan terima kasih? Ah tidak, tidak, audzubillah. Tapi yang kumaksudkan adalah agar mereka punya kata sepakat dalam suatu hal. Agar menetapkan bagaimana tindakan yang sebaiknya, dan menghormati perasaan pejuang yang tiap kali kehilangan sahabatnya dalam pertempuran. Walhasil, aku tak ingin banyak bicara tentang pertempuan. Sejak dulu aku selalu mengetawakan orang-orang tua yang tak ada lain ceritanya kecuali kenangan-kenangannya tentang pertempuran. Yang ingin kukatakan hanyalah, bahwa aku telah bertempur lebih dari apa yang bisa dilakukan oleh satu orang. Namun kesalahannya bukan dari aku, dari atas, dari mereka yang baca-tulis membuat rencana-rencana bengkok dan yang selalu mengamatinya dengan penuh perhatian. Adapun aku, apa yang bisa kuperbuat selain hanya menyandang bedilku dan menyerang? Dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh komandanku, lalu berlari ke arah yang ditunjuk oleh komandanku, lalu berlari ke arah itu dengan senjata di tanganku!

Pokoknya, kita jangan sampai lupa apa yang telah pernah terjadi kalau nanti ketemu lagi. Kita harus memerangi Yahudi-yahudi itu, seperti para dekatur koran menghadapi kerumunan lalat yang banyak sekali seliweran di kamar kerja mereka!

Hm, betapa cerewetnya aku ini.

Tadi aku ingin cerita padamu tentang langganan yang tiap sore beli tiga potong ajwa dariku. Namun percakapan jadi melantur, dan yang salah, ya salahnya polisi yang telah mengusirku dari tempat pilihanku itu, kayak ia mengusir seorang pencuri saja.

Seandainya kubeberkan pada polisi itu ceritaku ini dan kukatakan padanya siapa sebenarnya aku, tentu ia akan terkekeh-kekeh dan akan menumplekkan piring itu di kepalaku sebagaimana yang memang ia niatkan. Sebab itu aku tak akan datang kepadanya, untuk minta agar ia menghormatiku. Ini akan sangat menertawakan. Tapi suatu hari aku akan datang dari Palestina, berjalan kaki, seperti aku datang kali pertama tempo hari. Akan kucari polisi itu sedapat mungkin, dan akan kuundang dia untuk tinggal di At-Tira dan Haifa sebulan penuh atas tanggunganku. Boleh ia keluyuran ke mana ia suka, dan berdiri di tempat di mana ia suka.

Damaskus, 1957

Profil Penulis
tsaqafriend
tsaqafriend
Penulis Tsaqafah.id

31 Artikel

SELENGKAPNYA