Tsaqafah.id – Nama Gus Dur selalu menemukan jalannya sendiri untuk kembali dibincangkan. Setiap kali haulnya tiba, orang-orang berkumpul dengan cara yang beragam, baik doa bersama, diskusi kecil tentang gagasan-gagasannya, hingga perjumpaan lintas agama. Bagi sebagian orang, beliau hadir sebagai tokoh politik yang pernah memimpin negara. Bagi yang lain, beliau lebih sering diingat sebagai seorang yang berulang kali mempermaklumatkan bahwa keberagaman adalah kenyataan yang harus dirawat, bukan slogan yang diucapkan saat upacara belaka.
Beberapa hari lalu, ingatan tentang gagasan itu kembali muncul dalam rangkaian kegiatan kecil di Kota Malang. Perjumpaan tersebut bermula dari sebuah gereja. Kamis sore, 26 Februari 2026, puluhan anak muda berkumpul di halaman GKI Bromo. Mereka datang dari latar agama yang berbeda, baik Muslim, Kristen, hingga Baha’i. Pertemuan itu bertajuk Safari Damai Ramadhan, sebuah diskusi lintas iman yang mencoba membicarakan puasa dari sudut pandang yang berbeda.
Gus Ilmi Najib dari Gusdurian Muda Malang berbagi pandangan tentang puasa dalam tradisi Islam, sementara Harley Jonathan dari GKI Bromo menjelaskan bagaimana praktik serupa dipahami dalam spiritualitas Kristen. Pembicaraan mereka bergerak dari soal ibadah menuju hal yang lebih luas, yakni hubungan manusia dengan sesama dan dengan alam. Ketua GKI Bromo, Pendeta Didik, bahkan mengingatkan bahwa diskusi seperti ini akan lebih bermakna ketika dilanjutkan dengan tindakan nyata, terutama dalam merawat lingkungan.
Baca juga Survei INFID dan Gusdurian: Anak Muda Makin Toleran Tapi Juga Gamang
Setelah diskusi selesai, saya bersama kawan umat kristiani diajak berkeliling gereja. Saya melihat ruang ibadah mereka, mendengar cerita tentang sejarah komunitas, dan saling bertanya tentang tradisi masing-masing. Percakapan yang semula terasa formal perlahan berubah menjadi obrolan santai. Beberapa hari kemudian, pertemuan serupa berlanjut di Vihara Dharma Mitra Arama di kawasan Soekarno Hatta, Malang. Dialog lintas iman kembali dilakukan melalui perspektif Buddhisme.
Rangkaian itu mencapai puncaknya pada Haul ke-16 Abdurrahman Wahid yang digelar di Gazebo Raden Wijaya Universitas Brawijaya, Kamis, 5 Maret 2026. Tema yang diangkat cukup sederhana: Marilah Mendoa Indonesia Bahagia. Di tempat itu, saya kembali teringat satu kalimat Gus Dur yang cukup sering dikutip:
Tidak penting apa agamamu atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.
Kalimat tersebut sering muncul dalam banyak tulisan tentang diri beliau. Beliau terasa sederhana, namun di dalamnya ada cara pandang yang luas tentang kemanusiaan.
Baca juga Siapa Itu Orang-Orang yang Merasakan Manisnya Iman?
Acara haul tersebut dihadiri mahasiswa, akademisi, serta berbagai komunitas lintas iman. Kepala UPT Pembinaan Keagamaan dan Pengembangan Karakter Universitas Brawijaya, Dr. Mohamad Anas, menyampaikan harapannya agar ruang-ruang dialog semacam ini terus hidup di lingkungan kampus. Menurutnya, kampus seharusnya menjadi tempat perjumpaan berbagai gagasan dan latar belakang, bukan sekadar ruang akademik yang sibuk dengan rutinitas perkuliahan.
Sebelum diskusi dimulai, acara diisi dengan musik akustik dan musikalisasi puisi dari Mamang dan Kak Fey. Lagu-lagu tentang persaudaraan dan keindonesiaan mengalun di tengah gazebo kampus yang mulai dipenuhi peserta. Lantunan mahallul qiyam pun menambah suasana hangatnya toleransi di lokasi acara.
Pertemuan itu melibatkan dua narasumber, yakni Dr. Mohamad Mahpur, dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, serta Uun Triya Tribuce, pemuka agama Buddha dari Wihara Dhammadīpa Ārāma. Pak Mahpur berbicara panjang tentang pentingnya pengalaman dalam memahami perbedaan. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan akademik sering kali belum cukup untuk membangun sikap terbuka terhadap keberagaman.
Di dalam salah satu risetnya, beliau menemukan bahwa mahasiswa yang pernah hidup bersama kelompok berbeda agama (live in) justru lebih mudah memahami pluralitas ketimbang mereka yang hanya membicarakannya dalam ruang kelas. Pernyataan itu mengingatkan saya pada gagasan Clifford Geertz tentang agama sebagai lived experience. Dalam pandangan Geertz, agama tidak hanya hidup dalam doktrin, melainkan juga dalam praktik keseharian yang dialami langsung oleh masyarakat.
Baca juga Sudut Agama yang Selalu Dipertanyakan
Barangkali itulah yang sedang dicoba dalam rangkaian kegiatan ini dengan mempertemukan orang-orang yang berbeda keyakinan agar pengalaman perjumpaan itu terjadi secara langsung. Sementara itu, Uun Triya Tribuce berbicara dari sudut pengalaman yang berbeda. Beliau menyinggung berbagai kebijakan yang menurutnya masih belum sepenuhnya memberi ruang setara bagi kelompok agama minoritas.
Salah satu contoh yang beliau sebut adalah keterbatasan fasilitas tempat ibadah di beberapa institusi pendidikan. Menurutnya, dialog lintas iman akan terasa lebih bermakna ketika diiringi kebijakan yang benar-benar memberi ruang bagi keberagaman. Menjelang waktu berbuka puasa, para tokoh dari berbagai agama berdiri bersama memimpin doa lintas iman. Perwakilan dari Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Islam, hingga Baha’i bergantian memanjatkan doa untuk Gus Dur dan untuk Indonesia.
Saat momen itu berlangsung, saya kembali teringat pada satu pengamatan yang pernah ditulis oleh Greg Barton dalam biografinya tentang Gus Dur. Ia menyebut bahwa kekuatan terbesar Gus Dur terletak pada kemampuannya membangun perjumpaan sehingga membuka ruang agar orang yang berbeda dapat saling berbicara.
Jika dilihat dari rangkaian kegiatan di Malang ini, gagasan tersebut terasa cukup nyata. Perjalanan kecil yang dimulai dari gereja, berlanjut ke vihara, lalu berakhir di kampus, seolah mengulang kembali cara sederhana yang sering dilakukan Gus Dur sepanjang hidupnya, yakni bagaiamana mempertemukan orang dalam ruang yang toleran. Mungkin di situlah letak makna peringatan haul semacam ini.
Ihwal pertemuan yang bukan sekadar mengenang seorang tokoh yang telah wafat, melainkan juga menghidupkan kembali laku jiwa yang pernah beliau bangun untuk bangsa. Dan dari dialog itu pula, selalu ada kemungkinan baru untuk memahami Indonesia, memahami sebuah negeri yang sejak awal memang dibangun dari perjumpaan banyak perbedaan.
Baca juga GUSDURian Tandai Sejarah Baru, Gelar Konferensi Pemikiran Gus Dur Lintas Isu

