Siapa Itu Orang-Orang yang Merasakan Manisnya Iman?

Siapa Itu Orang-Orang yang Merasakan Manisnya Iman?

07 September 2021
309 dilihat
4 menits, 18 detik

“Alhamdulillah sampai dengan detik ini, dalam situasi yang tidak mudah karena wabah Pandemi seperti sekarang ini, kita masih diberikan nikmat sehat, nikmat masih bisa makan, dan yang terpenting adalah nikmat iman…..”

Tsaqafah.id – Kalimat itu sering kita dengar tatkala dalam sebuah majelis pengajian atau perkumpulan masyarakat. Nikmat sehat artinya kita harus bersyukur diberikan kesehatan oleh Allah Swt, nikmat masih bisa makan artinya kita beruntung dan harus bersyukur masih bisa makan di tengah situasi krisis ekonomi yang hampir diderita oleh semua orang. Lalu apa yang dimaksud dengan nikmat iman?

Iman secara bahasa artinya membenarkan dengan hati, sedangkan secara syari’at adalah meyakini dengan sepenuh hati (I’tikad). Sebagai seorang muslim kita wajib mengimani rukun iman yang 6. Yaitu Iman kepada Allah, iman kepada malaikat Allah, Iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada utusan Allah (Nabi dan Rasul), iman kepada ketentuan Allah (qadho dan qadar), dan iman kepada datangnya hari akhir. Kesempurnaan umat muslim adalah percaya dengan adanya rukun iman.

Kalimat tauhid menjadi syarat utama ketika seseorang menjadi muslim, “laa illaaha illa Allaha muhammadur rosulullah” kita lafalkan setiap hari dan terkandung dalam doa serta bacaan sholat. Sebagai umat muslim setiap hari kita bersaksi dengan kalimat tauhid laa ilaa ha illa Allah ‘Tiada Tuhan Selain Allah’ dan kalimat syahadat laa illaaha illa Allaha muhammadur rosulullah “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.”

Iman kepada Allah adalah yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt adalah satu-satunya Tuhan yang menciptakan alam raya beserta seluruh isinya, satu-satunya Dzat yang disembah, yang Maha Kuasa atas segalaya, Mahatinggi, Maha Berkehendak (Iradat), Maha Kekal (Qadim) yang tak berawal dan tak berakhir (Azali). Serta Maha Agung yang tiada cacat dan kekurangan senantiasa melekat pada diri-Nya.

Baca juga; Empat Pelajaran dari Pandemi Covid-19 menurut KH. Said Aqil Siradj

Lalu yang berikutnya terkandung dalam kalimah ‘laa illaaha illa Allah muhammaddur rosulullah’  adalah bersaksi Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah. Meyakini dengan sepenuh hati bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah untuk memberi petunjuk kepada semua orang, kepada semua makhluk, baik jin dan manusia, melalui risalah kenabian yang dibawanya.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa pengucapan kalimat syahadat tauhid, yaitu laa illaaha illa Allah (tiada Tuhan selain Allah), tidak dianggap sebagai bentuk dari kesempurnaan iman seseorang selama syahadat tersebut tidak diiringi dengan syahadat Rasul, yaitu Muhammad Rasulullah. Allah Swt memerintahkan manusia untuk membenarkan segala apa yang datang dari Nabi Saw, baik yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat. Oleh karena itu Allah tidak menerima keimanan seseorang hingga ia mempercayai berita yang disampaikan Nabi Muhammad Saw.

Meyakini pokok-pokok rukun iman diatas adalah kenikmatan menjadi seorang muslim. Dengan adanya keyakinan tersebut artinya Allah Swt telah memberikan hidayahnya kepada kita, dimana hidayah adalah hak prerogative milik Allah, yang hanya diberikan kepada yang dikehendaki-Nya. Bahkan Nabi Muhammad Saw sebagai kekasih dan utusan Allah tidak bisa ikut campur dalam hal pemberian hidayan ini. Seperti kisah beliau yang bahkan tidak bisa mengislamkan pamannya sendiri, yaitu Abu Thalib, orang yang sangat dekat dengan dirinya dan mengasuhnya selepas orangtuanya wafat.

Baca juga; Korupsi dalam Al-Qur’an: Tipis Iman-Takwa dan Hukuman Seorang Pengkhianat

Oleh karena itu mempercayai dan meyakini rukun iman adalah suatu kenikmatan yang harus disyukuri. Namun ternyata tidak semua orang menyadari hal itu bahkan sering luput dari perhatiannya karena kesibukan dalam kehidupan dunia. Dalam sebuah hadis diterangkan bahwa ada tiga hal yang membuat iman itu nikmat;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ (صحيح البخار)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab Ats Tsaqafi berkata, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka (HR. Bukhari)

Dari hadis di atas, KH. Mustofa Bisri dalam pengajian kitab Jawahir al-Bukhari pada pertemuan yang ke-4 disiarkan dalam channel Youtube GusMus Channel, menjelaskan lebih lanjut tentang maksud 3 hal yang membuat iman itu menjadi nikmat, jika seseorang memiliki tiga hal ini maka seseorang akan merasakan manisnya iman, yaitu ketika;

  1. Allah Swt lebih dicintai daripada apapun dan yang lainnya, jika kita bisa mencintai Allah dan Rasulnya melebihi yang lainnya, termasuk melebihi orang tua, saudaranya, anaknya, istri/suaminya, dan lain-lainnya. Yaitu mampu menempatkan Allah dan Rasulnya pada yang pertama di hati kita mengalahkan yang lainnya.
  2. Mencintai orang lain bukan karena apa-apa, artinya lillah hanya karena Allah ta’ala. Kita melihat orang lain bagaimana ibadahnya, bagaimana taatnya, bagaimana khusyunya, bagaimana akhlaknya. Mencintai dia semata-mata lillah karena Allah, bukan karena pangkat dan kedudukannya, bukan karena pendukungnya, dan bukan karena apapun, melainkan lillah hanya karena Allah. Jadi tidak mempunyai pamrih apapun melainkan lillah, karena memang Allah melalui utusannya kanjeng Nabi Muhammad Saw menganjurkan untuk saling mencintai sesama orang muslim, sesama orang mukmin, dan sesama manusia.
  3. Sangat bersyukur dan menikmati bahwa diberikan hidayah oleh Allah Swt, dan sangat khawatir, sangat benci, sangat tidak suka kalau ia sampai kembali ke kekufurannya. Seolah-olah jika ia sampai berbalik dalam kekufuran, ia menceburkan diri ke dalam api neraka, ia sangat tidak suka hal itu.

Jika ketiga hal diatas ada pada diri seorang muslim maka bisa menikmati manisnya iman, jika tidak ada ketiga hal itu maka tdak akan merasakan manis dan nikmatnya iman. Apabila tidak memiliki tiga tersebut maka kita tidak bisa mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi yang lain, tidak bisa mencintai orang lain dan makhluknya dengan lillah, karena Allah, serta tidak ada kekhawatiran dan kebencian kembali pada kekufuran lagi.

Ketiga hal di atas sangat penting agar dapat menikmati manisnya iman, tiga hal itu yang dimiliki oleh para kekasih Allah sehingga dapat menjalankan hidupnya di dunia dengan tenang. Tidak kemrungsung dan gundah gulana dengan hal-hal yang melulu bersifat duniawi. Melainkan ia bisa menjalankan kehidupannya di dunia demi kepentingan di akhirat, ia mendayagunakan anugerah yang ada di dunia sebagai bekal di akhirat nanti. Sehingga dalam hidupnya tak pernah sepi dari mengingat Allah.

Wallahu ‘alam

Referensi: Jawahir al-Bukhari wa syarh al-Qisthalani

Baca juga; Perkara Sandal Jepit dan Kaum Tipis Iman Menyifati Tuhan

Profil Penulis
Umi Nurchayati
Umi Nurchayati
Penulis Tsaqafah.id
Alumni FAI UMY dan PP. Al Munawwir Krapyak

28 Artikel

SELENGKAPNYA