Alana melalui media kreatifnya, ia sedang menanamkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan persaudaraan kepada penonton atau orang-orang yang mengikuti media kreatifnya.
Tsaqafah.id – Alana Hadid, nama yang mungkin sangat asing bagi kita yang tinggal di Indonesia. Namun, nama Alana Hadid sendiri kalau coba kita telusuri di Google pencarian, ia dikenal sebagai seorang aktivis perempuan yang terkenal dalam memperjuangkan dan menyuarakan hak-hak Palestina. Meskipun Alana tidak pernah berbicara tentang pandangan agamanya, adik-adik perempuannya mengatakan bahwa mereka sebagai seorang Muslim.
Alana adalah saudara tiri dari supermodel Gigi dan Bella Hadid. Ayahnya bernama Mohamed Hadid, seorang pengembang real estat Palestina-Amerika. Saudara laki-lakinya bernama Anwar Hadid. Mereka semua dikenal sebagai keluarga yang vokal menyuarakan tentang Palestina.
Alana, meskipun saat ini tinggal di Amerika Serikat, ia merupakan anak yang berdarah kelahiran Palestina. Dalam wawancaranya pada The New Arab, ia mengakui bahwa dirinya berasal dari keluarga yang menghadapi peristiwa Nakba. Alana mengakui, bahwa ayahnya masih seorang pengungsi dan mereka akan selalu menjadi pengungsi yang tidak akan pernah kembali ke Palestina, karena tanah air mereka sudah diambil alih oleh penjajah Israel.
“Fakta bahwa kami tidak bisa pergi dan tinggal di Palestina, tanah air leluhur kami, akan selalu membekas dalam ingatan kami. Rasa ingin pulang itu seperti benih di hati kami.” ujar Alana kepada The New Arab.
Atas dorongan ingin kembali ke tanah air Palestina, tempat kelahirannya. Dorongan inilah yang membuatnya menyuarakan kepada dunia untuk segera memberikan kemerdekaan dan kebebasan kepada Palestina. Dorongan ini juga semakin kuat ketika ia melihat bagaimana krisis kemanusian yang terjadi Palestina saat ini, semenjak agresi Israel dimulai untuk melawan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Baca juga: “My Garden Over Gaza”: Yang Subtil Tapi Juga Terang untuk Anak-Anak
Sudah hampir 2 tahun lebih, konflik ini tidak berakhir. Bahkan baru-baru ini di tahun 2025, PBB telah menyatakan secara tegas, bahwa Israel telah melakukan genosida. Namun, desakan PBB dan label genosida ini tidak membuat Israel berhenti.
Kita telah menyaksikan betapa mengerikannya genosida yang disiarkan langsung di Gaza. Israel telah memblokade Palestina dari seluruh penjuru wilayah. Akses bantuan kemanusian dipersulit masuk, sehingga kita bisa menyaksikan betapa mengerikannya kelaparan massal dan gizi buruk di Gaza.
Akses pengobatan di Gaza tidak ada. Orang yang terluka dioperasi dalam keadaan tanpa bius. Sehingga masyarakat Gaza yang terluka akan merasa sakit yang luar biasa ketika di operasi. Belum lagi banyaknya pada dokter yang terbunuh akibat genosida ini.
Orang-orang di seluruh dunia telah menyerukan kekejaman Israel. Masyarakat seluruh dunia melakukan protes global, membuat unggahan media sosial, dan penggalangan dana. Tujuan semuanya adalah menuntut Palestina agar merdeka dan diakhirinya pendudukan Israel.
Namun, perjuangan untuk membuat Palestina bebas dari penjajahan bukanlah hal yang mudah. Saat ini, kita melihat pemimpin yang memegang kekuasaan diisi oleh orang-orang yang tak memiliki hati nurani. Bahkan pemimpin Amerika Serikat sendiri yang memiliki kekuatan menghentikan genosida yang dilakukan Israel, cenderung bersikap cuek dan terus memasok persenjataan ke negeri penjajah tersebut.
Belum lagi, tantangan perjuangan ini semakin berat dari upayanya pemerintahan Israel untuk menutup kejahatan kemanusiaan mereka dengan cara membungkam media pers, seperti Al-Jazeera. Bahkan baru-baru ini terungkap, bahwa Israel membayar Google sebesar 45 juta dolar AS untuk menyebarkan propaganda guna menutupi isu kelaparan di Gaza di tengah kecaman dunia Internasional.
Baca juga: Dari Indonesia, Menjawab Jeritan Ibu dari Gaza
Melihat penderitaan penduduk Palestina sebagai tempat kelahirannya. Alana memilih untuk tidak bersikap diam. Dia memilih melakukan jihad kemanusian, yaitu upaya bersungguh-sungguh untuk menciptakan perdamaian, persaudaraan, kepedulian, dan kasih sayang, termasuk membantu korban penderitaan tanpa memandang latar belakang mereka. Untuk mewujudkan jihad kemanusian ini, Alana mengambil peran yang bisa ia lakukan dan sesuai kapasitasnya. Alana mengambil peran sebagai tokoh yang menyuarakan kemerdekaan Palestina lewat media kreatif.
Alana berperan sebagai direktur kreatif Watermelon Pictures. Lewat media kreatif film ini, Alana berupaya memperkuat suara Palestina yang saat ini berusaha dibungkam oleh propaganda Israel lewat industri hiburan. Watermelon Pictures sendiri Didirikan oleh dua bersaudara Hamza dan Badie Ali. Alana bertujuan untuk menjadi bagian dari perjalanan Watermelon Pictures untuk membagikan kisah-kisah Palestina kepada masyarakat seluruh dunia.
Selain mengambil peran di Watermelon Pictures, Alana juga mengambil peran lewat podcastnya The Seeds, tempat ia banyak menyuarakan suara pro-Palestina. Melalui media ini, ia ingin memberikan ruang bagi orang-orang yang selama ini aktif menyuarakan dukungan untuk Palestina di media sosial agar bisa memperkenalkan diri mereka lebih utuh.
Selama ini, banyak orang hanya mengenal mereka sebatas postingan atau opini yang muncul di dunia maya, bahkan seringkali terbangun semacam kedekatan semu atau hubungan satu arah yang disebut teman parasosial. Lewat podcast tersebut, Alana ingin menghadirkan sisi personal dan kisah hidup nyata dari para aktivis ini. Dengan begitu, suara mereka tidak hanya terdengar sebagai wacana di media sosial, tetapi juga sebagai kisah hidup yang lebih dekat, lebih manusiawi, dan lebih menginspirasi.
Lewat keterlibatannya dalam Watermelon Pictures maupun podcast The Seeds, Alana sebenarnya sedang menjalankan bentuk jihad kemanusiaan dengan caranya sendiri. Dia menggunakan kekuatan media kreatif untuk melawan propaganda, menghidupkan suara-suara yang berusaha dibungkam, serta menumbuhkan rasa kepedulian di hati masyarakat dunia. Inilah bentuk perjuangan tanpa senjata, yakni perjuangan melalui gagasan, narasi, dan kisah yang dapat mengetuk hati nurani banyak orang.
Jihad kemanusiaan yang dilakukan Alana tidak berhenti pada wacana, melainkan berupaya menghadirkan solidaritas global yang lebih kuat. Dengan membagikan cerita lewat podcast, dan menampilkan wajah-wajah Palestina yang sesungguhnya lewat media kreatif yang ia bangun.
Alana melalui media kreatifnya, ia sedang menanamkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan persaudaraan kepada penonton atau orang-orang yang mengikuti media kreatifnya. Dari media kreatif inilah, Alana melakukan jihad kemanusiaan. Sebuah perjuangan untuk menegakkan kemanusiaan, melawan ketidakadilan, dan menjaga harapan agar Palestina suatu hari bisa mendapatkan kemerdekaan dan dukungan dari masyarakat dunia.
Baca juga: Semangka dan Suara Free Palestina

