Tsaqafah.id – “Perempuan cukup belajar ilmu syar’i.”
Begitu bunyi tulisan dalam content gambar yang saya jumpai di media sosial beberapa hari yang lalu. Saya jadi bertanya-tanya apa maksud si pembuat content tersebut, kok dari kata-katanya seperti ada yang kurang pas. Rupanya dalam gambar slide itu diterangkan tentang keutamaan ilmu-ilmu syar’i yang harus dipelajari. Di situ tertera ada ilmu akidah, fiqh, dan adab.
Tentu saya sepakat dengan keutamaan-keutamaan belajar hal-hal yang berkaitan dengan syariat seperti disebutkan di atas. Sebagai seorang muslim, hukumnya fardhu ain belajar tentang dasar-dasar keislaman, seperti akidah, fikih, dan akhlak. Tapi saya menjadi tidak sepakat dengan narasi yang disuarakan dalam meme tersebut, seolah-olah seorang muslimah hanya cukup untuk belajar hal-hal dasar keagamaan dan mencukupkannya sampai di situ saja. Seolah-olah pengetahuan lain menjadi tidak penting.
Jika kita menengok sejarah islam, maka akan kita jumpai banyak para perempuan yang mulia dengan keilmuannya. Kita mengenal ibunda Sayyidah Khadijah R.a, istri pertama Rasulullah Saw. Beliau memiliki keahlian berdagang yang mumpuni sehingga ia dikenal sebagai perempuan yang kaya raya lagi dermawan. Bahkan beliau menggunakan hartanya untuk mendukung dakwah suaminya, kanjeng Nabi Muhammad Saw. Sedang istri Nabi Saw yang lain selepas Sayyidah Khadijah wafat, yaitu ibunda Sayyidah Aisyah R.a di samping kecerdasannya juga mempunyai keahlian dalam bidang pengobatan.
Baca juga: Perempuan dalam Diskursus Filsafat Islam
Ditopang dengan beragam keilmuan, Islam membangun peradabannya dan tercipta masyarakat yang beradab. Pada hakikatnya perempuan dan laki-laki adalah sama-sama makhluk ciptaan Allah Swt yang dikaruniai akal pikiran, sehingga keduanya dapat berpikir untuk membedakan yang baik dan buruk. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat (49): 13
يآيُّهَا النّاس انّا خَلَقْنكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَاُنْثَى وَجَعَلْنَكُمْ شعوباً وقبا ئل لتعارفوا انَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ اتْقَاكُمْ اِنَّاللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui.
Begitulah Allah Swt dengan segala Kuasa-Nya menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan. Menurut KH. Husein Muhammad yang lebih dikenal dengan panggilan Buya Husein, dengan jumlah perempuan di Indonesia yang berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa -salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk maju. Namun jumlah perempuan yang banyak itu juga harus mampu mengisi pekerjan-pekerjan dan jabatan fungsional serta memegang kebijakan. Buya Husein juga mengatakan jika pembangunan bangsa hanya dibebankan kepada laki-laki saja maka akan sangat kewalahan. Perempuan juga harus ambil bagian. Begitu kira-kira disampaikan Buya Husein Muhammad tatkala seminar ulama perempuan di pesantren saya beberapa tahun lalu.
Islam datang menyeru kepada laki-laki dan perempuan, keduanya dipanggil untuk menjadi pemimpin di bumi (khalifah fil ardl). Sehingga yang diperlukan adalah kerjasama, termasuk dalam dunia ilmu pengetahuan. Prof. Quraish Shihab berkata, bahwa ada kalanya suatu pekerjaan bisa dilakukan oleh laki-laki tetapi tidak bisa dilakukan oleh perempuan. Begitu pula ada pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh perempuan tetapi tidak bisa dilakukan oleh laki-laki, seperti melahirkan dan menyusui.
Spirit berislam di antaranya adalah spirit ilmu pengetahuan. Betapa banyak ayat dalam Alquran yang menerangkan tentang keutamaan ilmu pengetahuan, bahkan Allah Swt mengangkat derajat orang-orang yang berilmu daripada yang tidak. “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. al-Mujadilah (58): 11).
Baca juga: Kartini, Gadis 13 Tahun yang Membuat Sang Mahaguru Menangis
Dalam sebuah hadis dikatakan, hamba yang paling mulia adalah mukmin yang berilmu, yang jika dibutuhkan ia akan bermanfaat bagi orang lain. Sebuah hadis yang cukup sering kita dengar “Khoirunnas anfa’uhum linnaas,” sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfat untuk orang lain.
Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali menerangkan tentang ilmu yang baik dan yang tercela, di antaranya ada ilmu yang sifatnya fardhu ‘ain dan fardhu kifaiyah. Ilmu yang bersifat fardhu ‘ain wajib dipelajari oleh seluruh umat muslim tanpa terkecuali. Sedangkan yang bersifat fardhu kifaiyah, maka jika dipelajari sebagian kalangan bisa dianggap cukup.
Di antara ilmu yang berifat fardhu ‘ain adalah ilmu tentang syariat, yaitu berkaitan dengan kewajiban seorang muslim yang telah mencapai usia baligh, mulai dari memahami makna kalimat syahadat, sholat, puasa, zakat, kewajiban haji bagi yang sudah mampu. Selain itu, wajib dipelajari adalah hal yang berkaitan dengan perintah menjauhi berbagai maksiat dan dosa, membedakan yang haq dan bathil -yang baik dan yang buruk.
Sedangkan ilmu yang bersifat fardhu kifaiyah, contohnya adalah ilmu astronomi, ilmu falak, ilmu kedokteran, keilmuan mendalam para alim ulama dalam memutuskan suatu hukum serta memberi fatwa, dll. Semua cabang keilmuan itu sangat diperlukan dalam kehidupan umat manusia. Jika tidak ada, maka kehidupan akan menjadi sulit. Dalam hal ini tidak semua orang diwajibkan mempelajarinya, namun orang-orang yang mempelajarinya pastilah memiliki keistimewaan dan derajat keutamaan tersendiri.
Al ‘ilmu nuurun wal jahlu dlaarun, ilmu adalah cahaya dan kebodohan adalah bahaya. Ilmu adalah milik Allah, hanya hati dan pikiran yang jernih yang dapat menerima dan memantulkannya. Sehingga apapun yang kita pelajari dan mendekatkan diri pada Allah Swt, membawa manfaat untuk orang lain maka itulah anugerah dan kebaikan.
Wallahu a’lam.
Baca juga: Gus Baha: Tanpa Tiga Hal Ini, Ilmu Sebanyak Apapun Tidak Akan Bermanfaat

