Menelusuri Dakwah Islam yang Efektif Ala Wali Songo

Menelusuri Dakwah Islam yang Efektif Ala Wali Songo

11 Juli 2023
124 dilihat
3 menits, 51 detik

Judul: Sejarah Lengkap Islam Jawa: Menelusuri Genealogi Corak Islam Tradisi, Penulis: Husnul Hakim, Penerbit: Laksana, Yogyakarta, Cetakan: Pertama, 2022, Tebal: 173 halaman

Tsaqafah.id – Buku Sejarah Lengkap Islam Jawa; Menelusuri Genealogi Corak Islam Tradisi termasuk dalam genre buku ilmiah. Terdiri dari 5 bab, dengan masing-masing bab memiliki sub-bab pendukung.

Husnul Hakim sebagai penulis, berusaha mengumpulkan bukti-bukti ilmiah terkait Islam Jawa. Islam dan Jawa menjadi salah satu topik pembahasan yang kontinu dan menarik di Indonesia. Pasalnya, keduanya adalah identitas mayoritas bagi masyarakat Indonesia.

Buku ini menjelaskan runutan sejarah kedatangan Islam di tanah Jawa. Penulis menjabarkan cara etika Islamisasi Jawa yang terbagi menjadi dua fase, pertama adalah fase Islamisasi non-efektif dan kedua adalah Islamisasi efektif.

Islamisasi non-efektif di tanah Jawa adalah etika muballigh (pendakwah) menggunakan cara-cara kekerasan dan kaku. Sedangkan Islamisasi efektif adalah sebaliknya, menggunakan langkah-langkah luwes dan lemah lembut. Penemuan cara Islamisasi efektif tersebut yang akhirnya membawa Islam memiliki banyak pengikut di Indonesia.

Baca Juga

Tokoh sentral sekaligus inisiator Islamisasi Tanah Jawa yang efektif adalah Wali Songo. Husnul Hakim menjelaskan sejarah, silsilah dan hubungan antara sunan satu dengan yang lainnya agar pembaca memiliki gambaran sistematis tentang Wali Songo.

Husnul Hakim kemudian menuliskan genealogi masuknya Islam ke tanah Jawa dengan spesifik. Ia membagi setiap wilayah geografis menjadi satu bab tersendiri, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Penulis turut menambahkan tokoh Pra-Wali Songo yang turut membantu penyebaran Islam pada setiap daerah.

Aspek Islamisasi Efektif Wali Songo

Aspek islamisasi efektif yang dikembangkan oleh Wali Songo ada 6, yakni struktur sosial, legalitas kesultanan, sistem pendidikan, peristilahan, Champaisasi dan islamisasi Epos Ramayana dan Mahabharata. Keberhasilan Wali Songo menyebarkan agama Islam tidak terlepas dari kontinuitas penerapan 6 aspek tersebut.

Pertama, struktur sosial. Wali Songo tidak mengubah struktur sosial masyarakat Jawa. Mereka mempertahankan bentuk struktur dengan mengubah pemaknaan dan nilainya. Tatanan masyarakat Jawa Era Majapahit dikelompokan dalam 7 kasta. Wali Songo menyederhanakan menjadi tiga kasta, yaitu kasta ulama, kasta satria dan kasta rakyat.

Kedua, legalitas kesultanan. Kesultanan Demak Bintara dengan bantuan Wali Songo berhasil memenuhi syarat legitimasi kerajaan masyarakat Jawa. Ada 4 syarat, yakni memiliki raja, traktat (perjanjian) hukum, kekuatan supranatural dari Pusaka Jawa, dan didukung elite spiritual. Dengan memenuhi keempatnya, masyarakat Jawa dapat dipersatukan dalam payung ajaran dan nilai Islam.  

Ketiga, sistem pendidikan. Proyek islamisasi sistem pendidikan ialah pesantren. Pesantren menjadi lembaga pendidikan tertua dengan bentuk, sistem dan metode khas pribumi. Pencipta pesantren adalah Wali Songo yang diambil dari sistem pendidikan Syiwa-Budha dan Kapitayan (yang banyak dianut masyarakat pra-Islam). Lembaga pendidikan Syiwa-Budha disebut dukuh (mendidik calon pendeta) dan Lembaga pendidikan Kapitayan disebut padepokan (mendidik calon cantrik).

Baca Juga Ekspresi Beragama di Masa Corona

Keempat, peristilahan. Agar masyarakat Jawa lebih akrab dengan Islam, Wali Songo menggantikan istilah Arab dengan istilah lokal. Misalnya, Gusti Kang Murbeng Dumadi (Allahu Rabbul ‘Alamin), Kanjeng Nabi (Nabi Muhammad SAW.), kiai (al-‘alim), santri (murid), pesantren (ma’had) dan masih banyak lagi.  

Kelima, Champaisasi. Proses islamisasi ini dibawa oleh Sunan Ampel dan kakanya, Sayyid Ali Murtadha. Mereka membawa tradisi islam Champa ke Jawa sehingga menjadi corak khusus di Jawa. Contoh tradisi adalah kenduri atau mendoakan arwah wafat pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke365 dan ke-1000 hari. Masyarakat Hindu-Buddha hanya memperingati kematian pada tahun ke-12. Tradisi kenduri berasal dari Islam Champa yang diadopsi dari orang Islam Persia.

Keenam, islamisasi Epos Ramayana dan Mahabharata. Ketika Sunan Ampel dan Sayyid Ali Murtadha masuk ke Jawa, masyarakat sangat gemar pada cerita wayang Ramayana dan Mahabharata. Mereka kemudian mengasimilasikan nilai Islam ke dalam cerita wayang agar masyarakat senang mengenal ajaran Islam. Langkah ini terbukti efektif, karena cerita epos Ramayana dan Mahabharata versi Wali Songo dianggap kebenaran oleh masyarakat saat ini.

Kelebihan dan Kelemahan

Kelebihan buku Sejarah Lengkap Islam Jawa adalah penulisan konsep yang rapi dan sistematis. Husnul Hakim menggunakan beberapa pendekatan tulisan, seperti komparasi dan penulisan deduktif.

Penulis juga mampu membangun kesinambungan antara satu bab dengan lainnya sehingga mendukung keseluruhan konsep topik yang dibangun. Penulis juga menambahkan grafik yang membantu pembaca memahami sejarah Islam Jawa dengan mudah.

Karena buku ini termasuk dalam karangan ilmiah, maka sumber referensi yang digunakan juga cukup beragam. Meskipun Husnul Hakim terlihat memilih kiblat utama pada Agus Sunyoto penulis Atlas Wali Songo- ia juga menambahkan dari sumber lain. Variasi sumber referensi tersebut membuat buku ini menjadi cukup ideal karena dikuatkan oleh sudut pandang lain seperti makrifat dan tasawuf.

Baca Juga

Bahasa yang digunakan dalam buku ini juga singkat namun padat, sesuai dengan kriteria tulisan ilmiah. Husnul Hakim berhasil mendeskripsikan cerita dalam sejarah Islam Jawa dengan lugas dan runtut. Pembaca diajak menelusuri cerita-cerita sejarah yang segar dan menarik, tanpa kehilangan fakta-fakta sejarah yang penting diketahui.

Kelemahan buku ini adalah terdapat pengulangan cerita sejarah dalam beberapa bab. Hal tersebut menjadi cukup membosankan.

Kemudian, referensi dari Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto juga terlalu dominan. Meski penulis sudah menambahkan referensi dari sumber lain, namun tetap saja konsep Agus Sunyoto memiliki porsi besar dalam buku ini. Pembaca pada akhirnya memiliki kesan bahwa buku ini adalah duplikat dari Atlas Wali Songo dengan beberapa modifikasi.

Terakhir, saya tetap merekomendasikan buku ini bagi Anda yang termasuk dalam Islam Jawa. Buku ini dapat mengungkap sejarah kita sehingga dapat menjadi pelajaran dan upaya mencintai identitas diri. Banyak wawasan baru tentang Islam dan Jawa yang jarang kita temukan pada buku lainnya. Jadi, selamat membaca!

Profil Penulis
Rifdah Awaliyah Zuhroh
Rifdah Awaliyah Zuhroh
Penulis Tsaqafah.id
Alumnus prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Penulis bisa dikunjungi, dipantau dan disapa lewat akun instagram @rifdah.reads.books

2 Artikel

SELENGKAPNYA