Tsaqafah.id – Judul: Ronggeng Dukuh Paruk | Penulis: Ahmad Tohari | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | 520 halaman | Juli 2025 | ISBN: 978-602-06-8195-5
Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari bisa dibaca sebagai refleksi spiritual yang dekat dengan nilai-nilai Islam.
Untuk tak dianggap spekulasi, kita bisa melihat bahwa di novel tersebut, terdapat konsep takdir, tobat, dan kesucian jiwa yang hadir dalam perjalanan hidup Srintil dan Rasus memiliki keterkaitan dengan ajaran Islam tentang qadar (takdir), taubat, dan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
Novel ini diawali dengan gambaran Dukuh Paruk yang dilanda kemarau panjang. Kekeringan alam tersebut seolah menjadi metafora bagi kekeringan ruhani masyarakatnya. Mereka hidup dalam kemiskinan, keterbelakangan, dan berbagai tradisi yang diwariskan turun-temurun tanpa memiliki pijakan keagamaan yang kuat.
Baca Juga Parenting Pascamodern: Mengasuh dengan Politis
Dalam perspektif Islam, kondisi paceklik tersebut dapat dipahami sebagai keadaan manusia yang hidup jauh dari petunjuk iIlahi, sehingga lebih banyak mengikuti adat dan hawa nafsu daripada tuntunan wahyu.
Ketika Srintil dipercaya menjadi ronggeng, masyarakat menganggap bahwa peran tersebut adalah sebuah takdir yang tak meleset. Dalam bahasa filsafat, hal ini dekat dengan konsep fatum, sedangkan dalam Islam dikenal dengan istilah al-qadar (القدر).
Namun, Islam memandang takdir secara berbeda. Takdir bukanlah alasan untuk menyerah pada keadaan, melainkan ketentuan Allah swt yang tetap memberikan ruang bagi manusia untuk berikhtiar. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah ditetapkan baginya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Baca Juga Melihat Syi’ah Lebih Dekat
Melalui tokoh Rasus, Ahmad Tohari menunjukkan bahwa manusia tetap memiliki kemampuan untuk memilih jalan hidupnya. Rasus tidak menerima begitu saja keadaan Dukuh Paruk sebagai sesuatu yang harus dijalani selamanya. Ia berusaha keluar dari lingkungannya, mencari ilmu, pengalaman, dan kehidupan yang lebih baik.
Sikap ini sejalan dengan prinsip Islam bahwa manusia diperintahkan untuk berikhtiar sambil bertawakal kepada Allah.
Perjalanan hidup Srintil sendiri dapat dibaca sebagai perjalanan menuju kesadaran spiritual. Pada awalnya, ia menjalani perannya sebagai ronggeng karena tuntutan lingkungan dan keyakinan masyarakat. Namun seiring waktu, ia mulai merasakan kehampaan batin. Popularitas dan penghormatan yang diterimanya ternyata tidak mampu menghadirkan ketenangan hati. Dalam Islam, keadaan ini mengingatkan pada firman Allah:
اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Kitab Taubat
Kegelisahan yang dialami Srintil menjadi titik awal proses taubat. Islam memandang, taubat bukan menyesali kesalahan, melainkan kembali kepada jalan yang diridhai Allah.
Kata taubat berasal dari bahasa Arab تاب – يتوب – توبة yang berarti “kembali”. Oleh karena itu, perjalanan batin Srintil dapat dipahami sebagai usaha kembali kepada fitrah kemanusiaannya setelah sekian lama terjebak dalam peran yang ditentukan oleh masyarakat.
Di sinilah muncul konsep tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Dalam Islam, setiap manusia memiliki fitrah yang suci, tetapi fitrah tersebut dapat tertutupi oleh lingkungan, dosa, hawa nafsu, maupun berbagai pengalaman hidup. Allah berfirman:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)
Kesucian jiwa dalam Ronggeng Dukuh Paruk tidak digambarkan sebagai kesempurnaan tanpa kesalahan. Sebaliknya, Ahmad Tohari memperlihatkan bahwa seseorang dapat menemukan kemuliaan justru setelah melalui luka, penyesalan, dan pergulatan batin yang panjang.
Baca Juga “My Garden Over Gaza”: Yang Subtil Tapi Juga Terang untuk Anak-Anak
Pandangan ini dekat dengan ajaran Islam bahwa manusia terbaik bukanlah manusia yang tidak pernah berbuat salah, melainkan mereka yang bersedia mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Pada akhirnya, Ronggeng Dukuh Paruk mengajarkan bahwa kehidupan manusia berada di antara ketentuan Allah dan ikhtiar manusia. Takdir bukan alasan untuk berhenti berjuang, taubat selalu terbuka selama hayat masih dikandung badan, dan kesucian jiwa merupakan perjalanan panjang yang harus terus diusahakan.
Melalui kisah Srintil dan Rasus, pembaca diajak merenungkan bahwa kemuliaan seorang manusia tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh kesediaannya untuk kembali kepada kebenaran dan terus ,membersihkan hati menuju ridha Allah.




