Skip to content
Kolom
Beranda/Kolom/Belajar dari Filosofi Kintsugi Jiwa, Mengubah Retak menjadi Emas

Belajar dari Filosofi Kintsugi Jiwa, Mengubah Retak menjadi Emas

141 Kali Dibaca
Bagikan:
Belajar dari Filosofi Kintsugi Jiwa, Mengubah Retak menjadi Emas
🎨 Visual Essay

Ringkasan Belajar dari Filosofi Kintsugi Jiwa, Mengubah Retak menjadi Emas

Artikel ini mengulas filosofi Kintsugi, seni memperbaiki keramik pecah asal Jepang dengan emas, sebagai metafora penyembuhan jiwa. Di tengah tekanan hidup modern, kegagalan tidak seharusnya dipandang sebagai akhir, melainkan peluang untuk tumbuh. Dengan menerima luka dan memperbaiki diri, seseorang dapat mengubah kerapuhan menjadi kekuatan yang lebih indah dan bernilai.

Pada era sekarang, tuntutan yang menjadi tekanan batin baik dari lingkungan keluarga, pertemanan, maupun diri sendiri kerap membuat seseorang menjadi lebih mudah marah, stress, atau bahkan depresi. Kegagalan yang kerap dipandang menjadi akhir segalanya, namun sebagian orang justru menganggap kegagalan adalah sebuah langkah utama untuk semakin tumbuh. Bahayanya, jika seseorang tidak memiliki keyakinan yang kuat, bagaikan rumah yang mudah roboh, jika tidak dibangun dengan struktur yang kuat. Seseorang akan mudah rapuh jika mengalami kesulitan dan cenderung menyerah dibandingkan untuk gagah berani menghadapi masalah.

Uniknya, dalam sejarah Jepang dikenal adanya filosofi Kintsugi, sebuah seni memperbaiki keramik yang pecah dan mengubahnya menjadi lebih indah. Sebuah mangkuk pecah, bukan dibuang begitu saja namun disatukan kembali dengan lem seperti getah pohon dan retakan-retakannya dihias kembali dengan emas. Hal ini mengubah pandangan segala sesuatu yang rusak bisa diubah menjadi hal yang lebih indah jika menemukan cara yang tepat untuk merubahnya.

Baca juga : Mengungkap Tasawuf Akhlaqi-Amali: Jalan Penyucian Diri dan Kedalaman Tafsir Sufi

Mulanya kintsugi tersebar luas di Jepang sekitar akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17. Ketika shogun (pemimpin) ketiga yang berkuasa pada zaman itu, Ashikaga Yoshimitsu (1358-1408) memecahkan mangkuk kesayangannya, yang kemudian ia mencari cara untuk memperbaikinya. Kemudian ia mengirimkan mangkuk tersebut ke Cina untuk diperbaiki. Mangkuk yang pecah kemudian dirangkai kembali dengan menggunakan campuran pernis bubuk emas sehingga menciptakan sebuah karya seni dengan nilai yang baru.

Dalam filosofi kintsugi, manusia diibaratkan sebagai keramik yang pecah karena merasa dirinya hancur akibat mengalami kegagalan. Kepingan keramik yang pecah merupakan sebagian proses kegagalan dan rentan “pasrah” jika dibiarkan begitu saja, tanpa menimbang kembali ada cara lain untuk membuatnya lebih berharga. Saat seseorang merasa bagian dari hancur itu tidak bisa disatukan kembali, namun filosofi kintsugi mematahkan argumen tersebut. Karena dalam seni kintsugi, semua bagian berharga dan harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya.

Baca juga : Konsep Jiwa Menurut Al-Kindi

Secara tasawuf, kintsugi jiwa memiliki hubungan erat dengan tazkiyah al-nafs yang secara etimologis mempunyai dua makna yakni penyucian dan penyembuhan. Sebuah upaya psikologis dari agen moral untuk membasmi kecenderungan-kecenderungan jahat yang ada dalam jiwa dalam mengatasi konflik batin antara nafs al-lawwamah dan nafs al-amarah. Tazkiyah al-nafs mengajarkan untuk menerima kekurangan atau masa lalu yang kelam, yang berawal dari proses takhalli (membersihkan diri dari sifat tercela), tahalli (mengisinya dengan sifat terpuji), tajalli (mencapai ketenangan jiwa).

Hal ini semakin menguatkan bahwa bagian dari diri yang hancur karena kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, namun dapat diperbaiki dan direkatkan kembali. Walaupun tidak akan utuh seperti sebelumnya, tetapi ada nilai baru yang membuat hidup lebih indah dan berharga.

Baca juga : Menjadi Mahasiswa Tasawuf & Psikoterapi, Dipandang Sebelah Mata hingga Dianggap “Ngeri”

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Apa itu filosofi Kintsugi dalam kehidupan?
Kintsugi adalah filosofi Jepang yang memandang bahwa kerusakan atau kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari sejarah hidup yang justru membuat seseorang menjadi lebih berharga dan indah setelah diperbaiki.
Bagaimana cara menerapkan Kintsugi untuk kesehatan mental?
Menerapkan Kintsugi berarti menerima luka batin atau kegagalan masa lalu, lalu memprosesnya dengan kesabaran dan refleksi diri hingga luka tersebut menjadi bagian dari kekuatan karakter yang baru.
Mengapa kegagalan dianggap sebagai langkah untuk tumbuh?
Kegagalan memberikan pelajaran berharga yang tidak didapatkan saat sukses. Dengan perspektif yang tepat, kegagalan menjadi fondasi untuk membangun struktur jiwa yang lebih tangguh dan bijaksana.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini