Pandemi dan Pendidikan Mandiri yang Harus Jalan Terus

Pandemi dan Pendidikan Mandiri yang Harus Jalan Terus

04 Agustus 2021
605 dilihat
2 menits, 34 detik

Tsaqafah.id – Terdapat fakta bahwa pendidikan harus mundur selangkah demi kemanusiaan. Hari-hari ini kita melihatnya dengan jelas, sekolah mengalah, menutup kelas jumpa fisik demi terselamatkannya nyawa.

Sudah tiga tahunan ini saya mengajar kelas Grahita. Kelas yang seluruh peserta didiknya anak-anak dengan keterbatasan intelektual. Daya ingat dan daya tangkap mereka begitu terbatas. Baru diajarkan tak lama, setelah bareng-bareng dibaca keras-keras dalam kelas, tak berselang panjang sudah blank.

Sebelum bertemu mereka dalam kelas, saya sangat optimis. Saya menyusun rangkaian program pengajaran. Minggu ini materi akidah, minggu selanjutnya praktik ibadah, minggu selanjutnya dan selanjutnya lagi ada materi baru, dan seterusnya. Tetapi pada praktiknya, sulit luar biasa. Sebatas menarik perhatian mereka, butuh seni tersendiri, belum menyoal pemahaman atas materi.

Tetapi sejak awal saya bertekad, “Mereka tidak akan saya tinggalkan”. Saya membersamai mereka melalui “rasa”. Saya cukupkan hadir secara fisik, mengajak mereka sholawatan bareng, menceritai kisah-kisah, diselingi materi. Ya, materi dalam konteks ini adalah selingan saja. Untungnya pelajaran yang saya ampu adalah mata pelajaran paling abstrak dari semua mata pelajaran yang ada: pendidikan agama (Islam). Jadi tidak terlalu banyak tuntutan grafik pencapaian kuantitatifnya.

Sekarang, perkembangan kebijakan terbaru, mensituasikan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dihentikan sampai batas waktu “belum ditentukan”. Padahal kemarin—waktu awal pandemi sampai sebelum PPKM darurat—di Balai Rehabilitasi kami PTM tetap bisa dilangsungkan. Walaupun dengan berprotokol ketat new norm Covid-19.

Baca juga: Bagaimana Sebaiknya Kita Mengikuti Pembelajaran Daring?

Saya telat menyadari, kalau di tempat-tempat lain, para pendidik telah merasakannya jauh-jauh hari. Bahkan mungkin sudah menjadi habit baru mereka. Masalahnya, ada beberapa sektor pendidikan yang tidak bisa dilangsungkan secara daring. Satu contohnya, ya anak-anak Grahita tadi.

Sirkulasi Energi

Pendidikan harus terus berlangsung, jika mau berharap banyak akan masa depan. Konfusius pernah berujar: “Jika rencanamu sebatas setahun, tanamlah padi. Jika 10 tahun, tanamlah pohon. Jika 100 tahun, didiklah anak-anak.” Artinya, anak-anak adalah potensi masa depan, no debate! Masalahnya sekarang, adalah di mana ruang-waktu pendidikan harus dialihkan, setelah sekolah tak lagi membuka pintu?

Saya sepakat dengan romo Kiai Anwar Manshur, pengasuh Pesantren Lirboyo, bahwa keberhasilan pendidikan merupakan buah dari ketersambungan tiga poros energi: Orang tua, murid, pendidik atau guru. Dawuh beliau, “Gurune mempeng anggenipun mulang, muride mempeng anggenipun ngaji, wong tuane mempeng enggenipun ndunga lan ngragati”.

Tiga poros keberhasilan pendidikan ini, sebenarnya merupakan keseimbangan energi yang tidak boleh kempes salah satunya. Ini juga menjadi alasan mendasar mengapa sektor pendidikan kita masih berkutat dengan masalah output pendidikan yang (cukup) membuat kimput karena adanya defisit di satu atau bahkan ketiga poros itu.

Jika kita menggunakan pola energi tersebut, mati surinya pembelajaran langsung bisa ditambal dengan menambah porsi energi pada poros lain, selain dari guru (sekolahan). Setelah para guru tersekat regulasi dan kedaruratan kondisi, peran orang tua menjadi sentral.

Baca juga: Pesan KH Ali Maksum: “Hiasilah Dirimu dengan Maksiat”

Potensi dan Kompetensi

Orang tua memiliki domain pendidikan yang berbeda dengan guru. Tentu tidak adil dan tidak presisi bila orang tua digerakkan untuk penguatan materi formal buku ajar. Model pendidikan bagi orang tua berbeda. Orang tua memiliki dua domain khas mereka sendiri, yaitu: pengalaman hidup dan “potensi diteladani”. Kendala yang muncul adalah ketika pekerjaan orang tua mengharuskan berjarak dengan keluarga. Tetapi, toh akhir-akhir ini mulai banyak pekerjaan yang semakin hari semakin “di rumah”.

Pendidikan mandiri yang paling mudah dan murah adalah mengajak anak untuk aktif nyandak pekerjaan rumah, semisal menyapu halaman, mengepel, membereskan gudang, belanja, memasak. Kalau memungkinkan, anak diajak nyandak membantu pekerjaan betulan. Hal ini akan membangun kecakapan dan tanggung jawab anak yang pada banyak kasus lebih nyata manfaatnya bagi anak di masa depannya nanti daripada “ilmu-ilmu buku”. Terlepas dari apapun situasinya, pendidikan must go on semandiri-mandiri mungkin.

Baca juga : Pesantren Online, Kenapa Tidak?

Profil Penulis
Akhmad Faozi Sundoyo
Akhmad Faozi Sundoyo
Penulis Tsaqafah.id
Penulis lepas, sedang meneliti pemikiran Ki Ageng Suryomentaram. Sekarang aktif di LDNU Ranting Panjangrejo, Pundong, Bantul. Beberapa artikel dimuat di platform daring: detikcom, islami.co, alif.id, arrahim.id, dan lain-lain.

2 Artikel

SELENGKAPNYA