Perjalanan menuju diri sendiri adalah perjalanan panjang menuju tempat terdekat
Bagaimana mungkin mengenal diri menjadi perjalanan terpanjang? Kutipan itu memuat banyak nilai. Imam Al-Ghazali menulis “man arofa nafsahu arofa robbahu” — siapa yang mengenal dirinya ia mengenal tuhannya. Sebuah kalimat menggugah dalam mukadimah Kimiya’us Sa’adah.
Orang-orang terus bergumul dengan proses mengenal diri. Kebingungan dan kehilangan arah, tak tahu mana akan dituju mendera saat seseorang kehilangan mata angin, tak lagi tahu apa tujuan atau apa keinginan. Proses mengenal diri menjadi penuh liku, ujian, dan cermin satu sama lain.
Mungkin memang kita belum mengenal diri, sebagai bangsa yang berusia 80 tahun. Saat diproklamasikan, para proklamator sadar bangsa ini sangat majemuk. Bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa persatuan — yang tanpa disadari menjadi tameng utama menjaga persatuan sebuah negara yang sangat majemuk ini.
Namun, konflik yang menantang persatuan terus berlangsung dari masa ke masa. Poso, Ambon, Aceh, Papua, Kalimantan, Madura, adalah tempat-tempat yang membawa kita pada ingatan kolektif. Agama, sering menjadi salah satu penyebab, tapi seringkali bukan utama dan tunggal.
Baca juga Meleburkan Sekat Identitas, Menyelami Jalan Panjang Menjadi Manusia
Sejak dulu, rakyat nusantara mempunyai hubungan yang tak bisa dipisahkan dengan alam. Spiritualitas adalah bagian dari laku hidup keseharian. Tapi nampaknya laku seperti itu mulai dirongrong zaman.
Saat kereta api mulai diperkenalkan, bahkan sebelum itu — saat penebangan hutan-hutan dimulai oleh pemerintah Hindia Belanda dengan tujuan membuat jalur kereta api, para pembantu tentu saja juga orang pribumi.
Dalam pengukuran, pemetaan, untuk membuat jalan kereta api di Sumatera yang dipimpin oleh Dr. Ijzerman, seorang insinyur Belanda dan penggagas kampus teknik pertama di Hindia Belanda — Rudolf Mrazek menulis; Rombongan Ijzerman, sewaktu mereka berjalan, menemukan berulang kali sporen baru “jejak-jejak kaki” dari gajah-gajah, badak-badak, tapir-tapir, harimau, babi hutan, dan rusa.
Tapi rombongan itu lebih sering melihat jejak kaki, bukan binatangnya sendiri. Mrazek menulis; Alam liar yang mereka lewati pun tampaknya membuka dirinya, dan kalau orang sanggup mengatakannya dalam arti tertentu; rumah. Mereka merasakan bentang alam itu begitu berbaik hati dan bergerak bersama mereka.
Ekspedisi itu membawa kopor-kopor, tempat tidur lapangan, kursi, kasur, lembaran kulit imitasi untuk berteduh, amunisi, kawat, tali, parafin, kamera foto, dan makanan. Mereka menghabiskan malam demi malam di hutan.
Buku kenangan yang ditulis Dr. Ijzerman membawa pengalaman, seperti sebuah sambutan antara orang-orang dengan alam. Tulisan Dr. Ijzerman seolah-olah ingin mengatakan, modernisasi disambut ramah di bumi Hindia Belanda. Nampaknya kelancaran dalam membuka jalur ekspedisi itu membuatnya percaya diri.
Membaca kutipan tulisan Ijzerman dalam Rudolf Mrazek memunculkan banyak pertanyaan di kepala, adakah saat itu mereka tak memperlakukan hutan secara sakral, tak adakah ketakutan dalam alam yang liar?
Banyak laku tirakat orang jaman dulu dilakukan di hutan, tapi Ijzerman seperti hendak bersahabat, bersalaman, atau lebih jauh, menundukkan. Mungkin itulah awal semangat modernisasi, seperti yang dibawa Dr. Ijzerman — semangat merangkul tapi menundukkan, tapi juga mengontrol, dan menghendaki.
Baca juga Semua itu adalah Jarak
Tak heran jika pembangunan dalam skala modernisasi kehidupan kini bersifat memaksa. Masyarakat adat sering jadi korban dan tersingkir, tapi semua atas nama pembangunan dan laju ekonomi. Apa yang dianggap sakral, kehilangan tempatnya. Laku-laku arif menjaga alam, menjaga manusia, dipandang tak lagi relevan. Dan dalam keremang-remangan norma-norma modern, dalam seluruh elemen, semua dianggap ideal dan masuk akal jika bisa diterima dari kacamata modernitas.
Dalam semangat modernitas, rasionalitas disimpulkan dari materi, apa yang tak tampak atau spiritualitas makin jadi asing. Rumah angker yang dulu orang takut menghuni, sekarang diburu asal harga bersahabat. Manusia modern lebih takut miskin dan lapar daripada cerita horor.
Kita hidup di dunia yang digerakkan oleh rasionalitas yang materialistis. Semua yang tak bisa dijangkau dengannya menjadi asing dan dipertanyakan. Padahal manusia tak hanya makhluk materi tapi juga makhluk spiritual.
Modernisasi menawarkan kerapihan, kebersihan, kemudahan, kebebasan, tapi bersamaan dengan itu juga mengikis sisi spiritualitas manusia. Dari hari ke hari, dalam bauran teknologi yang memukau dan melenakan, kita makin kehilangan sense of empathy.
Dalam arus modernisasi di Hindia Belanda, Rudolf Mrazek juga menulis, tentang siapa pengguna kereta api paling sering tatkala diperkenalkan pada abad ke-19 di Hindia Belanda. Mereka adalah kaum santri.
“Santri, murid dan pengajar islam di Hindia Belanda—yang lama dicurigai oleh pemerintah kolonial sebagai unsur subversif dalam masyarakat pribumi, calon-calon pemimpin kerusuhan—sesungguhnya terbukti, menurut laporan para kondektur itu, merupakan salah satu segmen penduduk asli Hindia Belanda yang secara radikal lebih kerap menggunakan kereta dan trem daripada sisanya.” (Rudolf Mrazek, Engineers of Happy Land).
Merenungkan tentang arti perjalanan, membuat kita bernapas panjang, bahwa kita memang berjalan di atas roda zaman yang terus bergerak. Modernisasi mengikis semua yang dia lewati, memaksa sekaligus memenangkan. Bagaimana kita hadapi? Adakah kebingungan muncul tatkala kita tidak lagi mengenal diri?

