Meleburkan Sekat Identitas, Menyelami Jalan Panjang Menjadi Manusia

Meleburkan Sekat Identitas, Menyelami Jalan Panjang Menjadi Manusia

31 Agustus 2021
251 dilihat
6 menits, 31 detik

Judul: Jalan Panjang Untuk Pulang, Penulis: Agustinus Wibowo, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Tahun: 2020, Ketebalan: 461 Halaman

Tsaqafah.id – Dunia sejak dulu kala sudah riuh dengan berbagai konflik. Waktu demi waktu yang dilalui manusia diselingi dengan perseteruan dan perselisihan karena tuntutan bertahan hidup. Baru-baru ini berita hengkangnya tentara Amerika dari negeri Afghanistan dan pendudukan kembali oleh Taliban yang santer diberitakan membukakan kita kembali pada pertanyaan, “Mengapa konflik terus terjadi?”

Dunia tanpa konflik adalah utopis, konflik mengelilingi kita setiap harinya. Dalam teori Darwinisme, konflik disebut sebagai upaya struggle and survival of the fittest, di mana perjuangan dalam kehidupan manusia selalu terjadi dan memicu adanya konflik.

Selain itu, sifat serakah manusia juga mengantarnya untuk saling menguasai satu sama lain. Konflik-konflik yang terus meletus di berbagai daerah selalu saja didasari oleh motif utama yaitu keinginan atas keuntungan materiil atau immateriil oleh suatu kelompok terhadap liyan. Akibat keserakahan yang tak bisa dibendung, manusia menjadi kehilangan jati dirinya sebagai manusia.

Sekat identitas, dari mana asalmu, dari suku mana, apa agamamu, dan apa warna kulitmu telah menjadi sebab utama berbagai konflik didengungkan. Dewasa ini, identitas santer menjadi banyak pemicu konflik. Seperti yang terjadi di Indonesia tahun 1998 misalnya, kebencian terhadap etnis Tionghoa terbentuk sejak zaman Orde Baru. Hal ini karena Soeharto ingin meninggalkan pengaruh presiden sebelumnya Soekarno yang diketahui dekat dengan Cina. Termasuk upaya itu adalah menghilangkan hak-hak warga keturunan Cina dan mereka harus melebur mengganti nama Cina menjadi nama budaya setempat.

Baca juga: Two Distant Strangers dan Bagaimana Saya Malah Mengingat Kematian

Tak lama setelah itu, kerusuhan bernuansa agama juga kembali meletus di Poso, Sulawesi Tengah. Diketahui awal konflik ini bermula dari gesekan kecil beberapa kelompok pemuda. Penduduk asli Poso yang sebagian memeluk agama Kristen dan pendatang dari suku Bugis dan Jawa yang memeluk agama Islam menjadi faktor yang berkontribusi. Ketidakpastian politik dan ekonomi menyusul tumbangnya rezim Orde Baru mendorong pada faktor ketidakstabilan tatanan masyarakat sehingga rawan memicu terjadinya kekerasan.

Hal yang hampir serupa juga terjadi di Ambon, Maluku Utara pada tahun 1999. Dilansir dari sebuah film dokumenter yang diproduksi Narasi berjudul ‘Luka Beta Rasa’ yang diproduksi pada Maret 2020 lalu, konflik sektarian antar Kristen dan Islam tahun 1999-2000 di Maluku melibatkan anak-anak 7-15 tahun, yang jumlahnya mencapai 4000 anak. Konflik itu didorong oleh kerusuhan antar warga yang mencuat menjadi konflik yang tak berkesudahan dan memakan banyak korban jiwa. Kondisi sosial, politik, ekonomi sangat mempengaruhi berkembangnya konflik yang meluas menjadi konflik berbau identitas agama.

Poso dan Ambon adalah dua kota yang memiliki heterogenitas tinggi, di Ambon para penduduknya terdiri dari etnis Bugis, Buton, Makasar, Arab, Jawa, dan etnis Cina. Presentasi agama yang dipeluk sebagian besar adalah Kristen dan Islam dengan presentasi yang hampir sama, dan juga agama-agama lain seperti Hindu, Budha dengan jumlah yang lebih sedikit (Maluku.kemenag.go.id).

Semua konflik yang terjadi di atas tidak hanya merenggut banyak korban jiwa, trauma psikologis menyisakan luka bagi generasi mendatang. Sebelum konflik meletus, daerah-daerah tersebut terkenal damai dan harmonis. Rekonsiliasi telah dilakukan, para keluarga korban yang terlibat konflik sudah banyak yang kembali ke kampung halaman masing masing dan rukun lagi dengan sesama anggota keluarga yang berbeda kepercayaan, seperti yang dilakukan Ronald Regang dalam Luka Beta Rasa.

Dalam perkembangannya, konflik tidak hanya dipengaruhi oleh tuntutan kebutuhan, tapi juga pemaksaan terhadap nilai. Praktik kolonialisme misalnya, selain mengeruk sumber daya juga untuk memaksakan suatu nilai dan tatanan di negeri jajahan atau penanaman suatu ideologi.

Lewat perjalanan hidupnya manusia diingatkan untuk kembali menjadi dirinya, menjadi manusia, dengan sifat-sifat kemanusiaannya dan tidak terkuasai oleh sifat iblis dalam dirinya, yaitu keserakahan dan ketamakan yang memicu terjadinya banyak konflik dan perpecahan.

Agustinus Wibowo, seorang wartawan kawakan Kompas yang banyak melakukan perjalanan di daerah konflik menceritakan refleksinya tentang makna identitas dan makna pulang dalam buku terbarunya yang berjudul  “Jalan Panjang untuk Pulang” yang diterbitkan pada 2020 lalu di saat wabah pandemi mulai melanda Indonesia.

Dua hal yang selalu memukau dari karya-karya Agustinus, yaitu perjalanan dan kepulangan. Dalam sebagian besar tulisannya ia membawa serta pembacanya pada pencarian identitas dengan perjalanan untuk mencari makna.

Tempat-tempat yang dikunjungi Agustinus seringkali adalah daerah perbatasan, atau di wilayah konflik dengan berbagai permasalahan lingkungan dan sosial. Dari tempat-tempat yang dikunjunginya,  Agustinus mengajak pembaca menemukan makna identitas diri sebagai warga dunia, yang membutuhkan kerjasama antara satu dengan yang lain terlepas dari identitas bangsa, suku, atau agamanya saja.

Jalan Panjang untuk Pulang adalah buku yang berisi kumpulan esai-esai refleksi dari perjalanannya mengunjungi berbagai daerah di belahan dunia, mulai dari Negeri tercinta Indonesia, tetangga Papua Nugini, Suriname, Afghanistan, Belanda, Cina, Australia dan masih banyak lagi.

Baca juga: Belajar Ekologi sampai Ekofeminisme Lewat Film Animasi Ghibli “Princess Mononoke”

Di Suriname misalnya, Agustinus menghadirkan sosok Mbah Saridjo Moeljoredjo. Kakek berusia 96 tahun yang tinggal di Suriname sejak dibawa pasukan Belanda dengan kapal pada tahun 1931. Pada waktu kecilnya orangtua Mbah Saridjo adalah petani miskin yang disuruh Belanda menanam tebu tanpa penghasilan yang layak. Kemiskinan menghimpitnya hingga orang tuanya ikut berangkat ke Paramaribo dengan harapan hidup yang lebih baik.

Namun, sampai di daerah tujuan, situasi benar-benar berbeda, mereka tidak tahu dengan kondisi lingkungan dan tanahnya di negeri asing di pesisir Amerika tersebut. Dalam sejarahnya, para pekerja yang diangkut tak sedikit yang berangkat karena diculik, ditipu sampai dihipnotis.

Kini Mbah Saridjo dan semua yang diangkut dalam kapal waktu itu telah menetap di Suriname. Mbah Saridjo telah menjadikan Suriname tempat tinggal dan asalnya, ketika ditanya apakah ingin kembali atau berkunjung ke Jawa, beliau menjawab tidak sama sekali. Baginya sudah tidak ada lagi yang ia kenal di Jawa dan umurnya sudah tua. “Tidak ada yang aku kangeni dari Negara Jawa, di sini semua sama dengan di sana. Hidup di sana malah lebih susah, orang mesti kerja di kebun, jual sendiri untuk cari makan. Kalau disini cuma kerja di kebun sudah dapat makan,” ungkap Mbah Saridjo.

Selain dari sisi personal, Agustinus juga menghadirkan sudut pandang lain dalam konflik antar bangsa. Misalnya dari yang banyak melibatkan antar agama Islam dan Yahudi. Dalam judul babnya “Menjadi Yahudi di Bukhara” Agustinus menceritakan perjalanannya berkunjung ke Sinagog, tempat ibadah umat Yahudi di Bukhara, sebuah kota di Uzbekistan yang lebih dikenal sebagai pusat peradaban islam.

Yahudi Bukhara adalah salah satu komunitas diaspora Yahudi tertua di dunia yang masih bertahan hingga sekarang. Dari hari ke hari, jumlah Yahudi di Bukhara semakin menyusut, banyak dari mereka yang bermigrasi ke Israel, mengikuti perpindahan besar-besaran pada tahun 1970, ketika Uzbekistan masih menjadi bagian Uni Soviet. Perpindahan besar-besaran waktu itu terjadi lantaran kebijakan anti-Semit (Anti Yahudi) yang sangat kuat dari pemerintah Soviet.

“Saya tidak bisa baca itu, dulu kami tidak boleh belajar itu, jadi saya tidak mengerti,” ungkap Ishak, lansia yang ditemui Agustinus sebagai pemandu di Sinagog Bukhara ketika ditanya apakah ia bisa bahasa Ibrani.

Di zaman rezim komunis Uni-Soviet, segala hal yang berhubungan dengan ibadah agama dilarang, termasuk agama Yahudi. Pemerintah Komunis berusaha menumbangkan kepercayaan penduduk akan takhayul, termasuk agama kepercayaan yang dipandang dalam barisan ini.

Beruntung kaum minoritas Yahudi di Uzbekistan sekarang, pemerintah Uzbek pada Presiden Islam Karimov begitu demokratis. Orang Yahudi bebas menjalankan ibadah agama, diizinkan mendirikan sekolah Yahudi, dan mengajarkan bahasa Ibrani pada anak cucunya.

Baca juga: Refleksi Ihwal Beragama Sehari-hari dari film Tanda Tanya (?)

Bertolak dari komunitas Yahudi, dalam buku ini Agustinus masih menceritakan beberapa bagian tentang negeri Afghanistan. Negeri yang sampai saat ini terus memanas. Baru-baru ini pendudukan kembali Afghanistan oleh Taliban pasca AS menarik pasukannya, kembali menuai pertanyaan dari warga dunia, apakah Taliban yang sekarang masih sama seperti dulu?

Konflik di Afghanistan telah berlarut-latut selama bertahun-tahun. Dalam perjalanannya Agustinus mengungkap beberapa kompleksitas dari permasalahan di Afghanistan. Selain masalah politik dan geopolitik, pertikaian antar suku juga kerap terjadi. Suku terbesar di Afghanistan adalah Tajik dan Pashtun, mereka seringkali saling sikut dan saling olok. Orang Pashtun keberatan jika dipimpin oleh orang Tajik, begitupun sebaliknya. Hal ini seperti diperlihatkan dalam dialog berikut;

“Agustine, bagaimana pendapatmu tentang masa depan Afghanistan? Apakah kita bisa merebut Durand Line kembali?” Tanya Matiullah, pemuda 20 tahun bangsa Pashtun yang sangat baik kepada pendatang seperti Agustinus.

“Masa depan Afghanistan, akan terjamin kalau suku di sini mengutamakan identitas Afghanistan di atas segala-galanya. Yang paling penting itu adalah terlebih dahulu menjadi bangsa Afghan, bas. Lupakan dulu kebanggaan suku-sukumu itu,” jawab Agustinus.

Lalu Matiullah mangut-mangut seperti setuju, kemudian berkata lagi, “Tetapi bagaimana kami bisa hidup bersama Tajik-tajik brengsek itu? Mereka kan sudah punya Tajikistan. Mereka mestinya pulang ke Tajikistan sana!” (Hal. 86-87).

Negeri Afghanistan selalu menyimpan banyak misteri, meskipun sudah dituliskan dalam buku khusus yang telah terbit sebelumnya yaitu ‘Selimut Debu’, Agustinus masih menceritakan beberapa bagian di buku ini.

Sementara itu, dalam perjalanan ke negeri kincir angin, Agustinus juga bertemu seorang warga Maluku yang telah lama hidup di Belanda lantaran dibawa oleh orang Belanda di zaman penjajahan untuk dipekerjakan disana, orang-orang seperti inilah yang akhirnya bertahan sampai hari ini di Belanda dan menjadi warga Negara Belanda. Ketika pulang ke Maluku di tanah kelahirannya, ia justru menjadi asing dan sepi. Dari mengunjungi berbagai Negara itu, Agustinus tak hanya mengungkap pesonanya tetapi juga sisi lain sejarah, kelambunya, dan proses pertumbuhan masyarakatnya. Hingga sejatinya pergi adalah untuk pulang, menyelami lagi menjadi manusia utuh, yang disebutnya bahwa pulang tidak hanya fisik tetapi juga batin. 

Baca juga: Kisah Perjalanan Abu Bakar As Syibli Bersama Pemuda Nasrani Ke Tanah Suci

Profil Penulis
Umi Nurchayati
Umi Nurchayati
Penulis Tsaqafah.id
Alumni FAI UMY dan PP. Al Munawwir Krapyak

28 Artikel

SELENGKAPNYA