Salat adalah komunikasi antara Tuhan dan hamba-Nya. Masalahnya, kita sering menjalaninya ala kadarnya. Bacaan dilafalkan sambil lalu, komat-kamit, pokok ndang mari, ndang uwes. Yang penting salat. Memang, itu sudah baik. Tapi, sampai kapan begitu terus?
Belakangan ini saya membaca Agnosthesia (2021) karya Maria Frani Ayu. Di halaman-halaman awal, ia mendeklarasikan bahwa sejak dulu dirinya bukan komunikator yang baik—terutama dalam mengungkapkan perasaan—dan justru karena itulah menulis menjadi jalan untuk menyampaikan apa yang ingin ia katakan kepada orang lain.
Dari situ saya jadi berpikir: barangkali, bagi orang yang komunikasinya buruk, menulis memang bisa menjadi salah satu obat. Ingat, salah satu—bukan satu-satunya. Mungkin terdengar klise, bahkan basi. Tapi kalau dipikir-pikir, kepala bisa mengangguk setuju.
Kita sering menjumpai penulis hebat yang bicaranya belepotan: dosen, guru, ustaz, dan sebagainya. Sebaliknya, ada juga mereka yang piawai berbicara di depan umum, tetapi gagap ketika harus menuangkan pikiran dalam tulisan. Meski begitu, tak jarang pula penulis yang bagus, juga pandai berbicara. Tidak hitam-putih.
Baca juga: Gen Z dan Paradoks Ustaz Didikan Google
Saya teringat buku Oh Su-hyang, Bicara itu Ada Seninya (2016). Buku itu menarik—memberi rumus sederhana cara berkomunikasi: bertanya, memuji, memberi reaksi. Namun ada satu hal yang absen di sana: menulis. Pembaca diajak berlatih bicara, tapi tidak diajak berlatih menata pikiran lewat tulisan.
Padahal, menulis punya fungsi penting, yaitu membantu agar ucapan, pikiran, dan hati tidak saling berbenturan. Ketiganya punya logika masing-masing. Ucapan tunduk pada relasi sosial, pikiran menuntut rasionalitas, sementara hati menuntut kejujuran. Menyelaraskan ketiganya tidak mudah—dan itu perlu latihan. Salah satu jalannya, ya, menulis.
Baca juga: Ketika Menulis Menjadi Pilihan untuk Membela Kebenaran
Bukan berarti semua harus diucapkan. Ada timing. Tapi kalau semuanya dipendam terus, takutnya nanti meledak di waktu yang salah. Tidak baik bagi diri sendiri, juga orang lain. Jika tak ada partner bicara yang pas, menulis bisa dicoba. Minimal sebagai ruang aman untuk jujur pada diri sendiri.
Menulis juga melatih kehati-hatian agar yang keluar dari mulut tidak sampai masuk kategori kaburo maqtan ‘inda Allāhi an taqūlū mā lā ta‘lamūn—besar kebenciannya di sisi Allah ketika kita mengatakan sesuatu yang tidak kita pahami. Dengan menulis, kita belajar menimbang, melambat, dan mungkin—belajar legowo.
Bagi mereka yang punya amanah mengajar, tetapi merasa penyampaiannya sering belepotan, ikhtiar menulis proses mengajar dari awal sampai akhir patut dicoba. Seperti menulis diari. Ini melatih kepekaan, imajinasi, sekaligus refleksi.
Semua ini, sejauh ini, masih berkaitan dengan komunikasi antarmanusia—baik personal maupun ruang publik.
Namun setelah saya pikir-pikir, cara ini barangkali juga relevan untuk satu bentuk komunikasi lain yang jauh lebih penting, itu salat.
Menulis sebagai Jalan Menghayati Salat
Salat adalah komunikasi antara Tuhan dan hamba-Nya. Masalahnya, kita sering menjalaninya ala kadarnya. Bacaan dilafalkan sambil lalu, komat-kamit, pokok ndang mari, ndang uwes. Yang penting salat. Memang, itu sudah baik. Tapi, sampai kapan begitu terus?
Di titik ini, menulis mungkin bisa menjadi salah satu ikhtiar. Misalnya, meluangkan satu hari—atau lebih—untuk benar-benar memikirkan bacaan salat dari takbiratul ihram hingga salam. Ditulis, dimaknai, dipahami pelan-pelan. Tidak perlu tergesa. Apalagi bacaan salat berbahasa Arab—perlu usaha ekstra.
Saya teringat catatan dosen saya, Bu Lien, tentang khutbah Idul Fitri di Amerika tahun 2024. Sebelum salat, sang imam menjelaskan makna Allāhu akbar. Ia bukan berarti “Allah Maha Besar” atau “Allah adalah yang terbesar,” melainkan: Allah lebih besar. Lebih besar dari genosida, dari pemimpin yang zalim, dari parlemen, dari Biden, dari segala masalah kita. Allah selalu lebih besar dari apa pun.
Dari satu takbir saja, kita sebenarnya bisa menata ucapan, pikiran, dan hati. Gerakan mengangkat tangan seolah menegaskan kepasrahan total pada kebesaran-Nya. Lalu bagaimana dengan bacaan-bacaan setelahnya? Bukankah semuanya layak diperlakukan dengan kesungguhan yang sama?
Mungkin inilah yang membuat sebagian orang menyebut salat sebagai terapi, karena ia ngobrol dengan Sang Pencipta. Curhat dengan Yang Maha Memiliki segalanya. Obrolan yang idealnya terasa dekat, nyambung, dan menenangkan.
Dan bukankah obrolan yang nikmat memang seperti itu? Jika berbicara dengan sesama manusia saja butuh menyeimbangkan ucapan, pikiran, dan hati, apalagi berbicara dengan Tuhan?
Baca juga: Kenapa Manusia Menderita, Jika Tuhan Mahakuasa?
Memahami Bahasa (Arab)-nya Tuhan
Coba deh, buat apa sebenarnya kita belajar bahasa Arab, belajar ngaji Al-Qur’an sedini mungkin? Jawaban yang sering kita dengar umumnya begini; agar berbakti kepada orang tua, terlihat saleh, atau pintar agama. Itu tidak sepenuhnya salah. Tapi, in my opinion, ujung-ujungnya satu: agar kita bisa ngobrol dengan Pencipta kita—Allah—tanpa sekat.
Bahasa, dalam konteks ini, bukan sekadar alat teknis. Ia jembatan. Dan seperti semua jembatan, ia bisa menghubungkan, tapi juga bisa menciptakan jarak jika disakralkan berlebihan.
Dalam tulisan saya sebelumnya, Menjadi Muslim Tenanan, saya menyinggung bagaimana bahasa Arab kerap diperlakukan seolah identik dengan iman. Bunyi dikira nilai. Lafaz dikira akhlak. Yang Arab dianggap pasti atau bahkan lebih Islami, yang tidak Arab dicurigai kurang religius.
Ihwal semacam inilah yang mengingatkan saya pada polemik lama ketika Abdurrahman Wahid—Gus Dur—pernah melempar gagasan mengganti salam as-salāmu ‘alaikum dengan “selamat pagi” atau “selamat malam” dalam konteks tertentu. Gagasan itu sontak menuai kegaduhan hingga mau dilengserkan dari jabatan Ketum PBNU era ’80-an. Gus Dur dituduh melemahkan Islam, menggerus kesakralan, bahkan dianggap kebablasan. Ada pula yang bilang, ini tanda Islam sedang diliberalkan.
Padahal, sependek yang saya pahami, Gus Dur tidak sedang menghapus Islam, melainkan ingin mem-pribumikan-nya. Ia ingin Islam hadir sebagai nilai, bukan sekadar bunyi. Sebagai etika yang hidup dalam masyarakat, bukan sekadar formula verbal yang dihafal tanpa diresapi.
Menariknya, gagasan Gus Dur ini pernah dikritik oleh Mahbub Djunaedi, kolumnis legendaris yang terkenal jenaka sekaligus kritis itu. Dalam tulisannya “Forum” (1987), Mahbub bertanya dengan nada menggugat: untuk apa mengganti as-salāmu ‘alaikum—yang sudah begitu membumi, diucapkan dari rakyat jelata hingga presiden—dengan salam ala orang Inggris? Bukankah as-salāmu ‘alaikum itu sendiri sudah menjadi bagian dari bahasa keseharian bangsa ini?
Kritik Mahbub itu penting. Ia mengingatkan bahwa pribumisasi juga punya batas. Jika as-salāmu ‘alaikum saja hendak diganti dengan bahasa Indonesia, lalu bagaimana nasib ungkapan lain yang sudah menyatu dengan iman dan keseharian umat? Seperti al-ḥamdu lillāh, Allāhu akbar, dan astaghfirullāh—apa semuanya harus dialihbahasakan?
Nah, di titik ini, sebenarnya pribumisasi Islam bukan proyek seragam, apalagi pemaksaan. Apakah dengan demikian, Mahbub tidak sepenuhnya paham pribumisasi-nya Gus Dur? Barangkali, iya. Pribumisasi bukan soal mengganti semua yang Arab menjadi Indonesia, tetapi memilah mana yang prinsip dan mana yang ekspresi. Bahasa Arab tetap sakral sebagai bahasa wahyu. Namun kesakralan itu tidak boleh mematikan daya hidup Islam dalam keseharian manusia.
Baca juga: Urgensi Bahasa dan Sastra Arab dalam Meningkatkan Kualitas Hafalan Al-Qur’an
Belajar bahasa Arab, mengaji al-Qur’an, melantunkan doa, apalagi salat—semua itu penting. Tapi lebih penting lagi memastikan bahwa yang kita rawat bukan hanya bunyinya, melainkan pesannya. Sebab Islam yang terlalu sibuk menjaga lafaz, sering kali lupa menjaga akhlak.
Dan mungkin, di situlah menjadi “Muslim tenanan” menemukan maknanya: bukan pada seberapa fasih kita melafalkan, tetapi pada seberapa jauh nilai Islam benar-benar hidup dalam cara kita menyapa, berbicara, dan memperlakukan sesama.

