Skip to content
Budaya
Beranda/Budaya/Simfoni Slawat Prabu Mataram: Alternatif Kemegahan Rasa pada Kanjeng Nabi

Simfoni Slawat Prabu Mataram: Alternatif Kemegahan Rasa pada Kanjeng Nabi

10 Kali Dibaca
Bagikan:
Simfoni Slawat Prabu Mataram: Alternatif Kemegahan Rasa pada Kanjeng Nabi

Ringkasan Simfoni Slawat Prabu Mataram: Alternatif Kemegahan Rasa pada Kanjeng Nabi

Simfoni Slawat Prabu Mataram menghadirkan alternatif ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW melalui kolaborasi unik antara sholawat Jawi emprak dan orkestra Eropa. Pagelaran ini memadukan syair peninggalan K.P.H. Yudhonegoro dengan aransemen musik yang khidmat, menawarkan ruang refleksi batin di tengah gegap gempita perayaan sholawat yang lazim ditemui di masyarakat saat ini.

Kolaborasi ini bagi saya adalah buah imajinasi tentang rute yang berbeda menuju kekasih-Nya. Sekat Timur-Barat mengabur, melahirkan senyawa otentik yang justru dengan tepat merepresentasikan kedirian kita (saya).

Di tanah air, ajang sholawat bukanlah gelaran yang sulit dicari. Ia tak jarang hadir dalam gemerlap dan gegap gempita. Megah dan meriah, dua hal yang seolah tak terpisah untuk mengekspresikan rasa bungah atas sosok manusia mulia, Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sederet syair dan munsyid munsyidah populer sudah akrab di telinga sekaligus dikagumi masyarakat jamak.

Di tengah gebyar itu, diam-diam ada kehausan pada yang intim. Pada suasana batin yang khidmat, pada ungkapan cinta yang platonis. Tepat di jantung kerinduan itulah Simfoni Slawat Prabu Mataram hadir, menghadirkan pujian yang dibalut tradisi dan peleburan antarbudaya. Ia mengawinkan irama sholawat jawi emprak khas Kaliopak dan orkestra Eropa, membawakan syair-syair peninggalan K.P.H. Yudhonegoro yang dianggit pada akhir abad 19.

Magis, kata yang mewakili keseluruhan pagelaran malam itu, Jumat (30/10) di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta. Konduktor Eki Satria, menyuguhkan alternatif kemegahan sholawat yang jarang ditemui. Gebyar yang berkedalaman rasa, fluktuasi nada yang entah bagaimana, secara presisi mewakili kerinduan jiwa pada sang Ratu Adil Paramarta.

Simfoni dibagi dalam enam babak. Dramaturgi Maulid menyajikan overture narasi jawi yang mengajak pemirsa melantunkan sholawat dan zikir Maulid Nabi dengan cara Jawa. Sesaat setelah kumandang, “Allahumma shalli wa barik wa salim ‘ala Muhammad”, laras Pambuka menyahut, gesekan violin, viola, cello, merambat di bawah ayunan baton Eki Satria.

Baca juga: Bagaimana Semestinya Keberislaman Menggerakkan Kita

Pada fragmen-fragmen berikutnya kidung “Iyo Sayyid”, “Montro-Montro”, “He Seh Kito”, “Alon-Alon”, susul menyusul. Dalam pidato kebudayaan yang mengawali, KH. Jadul Maula, pengasuh Pondok Pesantren Budaya Kaliopak menguraikan, tembang-tembang ini adalah sebentuk manifesto kebudayaan Mataram Islam demi menjaga kedaulatan di tengah krisis multidimensi pada masanya. Naskah ini adalah ikhtiar kebudayaan yang membangun jembatan penghubung bagi masyarakat Jawa mengenal jejak sejarah kenabian.

Saya, sebagai orang Jawa –dan saya yakin banyak yang lainnya, tidak benar-benar mengerti arti syair-syair musikal itu kecuali sebagian kecil, tetapi mampu menangkap rasanya. Dan nampaknya, memang itulah yang tengah disingkap, nuansa rasa di kedalaman jiwa. Orkestra membawa sholawat ke ruang “terhormat” panggung opera. Pujian dipersembahkan dalam notasi yang dijalin saksama. Gotong royong antarinstrumen, piano, perkusi, dawai, alat tiup, rancak hadrah, harmoni paduan suara dan lengking sinden juga rawen, dihiasi keindahan teatrikal, melahirkan simfoni yang menggetarkan hati.

Kolaborasi ini bagi saya adalah buah imajinasi tentang rute yang berbeda menuju kekasih-Nya. Sekat Timur-Barat mengabur, melahirkan senyawa otentik yang justru dengan tepat merepresentasikan kedirian kita (saya). Bahwa di saat yang bersamaan, kombinasi menjadi Jawa, Muslim, yang sekaligus mengapresiasi keindahan Barat, valid menjadi sarana ekspresi keimanan. Ini sesuai dengan filosofi yang dihidupi Pesantren Budaya Kaliopak: Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat.

Pagelaran yang sekaligus menandai dua windu Pesantren Budaya Kaliopak ini ditutup dengan musikalisasi syair KH. Jadul Maula, “Menjadi Nyata”. Di sinilah puncak orkestra membuat saya didera perasaan yang sulit dijelaskan hingga membawanya pulang. Dan bait puisi KH. Jadul Maula senantiasa terngiang:

Pulanglah

ke tanah dirimu,

Berdirilah dengan telanjang dan jujur,

Rasakan jemari Tuhan menenunmu —

bukan untuk menaklukkan puncak,

melainkan untuk menyirami benih yang haus.

Baca juga: Padhangmbulan di Desa Menturo: Kidung Lirih Maulid Nabi

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Apa itu Simfoni Slawat Prabu Mataram? ▾
Sebuah pagelaran seni yang mengolaborasikan sholawat Jawi emprak khas Kaliopak dengan aransemen orkestra Eropa untuk membawakan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW.
Siapa penggubah syair dalam Simfoni Slawat Prabu Mataram? ▾
Syair-syair yang dibawakan dalam simfoni ini merupakan karya peninggalan K.P.H. Yudhonegoro yang dianggit pada akhir abad ke-19.
Apa keunikan pendekatan musik dalam simfoni ini? ▾
Simfoni ini menawarkan suasana yang lebih intim dan khidmat, menjauh dari kesan gegap gempita, dengan memadukan elemen tradisi lokal dan orkestra modern.
Di mana Simfoni Slawat Prabu Mataram dipentaskan? ▾
Pagelaran ini pernah diselenggarakan di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, dengan konduktor Eki Satria.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini