Ringkasan Bagaimana Semestinya Keberislaman Menggerakkan Kita
Buku Khotbah di Dalam Istana karya Farah El-Sharif menawarkan kritik tajam terhadap sikap pasif umat muslim dan pemimpin Arab dalam merespons tragedi Gaza. Melalui perspektif tauhid, penulis mengajak pembaca membebaskan diri dari ketakutan terhadap penguasa tiran dan kembali meneladani jalan kenabian sebagai bentuk perlawanan nyata terhadap dekadensi tatanan kolonialisme global.
Judul: Khotbah di Dalam Istana
Penulis : Farah El-Sharif
Penerjemah dan Editor: Lien Iffah Naf’atu Fina
Jumlah Halaman: xxxi + 384
Penerbit: Skenubooks X Thinking Tradition
Cetakan I: Oktober 2026
Sejauh pengamatan saya, gerakan pro-Palestina lebih sering berhadap-hadapan dengan kelompok zionis. Kerap kita dengar dan saksikan seruan aksi boikot juga demonstrasi dengan pamflet protes yang nyaring di berbagai belahan dunia. Namun, kali ini Farah El-Sharif, muslimah berdarah Palestina sekaligus doktor lulusan Harvard, memilih rute yang berbeda. Melalui esai-esainya, ia melantangkan suara kepada muslim di seluruh dunia, menunjuk hidung pemimpin-pemimpin Arab, mengutuki betapa pengecutnya mereka di hadapan Gaza.
Farah kecewa dengan mentalitas kerdil umat muslim hari ini. Saat banyak orang mendaku muslim tapi di waktu yang sama bertekuk lutut pada penguasa tiran. Ketakutan kepada manusia, kata Farah, adalah pelanggaran tauhid kepada Allah. Maka melalui antologi esai “Khotbah di Dalam Istana” ini, ia menggemakan visi pembebasan jiwa. Islam, semestinya memerdekakan. Dan baginya, jalan pemerdekaan itu, adalah apa yang disebut sebagai jalan kenabian.
Gaza sebagai Cermin
Gaza menunjukkan kepada dunia bagaimana brutalitas telah mencapai level berikutnya. Melalui genosida yang disiarkan langsung, dunia dilanda kengerian, sekaligus kegagapan untuk bersikap. Bagi Farah ini adalah konsekuensi dari dekadensi tatanan kolonialisme utamanya konsep negara-bangsa.
Eksperimen negara-bangsa nyatanya melahirkan tragedi penindasan minoritas, hingga yang paling parah, pembersihan etnis di Palestina. Dan pada kondisi tersebut, para pemimpin Arab malah menyerahkan martabat dan kehormatan mereka kepada penjajah. Farah menilai, tatanan dunia Islamofobik ini telah membawa pada Era Interniran Muslim yang kita saksikan tidak hanya di Gaza tapi juga kamp-kamp Uighur di China, pembantaian Muslim di India, genosida Rohingya, penderitaan warga Kashmir, serta pemboman terhadap anak-anak tak berdosa di Irak, Afghanistan, dan Suriah. (h. 18)
Sementara itu, Lien Iffah Naf’atu Fina, editor buku ini, menyebut kolonialisme telah menciptakan talbis (penyamaran), dengan memperkenalkan kategori-kategori seperti “moderat”, “radikal”, “aman”, “berbahaya” dan seterusnya. Konsep kesalehan ditundukkan sesuai aspirasi kolonial. Farah membeberkan bagaimana tasawuf yang semestinya bagian integral dalam praktik Islam, didemonisasi oleh kolonial dengan label sekte-mistik.
Adalah sebuah fakta menyedihkan bagi Farah melihat para sufi hari ini yang memilih pasif dan eskapis. Mereka menjadi aib bagi keberanian moral, ketika pada abad 19 tarekat justru menjadi motor pemberontakan pada kolonial. Di buku ini Farah mengidentifikasi kiprah pemberontakan wali di berbagai belahan dunia: sufi Naqsabandiyah dari Asia Tengah melawan Kekaisaran Rusia, tarekat Qadiriyah di Aljazair dan sufi Tijaniyah di Afrika Utara menantang kolonisasi Prancis, tarekat Sanusiyah di Libya melawan penjajahan Italia, dan seterusnya. Kita juga tahu, kisah Diponegoro dan Perang Jawa, lekat dengan ajaran tarekat. Bagi Farah, apa itu tasawuf jika bukan ekspresi tertinggi dan terbaik dari nilai-nilai Islam tentang keadilan, mencegah kemungkaran, dan menegakkan kebaikan hanya demi Allah? (h. 27)
Islam hari ini adalah Islam yang telah kehilangan ruhnya, kata Farah. Kesalehan lebih bersikap performatif, sebagaimana dia menumpahkan kemuakan pada Muhammad bin Salman dan keluarga Al-Saud, lebih jauh lagi pada rezim Yazid bin Muawiyah, algojo dalam peristiwa Karbala. Farah yang seorang Sunni, memvonis mereka telah membuat Islam kehilangan esensinya sebagai kode moral. Dan justru secara kolektif menerima mentalitas kawanan domba. (h. 34)
Judul buku yang merupakan kumpulan esai Farah di Substack ini, terinspirasi dari pidato Sayyidah Zainab, cucu Rasulullah, ketika menjadi tawanan setelah pembantaian Karbala. Di dalam istana Yazid bin Muawiyah, ia menyampaikan pidato menggugah yang berangkat dari jiwa merdeka, menolak takluk pada tiran. “Etos Zainabiyah” inilah yang perlu ditumbuhkan kembali, usul Farah. Muslim harus kembali menemukan hubungan yang hidup dengan Nabi Muhammad SAW, sebagai inti spiritual Islam.
Baca juga: Mengapa Ronggeng Dukuh Paruk Lebih Dekat dengan Kitab Taubat?
Jalan Kenabian sebagai Metode Dekolonisasi
Kenabian adalah tali penghubung antara Ketuhanan dan kemanusiaan. (h. 7) Masalahnya, banyak muslim hari ini menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai realitas yang jauh. Islam menjadi kering dan kehilangan ruhnya karena hubungannya dengan “Al-Qur’an Berjalan” (Nabi Muhammad) tidak lagi bersifat hidup, sebagaimana hubungan para sahabat dengan beliau dulu, yang hati mereka mengalami transformasi hanya dengan berada di dekatnya. (h. 12)
Ekspresi cinta memang tidak pernah habis ditemukan melalui pelbagai seremoni dan pembelaan membabi buta pada setiap “penistaan” kepada Nabi Muhammad SAW. Tapi sejauh mana upaya Muslim mengenalnya? Menghidupkan hubungan dengan Rasulullah adalah menghayati setiap laku dalam risalah kenabiannya. Mengenalnya berarti menangguhkan nafsu, ego, dan politik identitas. (h. 7) Dan yang terpenting adalah, mampu membebaskan jiwa, memerdekakan dari penghambaan selain kepada Allah. Hingga pada akhirnya, mampu mengejawantahkan makna berislam sebagai kata kerja, berislam sebagai tindakan. Khususnya dalam konteks melawan dominasi kolonialisme.
Pertanyaan yang penting diajukan adalah, mengapa Farah membaca krisis global hari ini sebagai krisis dunia Islam? Lebih lanjut lagi, mengapa pula keimanan yang menjadi solusinya?
Yang menarik dari buku ini, Farah dengan tegas menyatakan genosida di Palestina adalah juga merupakan perang agama. (h. 321) Pilihan sudut pandang yang cenderung dihindari atau bahkan ditakuti oleh kelompok sekuler. Argumen Farah, bagaimanapun, Islam adalah agama mayoritas yang dianut oleh rakyat Palestina. Tanpa keimanan mereka sebagai jangkar, rakyat Gaza tidak akan mampu bertahan satu hari pun menghadapi genosida brutal ini. (h. 321)
Perubahan cara pandang ini juga penting untuk untuk melihat dimensi yang lebih luas ketimbang berfokus pada aspek politik semata. Bahwa ini adalah perang terhadap Ketuhanan itu sendiri, terhadap moralitas manusia, terhadap Kebajikan Abrahamik, dan terhadap warisan kenabian. (h. 322)
Jalan Kenabian tidak hanya ia tawarkan sebagai penggugah umat Muslim. Tetapi juga tamparan bagi rezim penjajah: apakah ini ajaran sejati yudaisme dan Musa? Apakah ini prinsip dan nilai dari agama-agama Abrahamik? Apakah ini jejak langkah Yesus, yang ia sendiri adalah seorang Yahudi Palestina? (h. 322)
Pertanyaan selanjutnya, apabila Farah membayangkan sebuah revolusi keimanan dan solidaritas Muslim, apakah ia sedang mengarah pada supremasi Islam?
Jawabannya adalah tidak. Pembelaan terhadap Palestina telah lama dibingkai dalam gerakan Islam politik tertentu sehingga justru membuat banyak dari kalangan Muslim menarik diri dan antipati. Menurut Farah, pembuktian diri, sikap defensif, keberagamaan yang tertutup tidak menginspirasi karena tidak berakar pada kebenaran dan ketulusan. (h. 7) Yang diperlukan adalah imperatif makrifat: menjadi arif, mengenal Allah dan bertindak dari sumber pengalaman Ilahi. (h. 72)
Baca juga: Melihat Syi’ah Lebih Dekat
***
Membaca “Khotbah di Dalam Istana” adalah membaca sebuah tawaran sudut pandang baru: ketika kritik sosial dilemparkan dengan jangkar spiritualitas. Nyatanya kedua hal tersebut dapat dan sangat penting dijalin. Dengan menggunakan Gaza sebagai lensa, ia menagih keimanan dunia Muslim secara lebih radikal untuk kemudian menolak segala bentuk kompromi dengan penjajah.
Islam dalam kacamata Farah adalah sebuah metode pembebasan jiwa. Tanpa mengatakannya secara langsung, ia sebenarnya sedang mengusulkan salah satu resep dekolonisasi, sebuah isu yang kini sedang hangat-hangatnya diperbincangkan.
Buku ini adalah bacaan yang indah, sekaligus tidak mudah. Memahaminya memerlukan kejelian, agar pesan dekolonisasi di sini tidak salah diinterpretasi sebagai Islamisme. Poin pentingnya adalah bagaimana agar keberislaman tidak mengalineasi kita dari problem struktural. Namun sebaliknya, membebaskan kita untuk mengimajinasikan tatanan dunia baru.
Kumpulan esai “Khotbah di Dalam Istana” ini disusun secara periodik dan terasa bergerak dari yang reflektif menuju lebih teoritis. Mungkin karena Farah memulai renungan-renungan dalam blognya dengan anonim, sebelum ia memunculkan identitasnya dan mulai banyak berbicara di forum-forum (sebagian esai di sini adalah salinan tertulis dari wawacara dan paparannya di berbagai ruang). Di samping itu, membaca antologi ini juga menggerakkan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar kepada diri sendiri: mengapa dan untuk apa aku berislam?
Baca juga: “My Garden Over Gaza”: Yang Subtil Tapi Juga Terang untuk Anak-Anak




