Skip to content
Budaya
Beranda/Budaya/Jazz Arab sebagai Ruang Perjumpaan Budaya

Jazz Arab sebagai Ruang Perjumpaan Budaya

3 Kali Dibaca
Bagikan:
Jazz Arab sebagai Ruang Perjumpaan Budaya

Ringkasan Jazz Arab sebagai Ruang Perjumpaan Budaya

Yazz Ahmed melalui album A Paradise in the Hold mengeksplorasi identitas ganda British-Bahraini dengan memadukan terompet jazz, vokal Arab, dan elemen elektronik. Karya ini tidak sekadar musik, melainkan ruang perjumpaan budaya yang mengangkat narasi spiritualitas sufi serta perlawanan terhadap bias gender dan stereotip Timur Tengah di dunia musik internasional.

Genre ini juga menjadi wahana untuk menampilkan keindahan peradaban Arab, mulai dari musiknya sendiri hingga spiritualitas Islam dan filsafat sufi yang sering menopangnya.

Yazz Ahmed menghabiskan 10 tahun untuk merampungkan album terbarunya, A Paradise in the Hold. Ia terbang ke Bahrain, menyusuri kisah Siduri, dewi purba Mesopotamia yang oleh sebagian ilmuwan diyakini pernah menghuni pulau yang kini menjadi Bahrain. Dari perjalanan itu lahir karya berdurasi 70 menit dengan paduan terompet jazz, vokal berbahasa Arab dan Inggris, serta lanskap suara elektronik.

Ahmed sendiri mengaku terkejut melihat betapa luas sambutan publik terhadap albumnya. Ia hanya menulis musik yang benar-benar ia minati. Namun, respons hangat itu justru memberinya keberanian untuk membagikan kisah hidupnya secara lebih terbuka, termasuk pengalaman masa kecil yang terbelah di antara dua tanah air.

Ahmed pindah dari Bahrain ke Inggris pada usia 9 tahum, awal dekade 1990-an. Di sana, ia berhadapan dengan pandangan sempit terhadap orang Timur Tengah. Ia sempat menyembunyikan identitas Bahraininya sendiri. Seiring waktu, sikap itu berubah total. Kini Ahmed justru merayakan identitas ganda British-Bahrainin-nya, sekaligus menjadikannya cara halus melawan bias gender dalam dunia jazz yang gemar melabeli musisi perempuan dengan sebutan seperti “pemain terompet perempuan”.

Musiknya pun punya warna tersendiri. Kebanyakan musisi jazz Arab mengambil ilham dari Mesir atau kawasan Mediterania Timur. Ahmed justru menoleh ke tradisi Bahrain, sebuah khazanah campuran dari Asia Selatan, Iran, Afrika Timur, dan kawasan Arab lain, yang kental dengan nyanyian spiritual meski jarang bernuansa religius secara langsung.

Baca juga: Baiklah ada Haemin Sunim, Tapi Muslim Muda Perlu Belajar Mindfulness dari Sahl Al-Tustari

Tantangan terbesarnya justru bersifat teknis dengan menghadirkan quartertone atau nada-nada biru khas musik Arab, pada terompet yang lahir dari tradisi harmoni Barat. Solusinya, ia meminjam pendekatan seorang penyanyi yang menghidupkan vibrato sambil membayangkan cara bernyanyi Fairuz, seorang legenda musik Lebanon.

Akar jassa (جَسَّ) ke Jazz

Sebelum sampai ke Yazz Ahmed, ada baiknya menilik ke belakang bahwa pertautan jazz dengan musik Arab sebetulnya sudah berlangsung selama lebih dari satu abad. Bahkan, kata jazz sendiri menyimpan misteri asal-usul. Pada tahun 1939, musikolog Henry Goerge Farmer memberi dugaan kuat bahwa kata ini berasalh dari akar Arab jaz’, yang menjalar lewat Sudan Barat hingga sampai ke tanah tempat perdagangan budak Amerika berlangsung.

Musisi eksperimental Pat Thomas kemudian memperkuat dugaan ini dengan merujuk kata kerja Arab جَسَّ (jassa), yang berarti menyingkap sesuatu lewat sentuhan. Metafora ini pas mencandrakan cara kerja jazz dengan meraba subjeknya secara taktil, jauh sebelum menjelaskannya secara intelektual.

Jejak sejarah yang lebih konkret terlihat pada masa perdagangan translantik. Banyak Muslim Afrika Barat dipaksa menyeberang ke Amerika, dan sebagian di antaranya, seperti ulama Fula Omar ibn Said, sangat fasih berbahasa Arab. Para sejarawan tetap berhati-hati menjaga proporsi saat menilai pengaruh langsung budaya Afrika pada jazz awal. Meski begitu, bahasa Arab dan budaya Islam tetap tertanam dalam DNA musik diaspora Afrika di Amerika, termasuk jazz itu sendiri.

Selama beberapa dekade, dunia Arab hanya muncul dalam lagu jazz sebagai bumbu eksotis belaka, seperti pada standar 1921 The Sheik of Araby yang sarat klise orientalis. Persilangan yang lebih sungguh-sungguh baru terjadi menjelang akhir 1950-an, seiring ketertarikan musisi Afrika-Amerika pada spiritualitas Timur sebagai penawar ketimpangan rasial era Jim Crow. Banyak dari mereka memeluk Islam dan mengambil nama Arab, meski minat pada Islam itu sendiri belum tentu berujung pada ketertarikan mendalam terhadap tradisi musik Arab.

Sosok kunci dalam babak ini adalah Ahmed Abdul-Malik, pemain bas ganda sekaligus oud. Sejak kecil ia akrab dengan musik diaspora Arab di New York. Lalu atas dorongan John Coltrane, ia belajar oud dari para pengajar asal Mesir. Dua rekamannya, Jazz Sahara (1958) dan East Meets West (1960), menjadi contoh paling awal dari genre jazz Arab, menghadirkan perkusi Arab, qanun, dan biola dari musisi diaspora Palestina serta Lebanon berdampingan dengan instrumentasi jazz konvensional.

Baca juga: Saat Konser Menjadi Tempat Zikir: Fenomena Lagu “33x” dari Perunggu 

Melintasi Zaman, Melintasi Benua

Estafet ini berlanjut lewat Herbie Mann, bandleader Amerika keturunan Yahudi Eropa Timur. Pada 1967 ia merilis Impressions of the Middle East, yang mempertemukan musisi jazz Amerika dengan pemain qanun Mesir dan musisi Armenia-Amerika dalam satu rekaman.

Sementara itu, di Mesir sendiri, mucul Salah Ragab, seorang perwira militer sekaligus penabuh drum jazz. Pada 1971, saat rombongan Sun Ra dan Arkestranya singgah di Kairo dan instrumen mereka tertahan, Ragab meminjamkan peralatan penggantinya. Persahabatan itu melahirkan karya yang memadukan big band jazz, psikedelia antariksa, dan orkestrasi Arab. Titik ini penting karena menandai momen ketika jazz Arab mulai tumbuh langsung dari tanah Arab sendiri.

Memasuki dekade 1990-an kolaborasi lintas benua kian ramai. Salah satu titik balik personal bagi Yazz Ahmed sendiri adalah album Blue Camel (1992) karya pemain oud Lebanon, Rabih Abou-Khalil. Rekaman itulah yang pertama kali meyakinkannya bahwa jazz dan musik Arab sanggup berpadu secara utuh.

Warisan itu terus bergulir hingga hari ini. Amir El-Saffar merangkai maqamat Arab ke dalam jazz Amerika. Ibrahim Maalouf menafsir ulang lagu0lagu UmmKulthoum. Naissam Jalal membawa nuansa kontemplatif lewat suling. Band SANAM asal Lebanon menggali sisi free jazz yang lebih liar, juga Dirar Kalash dari Palestina mendorong genre ini ke wilayah eksperimen yang paling menyentak.

Musik adalah Perlawanan yang Halus

Dari perjalanan panjang ini, satu benang merah terlihat jelas bahwa jazz Arab lahir dari pengalaman migrasi, pertukaran budaya, dan keterbukaan terhadap pengaruh baru. Genre ini juga menjadi wahana untuk menampilkan keindahan peradaban Arab, mulai dari musiknya sendiri hingga spiritualitas Islam dan filsafat sufi yang sering menopangnya.

A Paradise in the Hold meneruskan warisan ini lewat caranya sendiri. Improvisasi tanduk yang mengalir mengingatkan pada era Bitches Brew Miles Davis. Tepuk tangan berpolirtme rumit menghadirkan suasana perayaan pernikahan Arab. Sampel nyanyian rakyat Bahrain berbaur mulus dengan elektronika dan melodi yang terasa seperti mimpi.

Bagi Ahmed, musik ini juga menjadi medium untuk menegaskan posisi perempuan Arab sebagai pencipta karya, melampauai citra objek eksotis yang lazim dilekatkan pada mereka. Di tengah zaman ketika xenofobia terhadap dunia Timur kembali menguat di Barat, dan kekerasan kolonial masih menyambangi dunia Arab, jazz Arab hadir sebagai bentuk kebudayaan yang berharga untuk menggugat prasangka semacam itu.

Sejarah niscaya membuktikan bahwa jazz selalu hadir dari pergulatan sekaligus kebebasan berekspresi. Melalui  A Paradise in the Hold, Yazz Ahmed menegaskan kembali kebenaran itu, sambil menuliskan babak baru miliknya sendiri.

Baca juga: Harmoni Malam: Relaksasi dengan Musik Islami untuk Atasi Insomnia

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Apa yang dimaksud dengan Jazz Arab dalam konteks karya Yazz Ahmed?
Jazz Arab adalah genre yang memadukan elemen musik tradisional Arab, spiritualitas sufi, dan filsafat dengan struktur musik jazz modern, menciptakan ruang dialog budaya yang kaya.
Bagaimana Yazz Ahmed merefleksikan identitasnya dalam musik?
Yazz Ahmed merayakan identitas ganda British-Bahraini dengan memasukkan narasi sejarah, bahasa Arab, dan pengalaman personalnya ke dalam komposisi jazz yang ia ciptakan.
Apa peran spiritualitas sufi dalam musik Jazz Arab?
Spiritualitas sufi sering menjadi landasan filosofis dalam Jazz Arab, memberikan kedalaman makna dan lanskap suara yang kontemplatif dalam komposisi musiknya.
Bagaimana Yazz Ahmed melawan bias gender melalui musiknya?
Ia menolak pelabelan gender dalam dunia jazz dengan fokus pada kualitas musikalitas dan narasi identitas yang kuat, sehingga melampaui stereotip musisi perempuan.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini