Skip to content
Tsaqafah.id Suara Muslim Muda
Ikuti Kami

© 2026 Tsaqafah.id

Kolom
Beranda/Kolom/Bendera Bajak Laut dan Timbangan Emas Umar bin Khattab

Bendera Bajak Laut dan Timbangan Emas Umar bin Khattab

203 Kali Dibaca
Bagikan:
Bendera Bajak Laut dan Timbangan Emas Umar bin Khattab

Perlawanan terhadap ketidakadilan dan kemungkaran punya banyak bentuk: aksi nyata, suara kritis, atau minimal penolakan di hati.

Tsaqafah.id – Beberapa waktu lalu, di tengah hiruk-pikuk aksi jalanan yang penuh dengan teriakan tuntutan, ada satu pemandangan yang bikin banyak orang spontan nyengir. Di antara lautan spanduk bertuliskan kritik sosial dan poster dengan angka-angka inflasi, berkibar sebuah bendera hitam dengan gambar tengkorak tersenyum, lengkap dengan topi jerami khas kapten bajak laut paling terkenal di dunia anime: Monkey D. Luffy dari One Piece.

Bukan di Comic-Con, bukan juga di festival cosplay. Justru bendera itu muncul di tengah kerumunan massa yang sedang menyuarakan keresahan soal korupsi, harga-harga yang makin nggak masuk akal, dan janji-janji politik yang terasa makin hambar.Reaksi publik pun terbelah. Ada yang melihatnya sebagai ide brilian dan kreatif: “Wih, keren! Kritik sosial yang relate banget sama anak muda.” Tapi ada juga yang nyinyir: “Apaan sih? Ini kan cuma kartun.”

Komentar terakhir ini, tentu saja, mengabaikan satu fakta penting: di balik gambar tengkorak tersenyum itu ada simbol klasik yang sangat relevan dengan situasi hari ini, bajak laut yang bebas, tidak tunduk pada aturan yang busuk.

Baca juga Ketika Ruang Publik Menyempit: Pelajaran dari Pati

Kalau dipikir-pikir, memang pas sekali. One Piece bercerita tentang Luffy dan kru bajak lautnya yang melawan sistem pemerintahan dunia yang korup, penuh rahasia, dan sering memihak pada mereka yang berkuasa. Pesannya jelas: kebebasan, solidaritas, dan keberanian melawan ketidakadilan. Tidak heran jika simbol itu nyantol di hati generasi sekarang, terutama Gen Z, yang mulai jengah melihat kenyataan politik dan ekonomi yang seolah stagnan.

Timbangan Emas di Masa Khalifah Umar bin Khattab

Tapi simbol perlawanan seperti ini bukan hal baru. Jauh sebelum Luffy ada di layar kaca, di masa Khalifah Umar bin Khattab, ada “simbol” yang bikin para pedagang nakal gemetar: timbangan emas. Umar dikenal tegas soal kejujuran dagang. Kalau ada pedagang yang curang, memanipulasi timbangan, atau memainkan harga seenaknya, Umar tidak segan menegur bahkan mempermalukan mereka di pasar.

Pasar Madinah di bawah Umar bukan hanya tempat jual beli, tapi juga sekolah moral publik. Aturannya jelas: harga transparan, transaksi adil, dan bebas dari praktik riba. Bukan menjadi hal yang langka, pedagang besar dan kecil berjualan di tempat yang sama tanpa takut dimonopoli oleh kelompok tertentu. Orang miskin tidak tercekik, dan yang kaya tidak seenaknya menindas.

Sekarang, coba bandingkan. Kalau di masa Umar, timbangan emas adalah simbol keadilan ekonomi, di masa sekarang simbol itu bisa berupa bendera anime. Bedanya cuma pada kemasan, bukan esensinya. Baik di abad ke-7 maupun abad ke-21, yang diperjuangkan sama: melawan ketidakadilan, memperjuangkan sistem yang sehat, dan menjaga keberpihakan pada rakyat kecil.

Yang menarik, Gen Z punya cara unik untuk menyampaikan kritiknya. Mereka memadukan pop culture, meme, dan fandom menjadi alat komunikasi politik. Kritik disampaikan lewat humor, parodi, dan visual yang gampang viral di media sosial. Strategi ini memang kadang terlihat main-main, tapi justru karena itulah ia efektif. Pesan yang dibungkus dengan budaya populer bisa nyusup ke obrolan santai di warung kopi, ke meja makan rumah, hingga masuk ke grup WhatsApp keluarga.

Masalahnya, tidak semua orang paham. Ada yang menilai simbol seperti bendera Luffy di aksi jalanan sebagai tindakan “merendahkan negara” atau “tidak menghargai bendera resmi.” Padahal kalau dilihat lebih dalam, ini bentuk satir tingkat tinggi, bukan penghinaan. Satir bekerja dengan cara membungkus kritik dalam kemasan yang tidak biasa, membuat orang berpikir ulang, sekaligus tertawa getir.

Meski begitu, kita juga harus hati-hati. Simbol hanyalah pintu masuk. Setelah perhatian publik tercuri, langkah berikutnya harus lebih konkret. Misalnya, mengedukasi masyarakat tentang ekonomi yang bersih, meningkatkan literasi keuangan yang bebas dari praktik zalim, dan menumbuhkan keberanian untuk menolak budaya sogok-nyogok yang sudah mengakar. Kalau tidak, semua itu akan berakhir hanya sebagai foto keren di media sosial, yang besok dilupakan.

Baca juga Nganggur.. Kapan Kita sudahi?

Di sini, kita bisa mengambil pelajaran dari hadits Rasulullah ﷺ:”Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya — dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim No. 49)

Hadits ini mengajarkan bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan dan kemungkaran punya banyak bentuk: aksi nyata, suara kritis, atau minimal penolakan di hati. Generasi sekarang mungkin memilih “lisannya” lewat media sosial dan simbol kreatif. Tapi ujungnya tetap: harus ada upaya nyata mengubah keadaan.

Mungkin yang kita butuhkan sekarang adalah kombinasi dua pendekatan. Pertama, semangat bebas dan kreatif ala bajak laut Topi Jerami: berani melawan sistem yang korup, solidaritas kuat di antara sesama, dan keberanian mengarungi “laut” penuh risiko. Kedua, integritas dan ketegasan ala Umar bin Khattab: memastikan aturan ditegakkan, keadilan ekonomi dijaga, dan yang lemah dibela.

Karena pada akhirnya, yang kita lawan bukan sekadar figur penguasa atau pejabat tertentu. Yang jauh lebih penting adalah melawan sistem yang membuat orang jujur kesulitan bertahan, sementara orang curang malah terus berjaya.

Simbol bisa berubah sesuai zaman: dari timbangan emas di Pasar Madinah, ke bendera anime di jalanan kota. Tapi nilai yang diperjuangkan harus tetap sama — keadilan, kejujuran, dan keberpihakan pada rakyat kecil.

Wallahu a’lam.

Bagikan Artikel Ini

Ditulis oleh: Rifka Putri Ramadhanty

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam, Universitas Airlangga Minat/kajian : Ekonomi Islam & Keuangan Syariah, Isu Sosial-Budaya Kontemporer, Integrasi Nilai Islam dalam Perubahan Sosial

Lihat Semua Tulisan