Beberapa waktu lalu saya memperhatikan seorang remaja di ruang tunggu sebuah stasiun. Jarinya terus bergerak menggulir layar. Video yang muncul silih berganti. Ada potongan dakwah tentang akhir zaman, cuplikan nasihat tentang dosa, lalu perdebatan soal halal dan haram. Masing-masing tak sampai semenit. Selesai satu, muncul yang lain.
Saya tidak tahu berapa banyak ilmu yang ia peroleh hari itu. Yang saya tahu, agama kini datang kepada banyak orang dengan cara yang sangat berbeda dibanding satu atau dua dekade lalu.
Perubahan itu tampak biasa saja. Bahkan mungkin dianggap kemajuan. Bukankah semakin mudah seseorang mengakses pengetahuan agama, semakin baik? Bukankah teknologi membuka jalan dakwah yang lebih luas? Saya pernah berpikir demikian.
Namun belakangan muncul kegelisahan yang sulit saya abaikan. Jangan-jangan yang sedang kita saksikan hari ini bukan hanya dakwah yang memanfaatkan teknologi, melainkan dakwah yang mulai dibentuk oleh teknologi itu sendiri.
Ketika Ukuran Keberhasilan Berubah
Di banyak forum, kita sering mendengar bahwa dakwah digital adalah jawaban atas tantangan zaman. Pernyataan itu tidak sepenuhnya salah. Media sosial memang memungkinkan seorang dai menjangkau jutaan orang tanpa harus berpindah kota.
Saya mulai curiga ketika percakapan tentang dakwah semakin sering dipenuhi angka. Berapa juta tayangan. Berapa ribu pengikut baru. Berapa banyak video yang masuk beranda pengguna.
Seorang guru mengaji di kampung yang mengajar sepuluh anak setiap sore mungkin tidak akan pernah viral. Namanya tidak muncul dalam rekomendasi algoritma. Wajahnya tidak dikenal publik.
Tetapi dari tangannya bisa lahir generasi yang jujur, santun, dan memiliki kepekaan sosial. Bukankah itu juga keberhasilan dakwah?
Ironisnya, di ruang digital kita sering terjebak menganggap sesuatu penting hanya karena ramai diperbincangkan. Apa yang banyak ditonton dianggap berpengaruh. Apa yang viral dianggap bernilai.
Ada video agama yang ditonton jutaan kali hanya karena memicu kemarahan. Ada pula kajian yang sepi penonton tetapi mengubah cara pandang seseorang terhadap hidupnya. Perbedaan itu sering luput kita sadari.
Baca juga: Dakwah yang Menjadi Panggung Popularitas: Antara Niat, Pengaruh, dan Tantangan Zaman
Agama dalam Selera Algoritma
Saya tidak termasuk orang yang percaya bahwa teknologi adalah musuh agama. Sejarah justru menunjukkan bahwa dakwah selalu memanfaatkan sarana yang tersedia pada zamannya.
Masalah muncul ketika logika algoritma diam-diam mulai menentukan bentuk pesan yang disampaikan. Algoritma menyukai sesuatu yang cepat menarik perhatian. Ia menyukai konflik, kejutan, kontroversi, dan emosi yang meledak. Semakin besar reaksi pengguna, semakin besar peluang sebuah konten disebarkan.
Di sinilah dakwah menghadapi ujian yang tidak sederhana. Sebab banyak ajaran agama justru mengajarkan kebalikannya. Agama mengajak manusia bersabar. Algoritma menginginkan kecepatan. Agama mengajarkan kehati-hatian. Algoritma menyukai respons spontan.
Agama sering membutuhkan penjelasan yang panjang. Algoritma lebih menyukai potongan pendek yang mudah dibagikan. Akibatnya, tidak sedikit pesan keagamaan yang akhirnya disesuaikan dengan selera platform. Judul dibuat semakin tajam. Potongan ceramah dipilih yang paling mengundang reaksi. Nuansa dan konteks perlahan disingkirkan karena dianggap mengurangi daya tarik.
Saya melihat kecenderungan ini semakin sering terjadi. Persoalan yang sebenarnya rumit disederhanakan menjadi dua kubu. Perbedaan pendapat dipentaskan seperti pertandingan. Orang lebih mudah terpancing untuk memilih pihak daripada memahami masalah.
Baca juga: Ulama Su’ dan Krisis Keteladanan
Yang Hilang dari Layar
Laporan-laporan digital beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa masyarakat menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di internet dan media sosial. Fakta ini menjelaskan mengapa ruang digital menjadi arena dakwah yang sangat strategis.
Namun angka-angka itu tidak mampu menjawab satu pertanyaan penting. Apa yang hilang ketika agama semakin banyak dikonsumsi melalui layar? Menurut saya, yang paling terancam adalah kedalaman.
Tidak semua hal dapat dipadatkan menjadi video satu menit. Tidak semua persoalan selesai dengan satu kutipan. Tidak semua kebijaksanaan bisa disampaikan melalui judul yang provokatif.
Saya teringat pada pengajian-pengajian kecil yang pernah saya ikuti. Ada saat ketika jamaah bertanya panjang. Ada perdebatan. Ada kebingungan. Ada ruang untuk salah paham lalu diluruskan kembali. Proses semacam itu sulit ditemukan dalam arus konten yang bergerak tanpa henti.
Layar memang mampu mempercepat penyebaran pesan. Tetapi ia tidak selalu mampu memperdalam pemahaman. Karena itu, tantangan terbesar dakwah hari ini bukanlah bagaimana menjadi viral. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga substansi di tengah godaan popularitas.
Kita tentu membutuhkan dakwah yang hadir di ruang digital. Tidak ada jalan kembali ke masa lalu. Tetapi kita juga perlu waspada ketika angka mulai mengambil alih makna. Ketika tayangan dianggap lebih penting daripada pemahaman. Ketika popularitas dianggap identik dengan kebenaran.
Sebab sejarah agama tidak dibangun oleh algoritma. Ia dibangun oleh manusia-manusia yang bersedia belajar, mendengar, merenung, lalu berubah. Dan perubahan seperti itu hampir selalu berlangsung jauh lebih lambat daripada kecepatan ibu jari menggulir layar.
Baca juga: Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Pidato Imam Haris Al-Muhasibi

