Tsaqafah.id – Semenanjung Arab sebelum datangnya Islam pada sekira 610 Masehi disebut berada di masa jahiliyah. Masa ini diwarnai dengan berbagai masalah pelik seperti fanatisme antarsuku, nihilnya HAM dan penegakan hukum, penyimpangan ajaran tauhid, kemerosotan moral, hingga munculnya kembali budaya paganisme.
Ketika Jibril AS menemui Muhammad SAW di Gua Hira dan meminta untuk “membaca”, dunia Arab kala itu tidak sepenuhnya sedang di fase buta aksara. Mereka tidak sedang kekurangan orang pintar bahkan ahli kitab sekalipun. Ketika kelak sang nabi akhir zaman diutus di wilayah ini, orang-orang di sini juga bukan berarti belum pernah mendapatkan hal serupa. Sebab, berbagai nabi telah turun di wilayah ini pada masa-masa terdahulu.
Apabila percaya roda zaman berputar, masa jahiliyah bukanlah suatu fase khusus yang hanya terjadi sekali sebelum Islam datang. Ini adalah masa yang bisa datang berulang kali, di berbagai kebudayaan dan peradaban, dalam berbagai bentuk dan konteks berbeda.
Sama halnya dengan liberalisme yang menemukan bentuk baru lewat neoliberalisme, jangan-jangan jahiliyah pun begitu adanya. Apabila jahiliyah adalah suatu isme, jangan-jangan isme ini akan punya versi neo-nya.
Baca juga Mencari Makna (2): Masjid dan Peran-Peran Terlupakan
Hari ini, praktik menyembah patung batu, membunuh anak perempuan, dan perang antarsuku barangkali sudah tidak ada, minimal di sini, di tanah dengan populasi muslim terbesar di dunia. Namun, beberapa aspek seperti di masa jahiliyah nyatanya masih tetap ada, dalam wujud dan cara berbeda. Sesuai perkembangan zaman, tentu saja.
Dahulu masyarakat Arab masa jahiliyah melangsungkan perang antarsuku, hari ini kita disuguhi berbagai konflik horizontal. Bukan lagi antarsuku atau antaragama tetapi antara penganut satu keyakinan. Ego dan kebanggaan dibangun bukan lagi berlandas agama tetapi lebih sempit lagi. Bisa organisasi, bisa berdasar latar belakang tradisi. Medan perangnya bukan lagi padang pasir melainkan ruang-ruang publik, panggung dakwah, medan narasi, hingga dunia digital.
Hari ini pula, kita bisa melihat Ka’bah telah bersih dari simbol-simbol paganisme kuno. Namun, paganisme bukan melulu soal patung batu. Anggaplah dua benda ini sebagai simbolisme. Apabila Ka’bah di masa pra-Islam adalah simbol ajaran tauhid peninggalan Ibrahim, maka patung-patung batu adalah simbol nafsu dan keangkuhan manusia.
Hari ini, berhala-berhala ciptaan manusia muncul lewat berbagai bentuk dan nama baru. Mereka mengemas sisi nafsu dan keangkuhan manusia secara lebih halus dan tidak lagi frontal. Ambillah contoh, betapa para peziarah tanah suci datang bukan lagi sekadar untuk ziarah melainkan untuk memenuhi ego dan keserakahan mereka. Bisa lewat adu jumlah dan status atau para selebriti yang menjual kisah hijrah demi eksposur media. Contoh lain tentang hal ini bisa ditemukan dari berbagai pengkultusan yang dilakukan manusia terhadap aneka hal di sekitarnya.
Baca juga Menaksir Rupa Identitas Generasi Muslim Milenial
Di masa jahiliyah, bangsa Arab hidup dengan hukum rimba. Siapa kuat maka bisa menang. Hukum diciptakan oleh kelompok-kelompok kuat, sesuai kebutuhan mereka. Perlindungan diberikan lewat sistem kekerabatan. Dari sini pula muncul praktik perbudakan. Tentang hal ini, tidak perlu perbandingan rumit sebab tanah dengan populasi muslim terbesar pun sedang mengalami hal serupa. Memang tiada lagi kabilah yang kuat dan dominatif namun sistem ini digantikan oleh kedudukan sosial ekonomi. Siapa kuat, mereka bisa bertindak sesuka hati pada sesamanya, termasuk menghilangkan nyawa manusia.
Kompleksitas masalah di masa jahiliyah turut membawa pengaruh pada sistem ekonomi. Praktik riba dan gila harta adalah hal umum masa itu. Betapa umumnya hingga bayi-bayi perempuan akan dikubur hidup-hidup untuk menghindarkan peralihan harta benda ke pihak lain apabila kelak mereka menikah. Ya, hari ini memang praktik kejam itu tidak ada lagi tetapi tidak dengan praktik riba tinggi.
Kini, riba mungkin telah menjadi bagian dari kebudayaan modern. Tayangan iklan bukan lagi menawarkan produk tapi menawarkan layanan utang. Beberapa layanan tersebut memiliki bunga tinggi dan secara tidak langsung membuat banyak orang terjebak di lingkaran setan. Berapa banyak cerita bunuh diri atau keluarga yang hancur karena pinjol, misalnya.
Baca juga Islam dan Modernitas (II): Resonansi Tiga Madzhab
Diutusnya Rasulullah di tengah bangsa Arab bukan hanya membawa perubahan pada masalah keyakinan semata. Rasulullah adalah seorang politikus ulung. Di tangan beliau, berbagai masalah sosial, budaya, ekonomi, dan hukum terselesaikan. Beliau berhasil mewariskan sistem baru untuk masyarakat zaman itu sekaligus untuk penganut agama yang beliau bawa.
Hari ini, 1000 tahun lebih selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW, berbagai peninggalan tersebut menghadapi banyak tantangan. Bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam para umat beliau sendiri. Bukan lagi secara nyata namun lewat sisi formal-politis. Kontradiktif sekaligus ironis.
Dari sudut pandang agama, ada berbagai cara untuk menyebut masa-masa ini, misalnya dengan menyebutnya sebagai tanda akhir zaman atau tanda-tanda kiamat kecil. Bisa jadi pula ini tanda munculnya masa jahiliyah baru alias neo jahiliyah.
Dahulu, peradaban jahiliyah di Arab cukup beruntung karena ada nabi pungkasan yang diutus di masa jahiliyah tersebut. Lalu di masa neo jahiliyah ini, siapa yang akan membenahinya karena sudah tiada lagi nabi baru yang akan turun ke dunia?
Salah satu jawaban paling mungkin dan paling mudah ialah mengingat bahwa manusia punya peran sebagai khalifah di muka dunia, sebagai pemimpin dan pengatur, sebagai makhluk yang ditugaskan menjaga bumi, suatu peran mulia yang tidak terbatas pada alim ulama, agamawan, atau orang-orang besar semata.
Baca juga Kepemimpinan dan Tiga Pesan Rasulullah bagi Pemimpin
Lagi pula, Islam adalah agama yang menekankan pada keadilan dan kesetaraan. Semua orang bisa berlaku sebagai pemimpin dan pengatur minimal bagi bagi diri sendiri atau keluarga. Semua orang juga bisa berperan menjadi pembawa kebaikan-kebaikan kecil dengan dengan berbagai cara, kemudahan, dan fleksibilitas.
Kini, di tengah suasana masa neo jahiliyah, pilihan itu kembali ke diri masing-masing. Tatkala menggantungkan diri ke organisasi keagamaan dan agamawan kerap berakhir kecewa, ketika berharap pada pemerintah terasa lebih sulit, setidaknya kita bisa kembali mengingat peran manusia sebagai khalifah. Bukan sekadar makhluk, bukan sekadar organisme hidup, tetapi sebagai si pembawa misi kecil atas terjaganya hal-hal baik di muka bumi.
Baca juga Basyar dan Bani Adam: Telaah Makna Kata Manusia dalam Al-Qur’an

