Tsaqafah.id – Orang memang membeli dengan tujuan awal menjaga lingkungan, tetapi kemudian ia membeli lagi hingga beberapa kali karena bentuknya yang lucu dan menarik. Alhasil tetap terjadi over consumption.
“Bumi ini cukup untuk tujuh generasi, namun tidak akan pernah cukup untuk tujuh orang serakah”
Mahatma Gandhi
Ungkapan di atas terasa pas menggambarkan kondisi bumi saat ini. Eksploitasi sumber daya alam terlalu berlebihan yang berujung pada meningkatnya konsumerisme masyarakat.
Fieni Aprilia dalam podcast Sabda Bumi menjelaskan bahwa salah satu konsep penting dalam isu lingkungan adalah adanya perasaan cukup. Over consumersm membawa dampak pada perubahan iklim dan lingkungan.
Salah satunya melalui over saturasi media dengan menekankan manusia untuk membeli sesuatu yang baru untuk mengikuti trend. Hal ini membawa manusia menjadi over consumerism. Konsumsi berlebihan ini membawa dampak pada lingkungan seperti eksploitasi sumber daya alam dan limbah yang ditimbulkan sulit dibendung.
Baca Juga
- Basyar dan Bani Adam: Telaah Makna Kata Manusia dalam Al-Qur’an
- Problematika dan Solusi Krisis Lingkungan Perspektif AL-Qur’an
Pasar akan terus mengeluarkan trend baru, utamanya dalam lifestyle seperti fashion. Melalui media sosial, masyarakat terus disuguhi dengan berbagai barang dengan model dan bentuk yang lucu dan terbaru. Jika barang laku terjual, terjadilah produksi masal dengan harga murah dan tidak jelas asal produksinya dari mana.
Hal ini juga terjadi pada barang-barang yang dianggap sebagai alat untuk mencintai lingkungan. Fieni mencotohkan terjadinya penggunaan barang-barang yang dianggap sebagai produk suistainable atau pembangunan berkelanjutan, seperti tas kain untuk berbelanja atau tumbler. Barang-barang ini mengalami produksi masal karena menjadi trend.
Orang memang membeli dengan tujuan awal menjaga lingkungan, tetapi kemudian ia membeli lagi hingga beberapa kali karena bentuknya yang lucu dan menarik. Alhasil tetap terjadi over consumption.
Masyarakat membeli barang bukan karena kebutuhan tetapi lebih pada mengikuti trend atau tertarik karena bentuknya yang lucu dan menarik. Jika demikian, menurut Fieni, bagaimana bisa menjalankan suistainable tetapi tidak mengenal kata cukup?”
Baca Juga Belajar Ekologi sampai Ekofeminisme Lewat Film Animasi Ghibli “Princess Mononoke”
Dalam obrolan yang dipandu oleh Kiki Nasution selama kurang lebih 38 menit tersebut, ada konsep penting yang dibahas, yakni sikap merasa cukup. Jika dikaitkan dalam Islam, cukup juga salah satu sikap yang dibahas, bahkan disebutkan dalam ayat Al-Qur’an maupun hadis. Cukup lawan dari bersikap berlebih-lebihan.
Islam menganjurkan untuk tidak melakukan berlebih-lebihan. Bahkan berlebihan dalam beragama (ghuluw) juga tidak baik. Ada beberapa ayat yang menjelaskan mengenai berlebihan, seperti surat Al Furqan ayat 67:
وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا ٦٧
“Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya.”
Dalam Surat Al-A’raf Allah juga melarang berperilaku berlebih-lebihan dalam hal berpakaian ketika ibadah. Tentu hal ini juga masih berhubungan tentang pentingnya berperilaku cukup dalam harta.
۞ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ ٣١
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Baca Juga
Dalam Islam, perasaan cukup sering disebut sebagai qana’ah. Dalam riwayat Jabir bin Abdullah, Rasulullah menyebut qana’ah sebagai
اَلْقَنَاعَةُ كَنْزٌلاَ يَفْنَى
“Qana’ah ibaratkan harta simpanan yang tidak akan rusak”
Qana’ah merupakan kekayaan yang tidak akan habis. Qana’ah membuat batin seseorang merasa tenang dan penuh syukur. Tidak diburu oleh pemandangan manusia sekitarnya termasuk tidak merasa terburu membeli ketika melihat trend yang sedang terjadi dalam masyarakat.
Tugas menjaga kelestarian bumi adalah tugas semua manusia. Merasa cukup mungkin menjadi salah satu sikap yang dapat diterapkan untuk menjaga kelestarian bumi. Melalui perasaan cukup, manusia tidak akan tenggelam dalam konsumerisme dan kapitalisme yang membawa dampak terhadap kelestarian lingkungan melalui eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan serta limbah yang ditumbulkan.

